Berita itu muncul di mana-mana pada hari yang sama: di televisi, di pengeras suara balai desa, di spanduk yang dipasang sepanjang jalan utama. "Operasi Bantuan Hujan Nasional—SMAN Hadir untuk Petani." Foto-foto pejabat tersenyum di bawah payung, menara-menara yang dicat ulang, drone penyemai yang mengkilap. Janji bahwa teknologi negara akan membawa hujan ke ladang-ladang yang menderita.
Larasati menyaksikannya dari warung kopi dekat pos kendali, dan ia membaca apa yang tidak ditulis di spanduk itu lebih jelas daripada apa yang ditulis.
Operasi bantuan hujan itu nyata. Itu yang membuatnya licik. Selama beberapa hari, menara-menara di sektor utara—daerah perkebunan, daerah yang sudah dikuasai konsorsium Wanagraha, daerah yang dalam data selalu dibuat tampak lebih basah—benar-benar menyemai awan dengan sungguh-sungguh. Dan karena awan di sana memang lebih matang, lebih lembap, hujan pun turun. Tidak deras, tidak ajaib, tapi cukup untuk difoto, cukup untuk diberitakan, cukup untuk membuat orang percaya bahwa SMAN bekerja, bahwa negara peduli, bahwa hujan akan datang bagi siapa pun yang bersabar.
Sementara itu, di sektor selatan, di lembah-lembah yang menolak menjual, menara-menara terus menjalankan mode dispersi. Diam-diam. Tanpa berita, tanpa spanduk. Awan yang lewat di atas Sumberalas disemai berlebihan sampai mandul, melayang dengan membawa airnya, dan pecah jauh di tempat lain. Berita di televisi tidak menyebut lembah-lembah itu sama sekali. Dalam narasi resmi, mereka hanya korban kemarau yang menunggu giliran bantuan.
Larasati memahami strateginya sekarang dengan kejernihan yang membuatnya muak. Hujan telah menjadi alat tawar-menawar. Tunjukkan hujan pada yang patuh; berita akan menyebarkan harapan. Tahan hujan dari yang membangkang; biarkan kekeringan melakukan tugasnya. Dan di antara keduanya, kirim pesan tak tertulis yang dipahami semua orang tanpa pernah diucapkan: jual tanahmu, ikuti programnya, dan mungkin giliranmu untuk hujan akan tiba. Bertahan, dan tetaplah kering.
Ia memikirkan Sumberalas, ibunya yang menjual kambing, sumur yang berisi lumpur, dan kemarahan yang selama ini ia tahan mulai terasa seperti sesuatu yang hidup di dalam dadanya.
Di pos kendali siang itu, Reza menghampirinya. Auditor itu masih di koridor, lebih lama dari yang seharusnya untuk tinjauan rutin. Ia membawa dua gelas teh dan duduk di bangku sebelah Larasati, di beranda belakang yang menghadap ladang kering.
"Kamu tidak suka beritanya," katanya. Bukan pertanyaan.
Larasati menjaga suaranya tenang. "Saya senang ada daerah yang dapat hujan, Pak."
"Tapi tidak semua daerah." Reza menatap ke ladang. Wajahnya, untuk pertama kalinya sejak ia datang, tampak lelah, dan tidak lagi memasang senyum yang selalu siap. "Aku tahu Pak Hadi dipindah," katanya pelan. "Aku tahu kenapa."
Larasati membeku. Tangannya mengeras di sekitar gelas teh. Ia tidak berkata apa-apa, menunggu, setiap otot di tubuhnya siap untuk jebakan.
"Aku tidak akan minta kamu mengaku apa-apa," lanjut Reza, masih menatap ladang, tidak ke arahnya. "Itu lebih aman untuk kita berdua. Tapi aku akan bilang satu hal, dan kamu boleh melakukan apa pun yang kamu mau dengannya." Ia menurunkan suaranya hingga nyaris tidak terdengar di atas suara kipas dari dalam. "Data yang kamu kumpulkan dari menara-menara di lapangan tidak akan pernah cukup. Log menara bisa dibantah, bisa dibilang rusak, bisa dibilang kamu yang memalsukan. Kamu butuh sumbernya. Jadwal dispersi yang sesungguhnya hanya ada di satu tempat—ruang model di pusat. Di situ perintahnya dibuat, sebelum dikirim ke menara. Hanya salinan dari sana yang tidak bisa mereka sangkal."
Larasati menatapnya, mencoba membaca wajah itu, mencari kebohongan di baliknya. "Kenapa Bapak memberitahu saya ini?"
Reza diam lama. Saat ia menjawab, suaranya berat. "Karena aku ikut membangun sebagian dari sistem ini. Audit hanya pekerjaanku yang sekarang. Dulu aku menulis kode yang membuat dispersi bisa dijadwalkan dari pusat. Aku percaya itu untuk pemerataan, dulu, seperti semua orang." Ia menelan ludah. "Aku tidak seberani Pak Hadi, dan aku jelas tidak seberani kamu. Aku tidak akan membongkarnya sendiri. Tapi aku tidak bisa lagi pura-pura tidak melihat ke mana ini pergi."
Ia berdiri, meletakkan gelas tehnya yang masih penuh, dan untuk sesaat menatap Larasati dengan ekspresi yang sulit dibaca—bukan persahabatan, bukan pula ancaman, tapi sesuatu yang lebih dekat pada peringatan seorang yang tahu betul harga dari jalan yang baru saja ia tunjukkan.
"Hati-hati di ruang model, kalau kamu memutuskan ke sana," katanya. "Setiap salinan meninggalkan jejak. Dan mereka tidak selalu langsung tahu kamu di sana. Tapi begitu sistem mendeteksi data keluar—dan ia akan mendeteksinya, cepat atau lambat—mereka akan tahu persis siapa. Pastikan saat itu terjadi, kamu sudah jauh."
Lalu ia pergi, meninggalkan Larasati sendirian di beranda dengan dua gelas teh yang mendingin dan sebuah jalan baru yang terbentang di hadapannya—jalan yang menuju langsung ke jantung mesin yang ingin ia hentikan, dan dari mana, ia mulai mengerti, mungkin tidak ada jalan kembali yang aman.