Pertanyaan tentang dosis itu tidak mau hilang dari kepala Larasati. Selama berhari-hari ia kembali padanya, di antara perjalanan dari menara ke menara, di tengah malam saat tidak bisa tidur. Kenapa menara menyemai dengan dosis dua kali lipat? Menyemai berlebihan itu membuang persediaan. Tidak ada teknisi yang melakukannya tanpa alasan. Maka pasti ada alasan—alasan yang tidak tertulis di mana pun yang bisa ia baca.
Untuk menemukannya, ia harus turun lebih dalam dari yang seharusnya: ke firmware menara itu sendiri, kode yang mengatur kapan dan bagaimana menara melepas suarnya. Sebagai teknisi lapangan, Larasati punya akses untuk membaca firmware—ia perlu untuk mendiagnosis kerusakan. Yang tidak biasa adalah benar-benar membacanya baris demi baris, mencari sesuatu yang sengaja disembunyikan di antara ribuan baris perintah rutin.
Ia melakukannya di Menara 14, sendirian, di bawah terik tengah hari saat tidak ada teknisi lain yang punya alasan berada di sana. Ia menyambungkan terminal, mengunduh seluruh firmware, dan mulai membaca. Sebagian besar adalah kode kalibrasi standar yang ia kenal seperti punggung tangannya sendiri—rutin pembacaan sensor, jadwal pelepasan, protokol komunikasi dengan pos kendali. Membosankan, familier, aman.
Lalu ia menemukannya. Sebuah modul yang tidak ada dalam dokumentasi resmi mana pun yang pernah ia terima. Modul itu menerima dua jenis perintah dari pusat. Yang pertama ia kenal: "semai"—lepaskan suar higroskopis atau perak iodida untuk membantu tetesan tumbuh dan jatuh. Tapi ada perintah kedua, dengan parameter berbeda, yang label internalnya tertulis singkat dan dingin: "dispersi."
Larasati membaca kodenya pelan-pelan, dua kali, tiga kali, memastikan ia tidak salah mengerti. Mode dispersi tidak menyuruh menara berhenti menyemai. Justru sebaliknya. Ia menyuruh menara menyemai jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan—dosis berlipat ganda, persis seperti angka yang ia lihat di log hari pertama. Tapi tujuannya terbalik. Ketika sebuah awan disemai dengan terlalu banyak inti kondensasi sekaligus, uap air yang tersedia harus dibagi ke terlalu banyak titik. Hasilnya bukan tetesan besar yang cukup berat untuk jatuh, melainkan jutaan tetesan mikro yang terlalu kecil, terlalu ringan, yang melayang bersama awan dan menguap kembali sebelum sempat menjadi hujan.
Menyemai untuk membunuh hujan. Itu yang dilakukan mode dispersi. Bukan menahan awan dengan kekuatan ajaib, bukan mendorongnya menjauh seperti tangan raksasa—tidak ada teknologi yang bisa melakukan itu, dan Larasati tahu betul. Yang dilakukannya jauh lebih halus dan jauh lebih jahat: ia membuat awan tetap utuh tapi mandul, melewati daerah target dengan membawa airnya, tanpa pernah melepaskannya, sampai awan itu mencapai tempat lain dan akhirnya pecah di sana, di tempat yang bukan target.
Larasati duduk diam di atas menara, terminal di pangkuannya, jantung berdebar di balik seragam yang basah keringat. Ia mengerti sekarang. Awan tebal yang lewat di hari pertama, indikator penyemai yang menyala hijau, radar yang datar—semua itu masuk akal. Menara 14 tidak gagal membuat hujan. Ia berhasil mencegahnya. Tepat seperti yang diperintahkan.
Tapi ia juga cukup jujur pada dirinya untuk melihat batasnya. Satu menara, satu operasi dispersi, tidak akan mengubah apa-apa. Awan yang sangat matang akan tetap pecah meski disemai berlebihan; uapnya terlalu banyak untuk dimandulkan. Dispersi hanya bekerja pada awan yang berada di ambang—yang bisa jatuh atau tidak, tergantung dorongan kecil ke arah mana pun. Pada awan seperti itu, dispersi menggeser peluang. Tidak menghapus hujan, hanya mengurangi kemungkinannya. Beberapa persen, mungkin. Tidak lebih.
Lalu kesadaran kedua datang, lebih dingin dari yang pertama. Beberapa persen, satu menara, satu hari—itu memang tidak berarti apa-apa. Tapi koridor ini punya belasan menara. Kemarau ini sudah berlangsung tiga tahun. Berapa ribu operasi dispersi yang sudah dilakukan dalam waktu itu, masing-masing menggeser peluang hujan turun beberapa persen, hari demi hari, awan demi awan? Sesuatu yang tidak berarti dalam sehari menjadi bencana dalam tiga tahun. Itulah senjatanya. Bukan satu tombol yang mematikan hujan, melainkan ribuan dorongan kecil yang tak terlihat, terakumulasi dengan sabar, sampai sebuah lembah yang seharusnya menerima hujan tipis sepanjang musim tidak menerima apa-apa sama sekali. Dan tidak ada satu pun kejadian yang cukup besar untuk dituding. Setiap awan yang tidak pecah selalu bisa disebut kebetulan. Selalu bisa disebut nasib.
Dan data—data resmi yang dipalsukan beberapa milimeter—itu yang menutupinya. Kalau ada yang membandingkan curah hujan koridor dengan koridor lain, angka yang sudah dirapikan akan menunjukkan kemarau yang wajar, kemarau yang sesuai prediksi model. Tidak ada anomali. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Siapa pun yang membuat sistem ini paham betul: senjata sesungguhnya bukan menara, melainkan kendali atas angka yang menceritakan apa yang menara lakukan.
Larasati menyalin modul dispersi itu ke kartu memorinya, lalu menutup firmware persis seperti semula, tanpa meninggalkan jejak bahwa ia pernah membacanya. Tangannya tidak gemetar lagi. Ada sesuatu yang lebih dingin dari ketakutan yang mengeras di dalam dirinya—pemahaman bahwa kemarau yang membunuh kampungnya, yang menjual kambing ibunya, yang mengeringkan sumur yang tak pernah kering, bukanlah hukuman dari langit. Ia adalah keputusan. Ditulis dalam kode. Dijalankan oleh tangan-tangan seperti tangannya sendiri. Dan ia, Larasati Wulandari, anak petani dari tanah yang retak itu, mungkin satu-satunya orang di koridor ini yang tahu cara membacanya.