Sekrup pertama lepas tanpa suara. Larasati menyimpannya di kepalan tangan, lalu pindah ke yang kedua, bekerja dengan obeng yang ia sembunyikan di balik tubuhnya, gerakannya kecil dan sabar. Wirasena masih bicara—tentang tahun-tahun awal, tentang menteri yang menandatangani anggaran, tentang janji-janji yang dulu ia percayai. Larasati menyahut di sela-sela, "Lalu?", "Saya mengerti," "Pasti berat," kata-kata yang cukup untuk membuat lelaki itu terus bicara, terus merasa didengar, terus tidak memperhatikan bahwa teknisi di layarnya tidak benar-benar sedang menyerah.
Kamera di sudut langit-langit hanya melihat seorang perempuan yang membungkuk di terminal, kepala tertunduk, bahu turun—postur kekalahan. Itu yang Larasati ingin Wirasena lihat. Tubuhnya menjadi tabir bagi tangannya.
Sekrup ketiga lebih keras, karatan di gigir-gigirnya. Keringat menetes ke matanya. Ia menahan napas, memberi tekanan lebih, dan sekrup itu menyerah dengan derit halus yang ia tutupi dengan batuk pelan. Tinggal satu.
"Kamu masih di sana, Larasati?" tanya Wirasena, dan ada sesuatu di nadanya—bukan curiga, belum, tapi mulai menyadari bahwa jeda perempuan itu terlalu lama.
"Masih, Pak," jawabnya, membuat suaranya pecah sedikit, seakan menahan tangis. "Saya cuma... memikirkan ibu saya. Kalau saya terima, dia tidak akan pernah tahu apa yang saya lakukan untuk dapat air itu."
"Dia tidak perlu tahu," kata Wirasena, melunak lagi, dan Larasati mendengar dalam suaranya bahwa umpan itu termakan, bahwa lelaki itu kembali yakin ia menang. "Itu beban yang kamu pikul sendiri. Seperti yang kupikul. Begitulah cara orang dewasa menjaga orang yang mereka cintai—dengan menanggung hal-hal yang tidak bisa mereka ceritakan."
Sekrup keempat lepas. Panel servis kini tertahan hanya oleh beratnya sendiri. Larasati menahannya dengan ujung jari supaya tidak jatuh dan menimbulkan bunyi, lalu menariknya pelan, miring, sampai bagian dalamnya terbuka di hadapannya—dan ia melihat apa yang ia cari.
Di balik panel, terbentang isi perut pintu: bukan mekanisme misterius, melainkan barang yang ia kenal seperti wajahnya sendiri. Sebuah kunci elektromagnetik—pelat baja yang ditahan rapat oleh medan magnet selama arus mengalir. Sistem keamanan paling umum di gedung mana pun, dan satu yang kelemahannya ia ketahui persis. Magnet itu kuat selama listriknya hidup. Putuskan listriknya, dan ia hanya jadi sepotong logam mati. Pintu yang ditahan oleh ribuan newton gaya magnet, begitu arusnya hilang, bisa didorong terbuka oleh seorang anak.
Di sebelahnya, sumber tenaga cadangan—baterai kecil yang dipasang persis untuk mencegah trik semacam ini, supaya pintu tetap terkunci meski listrik gedung padam. Tapi baterai itu juga tersambung lewat kabel, dan kabel bisa dicabut. Yang ia butuhkan adalah memutus keduanya sekaligus, cepat, sebelum sistem mendeteksi gangguan dan memicu alarm yang lebih keras.
"Larasati." Suara Wirasena berubah. Ketenangannya menipis. "Kamu terlalu diam. Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Memikirkan jawaban saya, Pak," katanya, dan kali ini ia tidak repot membuat suaranya terdengar luluh. Ia sudah tidak butuh tabir itu lagi.
"Bangun dari terminal itu. Tunjukkan tanganmu ke kamera."
Larasati menatap kunci magnet di balik panel, lalu kabel baterai cadangan, lalu obeng di tangannya. Ia menghitung detik—berapa lama dari saat ia mulai sampai pintu bisa didorong. Tiga detik, mungkin empat, kalau tangannya tidak gemetar. Cukup lama bagi Wirasena untuk memanggil tim. Tapi tim itu, ia ingat, ada di luar gedung atau di lantai lain; lorong di balik kaca masih kosong. Reza pernah bilang sistem tidak selalu langsung tahu. Antara perintah Wirasena dan langkah kaki pertama di lorong, selalu ada jeda. Jeda itu adalah satu-satunya yang ia punya.
"Maaf, Pak," katanya pelan, hampir lembut, menatap kamera untuk terakhir kali. "Tawaran Bapak bagus. Tapi saya tidak bisa menjaga Sumberalas dengan menukar empat ratus kampung lain. Ibu saya tidak akan mau air yang dibeli dengan harga itu."
Dan ia bertindak. Tangannya masuk ke balik panel, menggenggam kabel baterai cadangan, dan menariknya putus dengan satu sentakan. Pada saat yang sama, ujung obengnya menghubung-singkat dua terminal pada kunci magnet—percikan biru kecil meletik, bau ozon menyengat, dan medan magnet yang menahan pintu itu runtuh dalam sekejap.
Di pengeras, suara Wirasena meninggi untuk pertama kalinya. "Tim Empat, ruang model, sekarang—"
Larasati sudah di pintu. Ia mendorongnya dengan seluruh berat tubuhnya, dan pelat baja yang sedetik lalu tak tergoyahkan kini berayun terbuka semudah pintu rumah. Udara lorong yang lebih hangat menyambutnya. Lampu darurat berkedip merah di sepanjang langit-langit—alarm telah menyala, terlambat. Dari ujung lorong yang jauh, ia mendengarnya: derap langkah, banyak, mendekat, bergema di tangga.
Ia menyambar ranselnya, memastikan kartu memori masih di balik dompetnya dengan satu tepukan di dada, dan berlari ke arah yang berlawanan—menjauh dari derap itu, ke kedalaman gedung yang asing, ke lorong-lorong yang tidak ia kenal, dengan suara Wirasena masih menggema dari pengeras di belakangnya, kini tanpa kelembutan sama sekali.