Auditor itu datang pada Selasa pagi, mengendarai mobil dinas berpendingin yang tampak salah tempat di halaman berdebu pos kendali. Ia keluar dengan kemeja yang masih rapi meski sudah menempuh perjalanan jauh, membawa tablet dan tas kulit tipis, dan berkenalan dengan setiap orang seakan ia benar-benar ingin tahu nama mereka.
"Reza," katanya, menjabat tangan Larasati. Genggamannya kuat tapi tidak berlebihan. "Tim audit teknis pusat. Saya ke sini sebenarnya rutin saja—tinjauan perangkat tahunan. Jangan tegang, saya bukan orang pajak." Ia tersenyum, dan senyumnya cukup hangat untuk membuat dua teknisi muda di belakang ikut tertawa.
Larasati tidak ikut tertawa. Ia mengamati. Reza lebih muda dari Pak Damar, mungkin akhir tiga puluhan, dengan cara bicara orang kota yang terbiasa didengarkan. Tapi ada yang lain di balik keramahannya—mata yang terus bergerak, mencatat, menimbang. Orang yang ramah karena ramah itu berguna, bukan karena ramah itu mudah.
Pak Damar menyambutnya dengan antusiasme yang terasa dipaksakan. Ia menyiapkan kopi, membuka ruang rapat yang jarang dipakai, dan menunjuk Larasati untuk menemani auditor ke lapangan. "Laras yang paling paham menara-menara di koridor ini, Pak Reza. Tujuh tahun. Tidak ada baut yang tidak ia kenal."
Sepanjang hari itu Larasati mengantar Reza dari menara ke menara. Ia menjelaskan sistem dengan suara datar—nosel penyemai, tabung suar perak iodida, sensor kelembapan, panel ionisasi yang lebih banyak menghias daripada bekerja. Reza mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan sesekali mencatat di tabletnya. Pertanyaannya bagus. Terlalu bagus. Ia tahu lebih banyak tentang sistem ini daripada yang pantas diketahui seorang auditor perangkat rutin.
Di Menara 9, saat Larasati membuka panel kendali, Reza berdiri terlalu dekat, matanya menyapu layar log.
"Kamu menyimpan log lapanganmu sendiri, ya?" tanyanya, nadanya ringan. "Salinan lokal. Banyak teknisi tidak repot-repot."
Larasati menjaga tangannya tetap stabil di terminal. "Sensor di sini sering drift, Pak. Saya simpan riwayat sendiri biar bisa bandingkan. Lebih cepat ketahuan kalau ada yang rusak."
"Pintar." Reza mengangguk, tapi tidak beranjak. "Berapa lama kamu simpan? Sebulan? Setahun?"
Pertanyaan yang salah untuk diajukan jika hanya ingin tahu soal pemeliharaan. Larasati merasakan dinginnya kewaspadaan menjalar ke tengkuknya. "Tergantung kartu memorinya penuh atau tidak, Pak," jawabnya, sengaja samar. "Kadang saya hapus yang lama."
Reza tersenyum lagi, seolah jawaban itu memuaskan, dan beralih ke topik lain. Tapi Larasati tahu ia telah mencatat sesuatu. Pertanyaannya bukan tentang menara. Pertanyaannya tentang apa yang Larasati simpan.
Apakah Reza tahu soal selisih angka itu? Apakah seseorang—Pak Damar?—telah menyebut bahwa Larasati membuka laporan resmi pagi itu? Atau apakah Reza justru ke sini karena ada yang mencurigai data dipalsukan, dan ia sebenarnya mencari sekutu? Larasati tidak bisa memastikan. Dan ketidakpastian itu, ia sadari, persis yang membuat orang seperti Reza berbahaya. Ia bisa jadi penyelamat atau penjebak, dan tidak ada cara membedakannya sampai sudah terlambat.
Sore harinya, mereka melewati sektor utara koridor, dan Larasati memperhatikan sesuatu yang membuatnya melambatkan motor. Menara 3—salah satu menara di tepi perkebunan besar—dipagari dengan pagar seng baru yang belum ada bulan lalu. Sebuah genset tambahan terpasang di kakinya, dan kabel-kabel tebal membentang dari sana ke kotak peralatan yang tidak ia kenali. Tidak ada pemberitahuan tentang ini di sistem. Tidak ada perintah kerja, tidak ada catatan pemeliharaan. Menara itu seperti telah berubah fungsi tanpa ada yang memberitahunya.
"Menara itu kenapa, Pak?" Larasati bertanya, menunjuk dengan dagu. "Tidak ada di jadwal pemeliharaan saya. Tahu-tahu sudah dipagari."
Reza melihat ke arah yang ditunjuk, dan untuk sepersekian detik—begitu cepat sampai Larasati hampir meragukan ia melihatnya—senyum auditor itu memudar. "Itu di luar lingkup audit saya," katanya. Suaranya berubah, lebih datar, lebih hati-hati. "Proyek peningkatan terpisah. Dikelola langsung dari pusat. Sebaiknya tidak usah dicatat di laporanmu."
"Tidak usah dicatat?"
"Maksud saya," Reza mengoreksi diri dengan cepat, kembali memasang senyum, "bukan tanggung jawabmu. Jangan menambah beban kerja sendiri."
Mereka melanjutkan perjalanan, tapi udara di antara mereka sudah berubah. Larasati terus mencuri pandang ke menara berpagar itu lewat spion sampai tikungan menelannya. Sebuah menara yang dialihfungsikan diam-diam, di sektor yang dalam data resmi selalu dibuat tampak lebih basah dari kenyataannya. Dua kepingan yang seharusnya tidak berhubungan, kini berbaring berdampingan di kepalanya, menolak untuk terpisah.
Malam itu, di penginapan murah tempat ia menginap saat tidak pulang ke kampung, Larasati memindahkan salinan data dari kartu memorinya ke kartu kedua yang lebih kecil lagi, dan menyembunyikan yang kedua di balik lapisan dompetnya. Ia tidak tahu apakah ia sedang paranoid. Tapi ia tahu satu hal yang dipelajarinya hari ini: seseorang dari pusat sudah cukup peduli untuk datang jauh-jauh dan menanyai seorang teknisi lapangan tentang salinan log yang ia simpan. Dan orang tidak repot-repot menanyakan sesuatu yang tidak penting.