Pusat kendali SMAN menempati gedung beton tujuh lantai di pinggir kota provinsi, jauh dari menara-menara terpencil yang ia urus. Larasati pernah ke sana dua kali sebelumnya—sekali untuk pelatihan, sekali untuk mengambil suku cadang—jadi kartu identitas teknisinya dikenal di pos jaga. Itu yang ia andalkan. Bukan penyusupan dramatis lewat ventilasi, hanya seorang teknisi lapangan dengan alasan yang masuk akal: mengambil unit sensor pengganti dari gudang lantai dua, perintah kerja yang ia palsukan dengan rapi memakai format yang ia tahu betul.
Ia datang di sore yang sibuk, saat pergantian giliran, ketika pos jaga ramai dan petugas terlalu lelah untuk teliti. Kartunya dipindai, perintah kerjanya dilirik, dan ia masuk. Sederhana. Hampir terlalu sederhana, dan itu membuatnya lebih waspada, bukan lebih tenang.
Gudang suku cadang memang di lantai dua. Tapi ruang model cuaca juga. Larasati tahu itu dari pelatihan dulu—ruang besar di ujung lorong, dengan dinding kaca dan layar-layar raksasa yang menampilkan model atmosfer seluruh negeri, tempat para analis duduk memantau dan, ia kini tahu, tempat perintah dispersi disusun sebelum dikirim ke menara-menara di lapangan.
Ia mengambil unit sensor dari gudang lebih dulu—ia butuh benda itu di tangannya, bukti bahwa ia memang sedang bekerja kalau ada yang bertanya. Lalu, dengan langkah yang ia paksa tetap biasa, ia berjalan ke ujung lorong. Sore itu ruang model nyaris kosong. Hanya satu analis yang tersisa, dan ia tampak hendak pergi, mengemasi tasnya. Larasati menunggu di sudut lorong, berpura-pura memeriksa unit sensornya, sampai analis itu keluar, mengangguk padanya tanpa minat, dan menghilang ke tangga.
Pintu ruang model tidak terkunci dari dalam saat ada orang baru saja keluar—mekanisme pengunci otomatisnya butuh beberapa detik. Larasati masuk sebelum pintu menutup penuh, hatinya berdebar begitu keras sampai ia yakin terdengar.
Di dalam, ruangan itu sejuk dan remang, diterangi hanya oleh cahaya layar. Model atmosfer berputar pelan di dinding—pola tekanan, peta kelembapan, jalur awan yang diprediksi untuk hari-hari ke depan. Indah, dalam cara yang dingin. Ini otaknya. Dari sini, langit di atas seluruh koridor dibaca, dan dari sini pula, diperintah.
Larasati duduk di salah satu terminal yang masih menyala—analis tadi lupa keluar dari sesinya, atau terlalu malas. Keberuntungan yang ia tidak berani percayai sepenuhnya. Ia bekerja cepat, tangannya bergerak dengan kepastian seorang yang sudah memikirkan langkah ini berkali-kali di kepalanya. Ia mencari arsip jadwal operasi—bukan log menara yang sudah ia punya, melainkan sumbernya, perintah yang dibuat di pusat sebelum dikirim. Dan ia menemukannya, terorganisir dalam folder-folder per koridor, per periode, lengkap dengan parameter dan stempel waktu.
Jari-jarinya berhenti di satu folder. Namanya bukan kode teknis biasa. Namanya, ditulis lugas seakan tidak ada yang perlu disembunyikan dari orang yang sudah berada sejauh ini ke dalam, adalah "Protokol Kemarau."
Larasati membukanya. Isinya adalah apa yang selama berminggu-minggu ia susun dengan susah payah dari potongan-potongan, kini terhampar utuh dan rapi di hadapannya. Jadwal dispersi penuh, koridor demi koridor, daftar wilayah target dengan tanggal-tanggalnya. Dan di sampingnya, di kolom yang membuat napasnya tersendat, catatan tujuan—bukan ditulis dengan bahasa kasar, tapi dengan eufemisme dingin birokrasi: "pengelolaan tekanan lahan," "akselerasi negosiasi akuisisi," "stabilisasi harga koridor." Setiap baris adalah sebuah lembah, sebuah desa, sebuah keputusan untuk membiarkan tanah mengering sampai orang-orangnya menyerah.
Ia menggulir mencari koridornya. Sektor selatan. Lembah-lembah yang ia kenal. Dan di sana, dalam daftar yang tersusun rapi, ia menemukan nama yang membuat seluruh tubuhnya dingin: Sumberalas. Jadwal dispersi terhadap koridor kampungnya tertulis jelas, dengan tanggal pelaksanaan—pekan depan. Sebuah operasi intensif yang dirancang untuk memastikan bahwa awan-awan monsun awal, yang seharusnya membawa hujan pertama setelah kemarau panjang, tidak akan pernah pecah di atas tanah kelahirannya.
Larasati menatap nama kampungnya di layar, di antara kolom-kolom dingin sebuah dokumen yang memperlakukan rumahnya sebagai variabel dalam persamaan harga tanah. Tangannya bergerak sendiri, mulai menyalin folder itu—seluruhnya, Protokol Kemarau utuh, jadwal, target, tanggal, semuanya—ke kartu memori yang ia selipkan ke terminal. Pengukur kemajuan penyalinan merayap maju, persen demi persen, lambat karena besarnya berkas. Ia menatapnya, memaksa napasnya teratur, sementara di dinding sekelilingnya model atmosfer terus berputar dengan tenang, tidak peduli bahwa di salah satu terminal di bawahnya, untuk pertama kalinya, seseorang sedang mencuri rahasia yang ia jaga.
Lima puluh persen. Enam puluh. Larasati melirik pintu, melirik lorong yang kosong di balik kaca, mendengarkan setiap bunyi di gedung yang mulai menyepi. Sejauh ini tidak ada yang datang. Sejauh ini tidak ada alarm. Hanya dengung pelan pendingin dan detak jantungnya sendiri.
Delapan puluh persen.
Ia membiarkan dirinya, untuk satu detik yang ceroboh, percaya bahwa ia akan berhasil. Bahwa ia akan keluar dengan bukti di sakunya, jauh sebelum ada yang tahu ia pernah di sini, persis seperti yang Reza katakan. Bahwa malam ini ia akan punya di tangannya satu-satunya hal yang tidak bisa mereka sangkal.
Sembilan puluh persen. Hampir. Hampir.