Wirasena bicara seperti orang yang sudah berlatih argumennya bertahun-tahun di kepala sendiri, di malam-malam ketika ia tidak bisa tidur. Tidak ada kemarahan, tidak ada ancaman terbuka. Hanya logika, dibentangkan helai demi helai, setenang seorang dokter menjelaskan penyakit yang tidak ada obatnya.
"Kamu tahu berapa banyak orang di negeri ini, Larasati? Dan berapa banyak yang lapar tahun lalu, tahun sebelumnya?" Suaranya mengalir dari pengeras, mengisi ruangan yang sejuk. "Kemarau bukan pilihan. Itu datang, dengan atau tanpa kami. Yang menjadi pilihan adalah siapa yang menanggungnya. Kalau air dibagi rata kepada semua, semua kekurangan, dan semua gagal. Tapi kalau air diarahkan—ke lahan yang paling produktif, ke koridor yang bisa memberi makan paling banyak—maka mayoritas selamat. Harganya: minoritas mengering. Itu matematika yang tidak ada yang mau menuliskannya. Aku menuliskannya. Itu dosaku dan keberanianku sekaligus."
Larasati berdiri menyandar di tepi terminal, lengannya terlipat, tubuhnya sengaja ditempatkan setengah membelakangi kamera. Dari posisi itu, panel servis di dinding samping ada di sudut matanya. Ia tidak menatapnya. Ia menatap lantai, mengangguk pelan, memasang wajah seorang yang sedang menimbang—dan sebagian dari dirinya memang menimbang, meski bukan tawaran yang Wirasena maksud.
"Lembah saya bukan minoritas yang tidak produktif, Pak," katanya, sengaja membiarkan suaranya bergetar sedikit, sengaja terdengar seperti seseorang yang mulai goyah. "Sumberalas pernah punya tiga panen setahun. Sebelum sumurnya kering."
"Pernah," Wirasena menekankan kata itu dengan lembut. "Sebelum. Dunia tidak dibangun di atas pernah, Larasati. Lahanmu kecil, terpencar, sulit dialiri secara efisien. Dalam perhitungan ketahanan pangan jangka panjang, ia tidak bisa bersaing dengan blok perkebunan terpadu seluas ribuan hektare yang bisa dipanen dengan mesin dan dikirim ke kota dalam sehari. Itu bukan kebencian pada kampungmu. Itu efisiensi. Dan efisiensi, di negeri yang lapar, adalah bentuk lain dari belas kasihan."
Ia diam sejenak, lalu nadanya berubah—dari guru menjadi negosiator. "Tapi aku tidak memanggilmu untuk berdebat soal filosofi. Aku memanggilmu karena kamu pintar, dan orang pintar berharga, dan aku lebih suka memakai orang pintar daripada membuangnya. Dengar baik-baik, karena aku hanya akan menawarkan ini sekali."
Larasati mengangkat kepala sedikit. "Saya dengar."
"Kembalikan kartu itu. Utuh, semua salinannya—dan aku tahu kamu membuat salinan, kamu terlalu cermat untuk tidak. Sebagai gantinya: posisi di pusat. Bukan teknisi lapangan yang dibakar matahari di menara terpencil. Analis senior, di ruangan ini, dengan gaji yang membuat sekolah teknik adikmu tampak seperti uang receh. Amnesti penuh atas apa yang kamu lakukan malam ini—tidak ada laporan, tidak ada catatan. Dan satu hal lagi, yang aku tahu lebih kamu inginkan daripada semua itu." Jeda yang diukur dengan presisi. "Sumberalas dikeluarkan dari jadwal. Aku bisa melakukannya dengan satu perintah. Lembahmu kembali ke siklus alami. Apa pun yang langit putuskan untuk berikan, ia terima. Tidak ada lagi dispersi di atas kampungmu. Selama-lamanya."
Untuk satu detik yang jujur, tawaran itu menusuk lebih dalam dari yang Larasati ingin akui. Sumberalas dikeluarkan dari jadwal. Ibunya akan punya hujan lagi. Bayu akan punya sekolahnya. Semua yang ia takutkan kehilangan—pekerjaan, keluarga, air—bisa ia amankan dengan satu kata: ya.
Ia membiarkan dirinya tampak tergoda. Itu tidak sulit, karena ia memang tergoda, dan kebohongan terbaik selalu yang paling dekat dengan kebenaran. Ia menunduk, mengusap wajahnya dengan tangan, menarik napas panjang yang gemetar. Dan sambil melakukannya, ia bergeser—satu langkah kecil, seakan hanya gelisah—sampai punggungnya hampir menyentuh dinding samping, sampai panel servis itu tepat di belakang bahu kanannya.
"Kalau saya bilang ya," katanya pelan, mengulur, "bagaimana saya tahu Bapak akan menepati soal Sumberalas? Bapak bisa saja mengeluarkannya dari jadwal hari ini, dan memasukkannya lagi bulan depan. Saya tidak punya cara mengawasi dari ruang analis."
"Kamu akan punya akses ke jadwal," Wirasena menjawab, dan ada nada puas dalam suaranya—nada orang yang merasa ikannya mulai menggigit. "Itu bagian dari posisi. Kamu bisa melihat sendiri kampungmu tetap di luar daftar. Kamu yang menjaganya. Bukankah itu lebih baik daripada menyusup ke ruangan terkunci dan tertangkap?"
"Mungkin," gumam Larasati. "Mungkin Bapak benar."
Lengannya yang terlipat terlepas pelan. Tangan kanannya, tersembunyi di balik tubuhnya dari sudut kamera, mulai meraba tepi panel servis di belakangnya—mencari kait, sekrup, celah yang ia tahu pasti ada karena setiap kotak baja di seluruh jaringan SMAN dibuat dengan standar yang sama, standar yang ia hafal di luar kepala. Jari-jarinya menemukan kepala sekrup pertama. Kemudian kedua. Empat sekrup di tiap panel. Ia bisa melakukannya dengan mata tertutup. Yang ia butuhkan hanya alat—dan ranselnya, dengan obeng kalibrasi di dalamnya, tergeletak di kaki terminal, dua langkah jauhnya.
"Bisa saya minta waktu sebentar untuk berpikir?" katanya, suaranya ia buat tipis, hampir menyerah. "Ini... banyak sekali. Saya butuh duduk."
"Tentu," kata Wirasena, lembut, percaya diri, suara seorang yang yakin telah menang. "Aku menunggu. Kita punya waktu."
Larasati melangkah ke terminal, membungkuk seakan hendak duduk di kursinya—dan tangannya, dalam gerakan yang ia jadikan tampak seperti mengambil sandaran, masuk ke ransel di bawah meja dan menutup di sekitar gagang obeng yang dingin dan akrab. Ia tahu kamera melihatnya membungkuk. Ia tahu kamera tidak bisa melihat apa yang ada di tangannya.
"Sambil saya pikir," katanya, menarik napas, memunggungi lensa, "Bapak cerita saja. Bagaimana awalnya. Saya ingin mengerti—sungguh."
Dan Wirasena, yang sudah lama mendambakan seseorang yang mau mendengar pembenarannya, mulai bercerita. Suaranya mengalir, panjang dan tenang, mengisi ruangan. Larasati mendengarkan setengah—cukup untuk menyahut di saat yang tepat, cukup untuk tetap terdengar seperti seseorang yang sedang luluh. Setengahnya yang lain ada di tangan kanannya, di balik bahunya, di mana mata sekrup pertama mulai berputar pelan, sunyi, melawan baja.