Pos kendali koridor utara menempati bekas gedung sekolah dasar yang ditinggalkan, di pinggir kota kecamatan. Atapnya bocor di musim hujan—dulu, saat masih ada musim hujan—dan panas seperti oven di kemarau. SMAN menyewanya murah dan memasang pendingin yang hanya menyala di ruang server. Teknisi seperti Larasati duduk di ruang depan dengan kipas angin tua yang lebih banyak menggerakkan debu daripada udara.
Larasati datang pagi-pagi, sebelum yang lain, dengan dalih mengejar laporan yang tertunggak. Itu setengah benar. Ia memang harus mengunggah laporan Menara 14. Tapi ada hal lain yang ingin ia periksa, dan ia tidak ingin ada yang melihat layarnya saat memeriksanya.
Setiap teknisi punya akses ke data lapangan menara yang mereka tangani—pembacaan sensor mentah, log operasi, status perangkat. Itu wajar; mereka butuh untuk bekerja. Yang biasanya tidak mereka buka adalah laporan curah hujan resmi yang dikirim ke pusat, ringkasan yang sudah diolah, yang menjadi dasar keputusan dan, kabarnya, dasar laporan ke kementerian. Akses ke sana ada di sistem yang sama, hanya di folder yang berbeda. Tidak ada yang melarang secara tegas. Hanya saja tidak ada yang merasa perlu.
Larasati membuka pembacaan radar curah hujan untuk koridornya, tiga bulan terakhir, lalu di sampingnya, laporan resmi yang dikirim ke pusat untuk periode yang sama. Ia menyandingkan keduanya di layar.
Awalnya tidak ada yang mencolok. Keduanya menunjukkan kemarau—garis-garis rendah, angka-angka kecil. Tentu saja. Tidak ada yang akan bodoh memalsukan kemarau menjadi hujan lebat; itu akan ketahuan oleh siapa pun yang punya mata. Tapi Larasati tidak mencari kebohongan besar. Ia mencari yang kecil.
Ia menemukannya di sektor selatan koridor—sektor yang mencakup lembah tempat Sumberalas berada. Radar lapangan mencatat beberapa gema lemah di bulan lalu: tiga, empat kejadian hujan ringan yang sebenarnya turun, tipis tapi nyata, masing-masing beberapa milimeter. Laporan resmi mencatatnya sebagai nol. Bukan diperkecil. Dihapus. Hujan tipis yang turun di sektor itu, menurut dokumen yang dikirim ke pusat, tidak pernah ada.
Sebaliknya, di sektor utara koridor—daerah perkebunan besar dekat kota—laporan resmi mencatat hujan yang sedikit lebih murah hati daripada yang ditunjukkan radar lapangan. Selisihnya kecil. Satu, dua milimeter di sana-sini. Cukup kecil untuk dianggap kesalahan pembulatan atau perbedaan instrumen. Tapi arahnya konsisten: sektor selatan selalu dibuat tampak lebih kering daripada kenyataannya, sektor utara selalu sedikit lebih basah.
Larasati menyandarkan punggung. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang ia mau akui. Satu selisih bisa kebetulan. Dua bisa kesalahan instrumen. Tapi pola yang konsisten ke satu arah, di sepanjang tiga bulan—itu bukan kebetulan, dan bukan kesalahan. Itu sengaja.
Untuk apa? Itu bagian yang tidak ia mengerti. Memalsukan data curah hujan beberapa milimeter terdengar seperti usaha yang sia-sia. Tidak ada yang untung dari membuat satu lembah tampak sedikit lebih kering. Kecuali ada yang membaca angka itu untuk sesuatu—keputusan, alokasi, sesuatu yang nilainya bergantung pada apakah suatu daerah disebut kering atau tidak.
Ia tidak punya jawaban. Yang ia punya hanya naluri yang menolak diam.
Larasati menyalin data—pembacaan radar lapangan dan laporan resmi untuk tiga bulan, seluruh koridor—ke kartu memori kecil yang ia simpan di kantong dalam tasnya. Tangannya sedikit gemetar saat melakukannya, dan ia membenci dirinya karena gemetar. Aku cuma menyimpan angka, katanya pada diri sendiri. Angka yang aku punya hak untuk lihat. Tapi ia tahu itu pembenaran, dan ia tahu kenapa ia membutuhkannya.
Pintu ruang server terbuka dan Pak Damar masuk, membawa kopi dalam gelas kertas dan map laporan di ketiaknya. Atasan Larasati itu lelaki paruh baya dengan perut yang membesar perlahan selama bertahun-tahun di belakang meja, dan wajah yang lelah jauh sebelum hari dimulai. Ia bukan orang jahat. Larasati selalu menganggapnya begitu—orang yang ingin pensiun dengan tenang dan tidak suka masalah.
"Pagi sekali, Laras," katanya, melirik layar Larasati yang sudah ia tutup dengan refleks cepat. "Rajin amat."
"Mengejar laporan Empat Belas, Pak. Sensor dosisnya saya ganti kemarin."
Pak Damar mengangguk dan duduk di mejanya, tapi tidak langsung bekerja. Ia menatap Larasati agak lama, dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Kamu buka laporan curah hujan sektor tadi?"
Pertanyaan itu datang terlalu santai. Larasati menjaga wajahnya tetap datar. "Cek silang dengan radar lapangan, Pak. Saya kira sensor menara saya yang error, ternyata bukan."
Pak Damar menyeruput kopinya. Lama. "Laras, dengar. Kamu teknisi bagus. Yang terbaik di koridor ini, jujur. Tanganmu enak, otakmu jalan." Ia meletakkan gelasnya. "Tapi pekerjaan kita itu cuma menjaga menara tetap hidup. Angka-angka yang naik ke pusat, itu urusan orang lain. Ada divisi sendiri untuk itu. Ada yang lebih pintar dari kita digaji untuk mengurusnya."
"Saya cuma—"
"Tidak usah baca yang bukan jatahmu." Suaranya tidak keras. Justru itu yang membuatnya menakutkan. Pak Damar mengatakannya dengan nada seorang ayah yang memperingatkan anaknya menjauh dari sumur tua—bukan karena marah, tapi karena tahu ada yang jatuh ke dalamnya sebelum ini. "Aku sudah lama di sini, Laras. Aku tahu mana pertanyaan yang membuat kita dibayar, dan mana pertanyaan yang membuat kita dipulangkan. Kamu punya ibu, punya adik. Pikirkan itu."
Larasati menelan ludah. "Ya, Pak."
Pak Damar mengangguk, lega, dan akhirnya membuka mapnya seolah percakapan itu tidak pernah terjadi. Tapi Larasati merasakan kartu memori kecil di dalam tasnya seperti bara. Pak Damar tidak bertanya kenapa angka-angka itu berbeda. Ia tidak terkejut. Ia tidak penasaran. Yang ia lakukan hanya memperingatkan Larasati untuk berhenti melihat. Dan itu, lebih dari selisih milimeter mana pun, yang membuat Larasati yakin bahwa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan—sesuatu yang bahkan atasannya yang lelah dan menghindari masalah pun tahu lebih baik untuk tidak disentuh.