Larasati melompat turun dari truk saat ia melambat di sebuah perempatan di pinggir kota, sebelum supir punya alasan untuk membuka bak. Ia mendarat di trotoar yang masih hangat menyimpan panas siang, menyusup ke dalam bayang-bayang ruko yang sudah tutup, dan berjalan tanpa tujuan sampai yakin tidak ada yang mengikutinya. Kota provinsi ini asing baginya—ia hanya pernah lewat, tidak pernah tinggal. Itu, ia putuskan, justru bagus. Tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada wajah yang akan menoleh dua kali.
Ia menemukan losmen murah di gang yang sempit, di antara bengkel tambal ban dan warung nasi yang sudah menutup tirainya. Penjaganya seorang lelaki tua yang lebih tertarik pada televisinya daripada pada tamunya. Larasati membayar tunai, dua malam di muka, dan menuliskan nama yang bukan namanya di buku tamu—nama ibunya, ditulis terbalik. Ia naik ke kamar di lantai dua: tempat tidur sempit, satu kipas yang berderit, satu lampu kuning, dan jendela yang menghadap tembok bata bangunan sebelah. Sempurna. Tidak ada yang bisa melihat ke dalam.
Ia mengunci pintu, menahannya dengan kursi, lalu duduk di lantai dan mengeluarkan isi ranselnya. Kartu memori dari balik dompet. Laptop kerja yang sudah lama ia pisahkan dari jaringan SMAN—ia bersyukur sekarang pada kebiasaannya yang dianggap aneh oleh rekan-rekannya, memisahkan perangkat, tidak pernah menyimpan semuanya di satu tempat. Dan ponselnya.
Ponsel. Ia menatap benda itu lama. Reza pernah memperingatkannya—begitu sistem mendeteksi data keluar, mereka akan tahu persis siapa. Dan kalau mereka tahu siapa, mereka tahu nomor ponselnya. Setiap menit benda itu menyala, ia memancarkan posisinya ke menara seluler terdekat, menggambar peta perjalanannya untuk siapa pun yang tahu cara membacanya. Mereka punya akses ke hal-hal seperti itu. Mereka punya akses ke segalanya.
Ia akan mematikannya. Tapi tidak sekarang. Tidak sebelum ia melakukan apa yang harus ia lakukan.
Larasati menyambungkan kartu memori ke laptop dan membuka isinya untuk pertama kali sejak menyalinnya. Protokol Kemarau, terhampar utuh. Folder demi folder. Jadwal dispersi penuh, koridor demi koridor, daftar wilayah target dengan tanggalnya, kolom-kolom dingin dengan eufemisme yang sama yang membuat napasnya tersendat di ruang model: pengelolaan tekanan lahan, akselerasi negosiasi akuisisi. Sumberalas, di antara empat ratus nama. Ia menatapnya sebentar, lalu memaksa dirinya berhenti menatap. Bukan saatnya untuk perasaan. Saatnya untuk bekerja.
Ia membuat tiga salinan ke tiga kartu memori berbeda yang ia beli dari minimarket di jalan tadi. Satu ia sembunyikan di lapisan ranselnya, satu di balik sol sepatunya, satu di bungkus rokok kosong yang ia isi ulang. Lalu ia mengarahkan laptopnya ke jaringan—bukan wifi losmen yang terlalu mudah dilacak, melainkan paket data dari kartu prabayar anonim yang juga ia beli malam itu, dipasang di modem kecil seukuran korek api. Dengan tangan yang ia paksa tenang, ia mengunggah seluruh arsip ke beberapa layanan penyimpanan daring terenkripsi, masing-masing dengan akun yang ia daftarkan memakai alamat surel sekali pakai. Berkasnya besar; unggahannya lambat. Ia menatap bilah kemajuan merayap, persis seperti ia menatap penyalinan di ruang model beberapa jam lalu—hanya saja kali ini, setiap persen yang naik adalah satu langkah lebih jauh dari kendali Wirasena, bukan lebih dekat ke perangkapnya.
Ia menyimpan tautan-tautan dan kata sandinya di selembar kertas, ditulis tangan, dengan kode yang hanya ia mengerti—tidak di perangkat mana pun yang bisa disita. Kalau mereka mengambilnya hidup-hidup, mereka tidak akan menemukan kuncinya di sakunya. Kalau mereka mengambil perangkatnya, salinannya sudah tersebar di tempat-tempat yang tidak bisa mereka jangkau dengan satu surat perintah.
Unggahan terakhir selesai menjelang dini hari. Larasati menutup laptop, menyandarkan punggungnya ke tepi tempat tidur, dan untuk pertama kalinya membiarkan kelelahan menyergapnya. Tubuhnya gemetar—bukan dari dingin, tapi dari adrenalin yang akhirnya surut, meninggalkan kehampaan dan rasa takut yang murni. Ia buronan sekarang. Tidak ada cara lain menyebutnya. Tujuh tahun ia hanya ingin pekerjaannya aman, gajinya cukup, ibunya tenang. Sekarang ia duduk di lantai losmen asing di kota yang tidak ia kenal, dengan rahasia negara di balik sol sepatunya dan suara seorang lelaki tua di pengeras yang menyebut nama adiknya.
Ia meraih ponselnya. Layarnya menyala, dan di sana ada apa yang ia takutkan dan rindukan sekaligus: notifikasi panggilan tak terjawab. Dari ibunya. Tiga kali, sore tadi.
Larasati menatap nomor itu, jempolnya melayang di atasnya. Ia ingin menelepon balik lebih dari apa pun—mendengar suara ibunya, memastikan ia baik-baik saja, berbohong bahwa semua akan beres. Tapi ia tahu apa artinya menyalakan koneksi itu. Mereka sedang mendengarkan. Setiap panggilan adalah benang yang menuntun mereka langsung ke pintu ibunya—dan ke pintu losmen ini.
Di luar jendela, langit kota mulai memucat. Larasati teringat Sumberalas, ratusan kilometer di seberang gunung, di mana malam ini awan monsun pertama telah lewat tanpa pecah, persis seperti yang ia takutkan, persis seperti yang tertulis di kartu di sol sepatunya. Ibunya menelepon mungkin untuk bercerita, dengan suara yang mengandung harapan yang baru saja patah lagi: tadi mendung, Laras, tapi tidak jadi hujan.
Larasati menekan tombol daya, menahannya, dan menatap layar yang perlahan menggelap sampai padam total. Lalu ia melepas kartu SIM-nya, mematahkannya jadi dua, dan menyimpan kedua kepingnya di tempat terpisah. Ruangan menjadi sangat sunyi tanpa dengung halus ponsel yang menyala. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar tidak bisa dihubungi siapa pun—termasuk ibunya. Itu, ia sadari sambil memeluk lututnya di lantai losmen yang dingin, adalah harga pertama yang ia bayar. Dan ia tahu, dengan kepastian yang membuatnya mual, bahwa itu bukan yang terakhir.