Pak Hadi adalah teknisi paling senior di koridor utara, dan dalam tiga bulan ia akan pensiun. Tiga puluh tahun memasang dan membenahi menara, jauh sebelum proyeknya bernama SMAN, sejak masa ketika penyemaian awan masih dianggap eksperimen yang setengah dipercaya. Tangannya gemetar sekarang, dan matanya tidak setajam dulu, tapi tidak ada yang tahu sejarah sistem ini lebih dalam darinya.
Larasati mendekatinya dengan hati-hati. Ia tidak bisa langsung bertanya. Maka ia mulai dengan hal-hal kecil—membantu Pak Hadi mengangkat peralatan berat, menemaninya minum kopi di warung dekat pos, mendengarkan ceritanya tentang masa lalu. Lelaki tua itu suka bercerita, dan jarang ada yang mau mendengarkan. Larasati mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan perlahan, kepercayaan tumbuh di antara mereka.
Suatu sore, di warung yang sepi, Larasati memberanikan diri. Ia tidak menyebut dispersi. Ia hanya berkata, sambil mengaduk kopinya, "Pak Hadi, menurut Bapak, kenapa ya kemarau di lembah selatan jauh lebih parah daripada di mana pun? Padahal menaranya banyak, mestinya kalau ada awan bisa dibantu turun."
Pak Hadi tidak langsung menjawab. Ia menatap cangkirnya lama, lalu ke luar warung, ke arah jalan berdebu. Saat akhirnya bicara, suaranya pelan. "Kamu sudah lihat modul itu, ya."
Larasati menahan napas. Ia tidak menjawab, tapi diamnya sudah jawaban.
"Aku tahu kamu akan menemukannya cepat atau lambat," kata Pak Hadi. "Kamu terlalu rajin baca. Dari dulu begitu." Ia menghela napas panjang, napas orang yang sudah memikul sesuatu terlalu lama. "Dulu namanya bukan dispersi. Dulu disebut 'pengelolaan beban awan'. Bahasa yang bagus, kan? Awalnya memang masuk akal. Kalau satu daerah sudah cukup hujan dan daerah lain butuh, kita geser sedikit peluangnya. Untuk pemerataan. Itu yang dijanjikan."
"Lalu?"
"Lalu yang memutuskan daerah mana butuh dan mana sudah cukup, berubah." Pak Hadi menggenggam cangkirnya dengan tangan gemetar. "Dulu yang memutuskan dinas pertanian, dinas air, orang-orang yang setidaknya peduli pada panen dan sumur. Beberapa tahun terakhir, keputusan itu pindah. Ke divisi baru, di pusat. Aku tidak tahu persis siapa. Tapi prioritasnya berubah, Laras. Bukan lagi pemerataan. Aku lihat menara dimajukan dispersinya di tempat-tempat yang tidak masuk akal kalau tujuannya pertanian. Aku tanya. Aku tanya beberapa kali."
"Dan?"
Pak Hadi tersenyum pahit. "Dan aku disuruh fokus pada pekerjaanku. Persis seperti yang akan mereka katakan padamu." Ia menatap Larasati lurus-lurus, dan untuk pertama kalinya matanya yang tua tampak tajam kembali. "Dengar. Aku tiga bulan lagi pensiun. Aku punya cucu. Aku tidak akan jadi pahlawan, Laras, dan aku tidak akan menyalahkanmu kalau kamu memilih diam juga. Tapi kamu sudah tahu sebagian. Kalau kamu mau tahu sisanya—siapa yang menandatangani, ke mana datanya naik—aku bisa cerita. Tidak di sini. Tidak hari ini. Beri aku waktu untuk pastikan tidak ada yang dengar."
Larasati mengangguk, jantungnya berdebar dengan campuran harapan dan takut. Untuk pertama kalinya sejak ini bermula, ia tidak sendirian dengan apa yang ia tahu. Ada orang lain yang melihatnya, yang mempercayainya, yang punya potongan-potongan yang ia tidak punya.
"Terima kasih, Pak," katanya pelan.
"Jangan berterima kasih dulu," sahut Pak Hadi. "Aku belum bicara apa-apa."
Mereka berpisah sore itu dengan kesepakatan diam-diam untuk bertemu lagi akhir pekan. Larasati pulang ke penginapan dengan perasaan yang hampir seperti lega. Akhirnya ada arah. Akhirnya ada sekutu.
Tiga hari kemudian, Pak Hadi dimutasi.
Larasati mengetahuinya dari Pak Damar, yang menyampaikannya dengan nada datar di sela rapat pagi, seolah itu kabar biasa. "Pak Hadi dipindah ke koridor timur, mulai pekan ini. Ada kebutuhan teknisi senior di sana. Mendadak, memang. Tapi begitulah pusat." Ia tidak menatap Larasati saat mengatakannya.
Koridor timur. Ratusan kilometer jauhnya, di seberang gunung, di tempat yang nyaris tidak terjangkau telepon. Untuk seorang lelaki yang tiga bulan lagi pensiun, mutasi seperti itu tidak masuk akal—kecuali tujuannya bukan kebutuhan teknis, melainkan menyingkirkan. Memisahkan. Memastikan ia tidak sempat menyelesaikan kalimat yang baru ia mulai.
Larasati duduk diam di rapat itu, wajahnya dijaga tetap kosong, sementara di dalam dadanya sesuatu mengeras menjadi ketakutan yang dingin dan jernih. Pak Hadi tidak mengatakan apa pun yang penting di warung itu. Tidak ada yang bisa mereka dengar—kecuali mereka memang mendengar. Kecuali mereka tahu Larasati sudah mulai bertanya, tahu siapa yang ia dekati, dan memutuskan untuk memutus jalur itu sebelum sempat terbuka.
Mereka menonton. Bukan kemungkinan lagi, bukan paranoia. Mereka menonton, dan mereka cukup cepat, cukup tahu, untuk memindahkan seorang lelaki tua ke ujung dunia hanya karena ia minum kopi dengan teknisi yang salah.
Malam itu, Larasati tidak tidur di penginapan. Ia membawa semua salinan datanya—kartu memori, buku catatan, foto-foto—dan pergi ke warnet kecil di pinggir kota yang tidak terhubung dengan jaringan apa pun yang berkaitan dengan SMAN. Di sana, di bawah lampu neon yang berkedip, ia mengunggah semuanya ke penyimpanan daring pribadi yang ia daftarkan dengan nama yang bukan namanya, lalu menyalinnya lagi ke kartu memori kecil yang ia titipkan—dalam amplop tanpa nama pengirim—ke kotak surat seorang teman lama yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia ini. Kalau mereka mengambil satu salinan, masih ada yang lain. Kalau mereka mengambilnya, masih ada yang tahu di mana mencarinya.
Ia keluar dari warnet menjelang tengah malam, ke jalanan kota kecil yang sepi, dan untuk pertama kalinya menyadari sepenuhnya apa yang telah ia masuki. Ini bukan lagi soal selisih angka di layar. Ini soal orang-orang yang cukup berkuasa untuk membuat seorang teknisi senior lenyap dalam tiga hari. Dan ia sekarang ada dalam pandangan mereka.