Penyalinan selesai pada angka seratus persen, dan untuk satu detik penuh, tidak terjadi apa-apa. Larasati mencabut kartu memori dengan jari yang gemetar, menyelipkannya ke balik lapisan dompetnya, dan berdiri. Lututnya hampir tidak menahannya. Ia berbalik ke pintu, sudah menyusun langkah di kepalanya—keluar tenang, menyusuri lorong, mengangguk pada pos jaga, hilang ke jalanan kota sebelum siapa pun curiga.
Ia baru melangkah dua langkah ketika layar terminal yang ia tinggalkan berkedip, dan sebuah baris kecil muncul di sudutnya. Bukan alarm berbunyi, bukan sirene. Hanya pemberitahuan datar, yang baru ia pahami artinya setelah membacanya: ekspor data dari arsip terbatas terdeteksi. Sistem tidak tahu ia di sana saat ia menyalin. Tapi data yang keluar meninggalkan jejak, persis seperti yang Reza peringatkan, dan kini jejak itu telah ditemukan—bukan oleh seseorang yang menunggu, melainkan oleh program yang sabar, yang memeriksa keluar-masuknya berkas dan baru saja menemukan satu yang tidak seharusnya pergi.
Larasati bergerak cepat ke pintu. Ia memutar gagangnya. Tidak terbuka. Mekanisme pengunci otomatis—yang baru ia hindari beberapa menit lalu—kini terkunci dari luar, dipicu oleh sistem yang baru saja menyadari ada yang salah. Ia menariknya lagi, lebih keras, tahu betul itu sia-sia bahkan sambil melakukannya.
Layar-layar raksasa di dinding berubah. Model atmosfer yang tadi berputar tenang lenyap, digantikan oleh satu peta tunggal: koridor utara, sektor selatan, lembah-lembah yang ia kenal seperti telapak tangannya sendiri. Dan di peta itu, ikon-ikon menara di sekeliling Sumberalas mulai berubah warna, satu per satu, dari hijau—siaga biasa—menjadi jingga, penanda mode dispersi aktif. Bukan terjadwal untuk pekan depan lagi. Aktif sekarang.
Untuk sesaat ia merasa seperti seseorang baru saja menekan tombol untuk menghukumnya, untuk menghukum kampungnya, sebagai balasan atas apa yang ia curi. Lalu nalar teknisinya yang dingin merebut kembali pikirannya, dan kebenaran yang lebih buruk menjadi jelas. Tidak ada yang menekan tombol. Tidak ada yang memajukan apa pun dalam sekejap untuk membalasnya—sistem cuaca-birokrasi seperti ini tidak bekerja seinstan itu, dan tidak ada satu menara pun yang bisa mengeringkan satu lembah dalam semalam. Yang ia lihat di layar bukan hukuman baru. Itu jadwal yang sudah ada. Awan monsun pertama yang ia tahu akan datang—yang ada dalam model, yang menjadi alasan operasi intensif dijadwalkan—ternyata datang lebih awal dari prediksi awal. Operasi dispersi atas Sumberalas tidak dimajukan oleh tangan yang marah; ia hanya menyala saat ia memang dijadwalkan menyala, saat awan yang ditargetkannya akhirnya tiba. Dan awan itu tiba malam ini.
Ia hanya menemukannya saat sudah terlambat untuk mencegahnya dari luar.
Layar besar di dinding meredup, dan suara terdengar dari pengeras ruangan—tenang, terukur, suara seorang yang terbiasa berbicara dengan orang yang sudah ia kalahkan. Bukan suara penjaga, bukan suara petugas keamanan. Suara yang lebih tua, lebih lelah, dan justru karena itu lebih menakutkan.
"Larasati Wulandari." Namanya, lengkap, diucapkan tanpa kemarahan. "Teknisi koridor utara. Tujuh tahun. Anak dari Sumberalas." Jeda. "Kami tahu kamu di sana sejak kartumu dipindai di pos jaga. Kami tidak tahu untuk apa, sampai sistem memberitahu kami satu menit yang lalu. Sekarang kami tahu."
Larasati berdiri diam di tengah ruangan, kartu memori membakar di balik dompetnya, menatap kamera kecil di sudut langit-langit yang ia sadari telah mengawasinya sejak awal.
"Aku tidak akan berpura-pura terkejut," lanjut suara itu. "Orang sepertimu selalu muncul cepat atau lambat. Yang membaca terlalu teliti, yang peduli pada satu lembah lebih dari pada gambaran yang lebih besar." Nada itu melembut, hampir simpatik, dan itu yang membuat Larasati merinding. "Kamu pikir kami jahat. Kami tidak. Kami menjaga agar lebih banyak orang makan tahun depan dengan mengorbankan lebih sedikit yang bisa dikorbankan hari ini. Itu pekerjaan yang tidak ada yang mau, dan seseorang harus melakukannya. Suatu hari, mungkin, kamu akan mengerti."
Di peta yang masih samar di dinding, satu menara lagi beralih ke jingga. Lalu satu lagi. Lingkaran di sekitar Sumberalas merapat, satu per satu, menutup langit di atas tanah kelahirannya seperti tangan yang mengatup pelan-pelan.
"Pintunya terkunci, Larasati," kata suara itu, lembut, final. "Bukan untuk menyakitimu. Untuk berbicara. Kita perlu bicara, kamu dan aku, sebelum ini menjadi lebih rumit dari yang perlu—untukmu, untuk ibumu, untuk adikmu yang ingin masuk sekolah teknik itu."
Darah Larasati membeku. Mereka tahu tentang Bayu. Mereka tahu segalanya.
Ia menatap kartu memori di tangannya—bukti utuh Protokol Kemarau, daftar wilayah, tanggal, nama kampungnya di antara kolom-kolom dingin itu—lalu menatap pintu yang terkunci, lalu menatap peta di mana menara-menara terus beralih warna, mengeringkan rumahnya malam ini juga, tepat sesuai jadwal, sementara ia terjebak di jantung mesin yang ia susupi untuk menghentikannya. Di luar sana, ratusan kilometer jauhnya, ibunya mungkin sedang menatap langit yang akhirnya mendung untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, berharap, tidak tahu bahwa awan itu telah dijatuhi hukuman sebelum sempat pecah.
Dan suara di pengeras itu menunggu jawabannya, sabar, sementara satu per satu lampu menara di peta menyala jingga, dan pintu di belakangnya tetap tidak bergerak.