Mengetahui mode dispersi itu ada adalah satu hal. Mengetahui ke mana ia diarahkan, dan kenapa, adalah hal lain yang jauh lebih sulit—dan jauh lebih berbahaya untuk dicari tahu.
Larasati mulai dengan apa yang ia punya: log operasi dari menara-menara yang ia tangani sendiri. Ia tidak bisa mengakses jadwal pusat, tapi setiap menara menyimpan riwayat perintah yang pernah ia terima. Selama dua minggu berikutnya, dengan dalih pemeliharaan rutin, Larasati mengunjungi sebanyak mungkin menara di koridornya dan diam-diam menyalin riwayat operasi mereka. Ia tidak terburu-buru. Ia tahu kesabaran lebih aman daripada keberanian.
Di malam hari, di kamar penginapannya, ia menyusun data itu. Ia membuat peta sederhana di buku catatan—garis-garis koridor, titik-titik menara, dan di samping tiap titik, berapa kali menara itu menjalankan dosis ganda yang menjadi penanda mode dispersi. Pekerjaan yang lambat dan melelahkan, dengan angka-angka yang tidak rapi dan banyak celah. Beberapa menara lognya rusak. Beberapa periode kosong. Ia tidak punya gambaran utuh, hanya potongan.
Tapi bahkan dari potongan itu, sebuah bentuk mulai muncul. Tidak sejelas yang ia takutkan, tidak serapi garis yang ditarik penggaris—dan justru karena itulah ia mempercayainya. Menara-menara di sektor selatan koridor, yang melayani lembah-lembah pertanian kecil, menjalankan dispersi jauh lebih sering daripada menara di sektor utara dekat perkebunan besar. Bukan setiap hari, bukan dalam pola yang bisa langsung dilihat. Tapi sepanjang berbulan-bulan, kecenderungannya nyata: yang di selatan dikeringkan, yang di utara dibiarkan, kadang bahkan dibantu dengan penyemaian sungguhan.
Larasati menatap petanya sampai matanya pedih. Selatan kering, utara basah. Kenapa?
Ia tidak akan menemukan jawabannya dalam data menara. Jawabannya ada di luar sistem, di dunia yang ia jarang sentuh—dunia transaksi tanah, harga komoditas, dan nama-nama yang tidak pernah muncul di log kalibrasi. Maka ia melakukan sesuatu yang sederhana dan tidak mencurigakan: ia membaca berita lokal lama, pengumuman pemerintah daerah, catatan penjualan tanah yang diumumkan di kantor kecamatan. Bahan yang siapa pun boleh lihat, kalau mau repot.
Yang ia temukan tidak rapi, dan itu yang membuatnya percaya. Tidak ada garis tegas "daerah yang menolak menjual dikeringkan." Yang ada lebih kabur dan lebih masuk akal: di beberapa kecamatan di sektor selatan, sebuah konsorsium pengembangan pangan dan energi—namanya muncul berulang dalam pengumuman, Wanagraha—telah menawar lahan untuk perkebunan dan ladang panel surya selama dua tahun terakhir. Penawarannya rendah. Banyak petani menolak, bertahan pada tanah yang sudah dipegang keluarga mereka selama generasi. Tapi kemudian kemarau datang, panen gagal, sumur kering. Dan tanah yang dulu ditolak dijual seharga, kini terpaksa dilepas dengan harga lebih rendah lagi, karena apa gunanya sawah yang tidak bisa diairi?
Larasati tidak menemukan satu pun dokumen yang menyatakan konsorsium itu memerintahkan kemarau. Ia ragu dokumen seperti itu ada. Yang ia lihat hanya kebetulan-kebetulan yang menumpuk: daerah yang ditawar Wanagraha, daerah yang dikeringkan menaranya, daerah yang akhirnya menjual murah—ketiganya tumpang tindih lebih sering daripada yang bisa dijelaskan keberuntungan. Tidak sempurna. Ada kecamatan yang dikeringkan tapi tidak ditawar siapa pun. Ada lahan yang dibeli di daerah yang basah-basah saja. Dunia nyata penuh kebisingan. Tapi di balik kebisingan itu, ada arah. Dan arahnya selalu menguntungkan pihak yang sama.
Ini yang membuatnya merinding, lebih dari kalau polanya sempurna. Sistem ini tidak bekerja dengan menghancurkan satu desa secara kasar dan kentara. Ia bekerja dengan menggeser peluang, sabar dan halus, di banyak tempat sekaligus, membiarkan kemarau alami dan kemarau buatan bercampur sampai tidak ada yang bisa memisahkannya. Kalau ditanya, mereka akan menunjuk El Nino, menunjuk siklus, menunjuk perubahan iklim global yang memang nyata. Dan mereka tidak akan sepenuhnya berbohong. Itulah kejeniusannya yang dingin: kemarau buatan disembunyikan di dalam kemarau yang sungguhan, seperti satu suara palsu di tengah paduan suara.
Larasati menutup buku catatannya. Sumberalas ada di peta itu—di sektor selatan, di salah satu lembah yang dikeringkan, di salah satu kecamatan tempat Wanagraha menawar dan ditolak. Kampungnya bukan korban acak dari langit yang murka. Kampungnya adalah target. Bukan target yang ditembak sekali dan mati, tapi target yang dicekik perlahan, milimeter demi milimeter air yang tidak pernah turun, sampai orang-orang di dalamnya menyerah sendiri dan menjual tanah yang tidak lagi bisa menghidupi mereka.
Ibunya, menjual kambing. Pak Karjo, di berandanya, berkata awan datang seperti tidak sudi singgah. Bu Surti, menutup percakapan dengan satu kata: nasib.
Bukan nasib. Larasati tahu itu sekarang dengan kepastian yang membuat perutnya mual. Bukan nasib, bukan dosa menebang hutan, bukan murka mata air. Sebuah keputusan, ditandatangani entah oleh siapa, di ruangan ber-AC yang jauh dari tanah retak mana pun, oleh orang-orang yang melihat lembahnya bukan sebagai rumah melainkan sebagai angka di kolom yang harganya bisa diturunkan. Dan satu-satunya yang bisa membuktikannya adalah seorang teknisi lapangan dengan buku catatan penuh angka yang tidak rapi, yang tahu terlalu banyak dan tidak punya siapa pun untuk diberitahu.