Tanpa ponsel, dunia menyusut menjadi apa yang bisa Larasati lihat dengan matanya sendiri. Tidak ada peta digital, tidak ada jadwal yang bisa diperiksa, tidak ada cara memberitahu siapa pun ke mana ia pergi. Anehnya, di tengah ketakutannya, ada juga semacam kelegaan dalam ketelanjangan itu. Tidak ada benang yang menuntun mereka padanya. Ia bergerak seperti hantu, dan hantu tidak meninggalkan jejak digital.
Ia tahu mereka akan mengawasi jalur utama. Terminal bus, stasiun, jalan provinsi yang menghubungkan kota ke koridornya—semua titik yang masuk akal bagi seorang buronan yang ingin pulang. Maka ia tidak memakai satu pun. Sebelum fajar, ia berjalan kaki ke pasar induk di pinggir kota, tempat truk-truk berkumpul memuat dan membongkar sebelum hari terlalu panas. Di sanalah denyut sebenarnya sebuah kota bergerak—bukan di terminal yang berkamera, tapi di antara karung dan peti dan supir-supir yang lelah, yang menempuh jalan-jalan kecil yang tidak ada di peta resmi.
Ia mendekati seorang supir truk pasir yang sedang menunggu muatan, lelaki bertubuh kekar dengan rokok di bibir dan radio dangdut yang menyala pelan dari kabin. Larasati mengarang cerita yang cukup biasa untuk tidak diingat: kehabisan uang, ponsel hilang dicopet, ingin pulang ke kampung di arah selatan koridor untuk menengok ibu yang sakit. Setengahnya bohong, setengahnya begitu nyata sampai matanya berkaca sungguhan saat mengatakannya. Supir itu menatapnya sebentar, lalu mengangkat bahu dan menunjuk kabin dengan dagunya. Truk pasir lewat jalan-jalan tambang dan jalan kampung, bukan jalan provinsi—jalan yang lebih lambat, lebih berdebu, dan tepat karena itu, lebih aman.
Perjalanan itu memakan hampir sepanjang hari. Truk merayap melewati lembah demi lembah, melintasi punggung-punggung bukit gundul, menembus desa-desa yang Larasati lihat dengan mata baru sekarang. Ia memperhatikan tanahnya. Yang kering, yang retak, yang sumurnya pasti tinggal lumpur—dan ia bertanya-tanya, dengan rasa sakit yang tumpul, berapa dari nama-nama desa yang mereka lewati ada di kolom-kolom dingin di kartu memorinya. Berapa yang "nasib". Berapa yang keputusan. Supir itu sesekali menunjuk ladang yang dulu hijau, mengeluh tentang harga gabah, tentang anaknya yang merantau karena di kampung tidak ada lagi yang bisa ditanam. Ia bicara seperti orang yang menerima takdir. Larasati mendengarkan, dan tidak berkata apa-apa, karena apa yang ia tahu terlalu berat untuk dititipkan pada orang asing yang baik hati.
Mereka tiba di simpang yang Larasati kenal menjelang subuh hari berikutnya—simpang tempat jalan tambang bertemu jalan kampung menuju Sumberalas. Ia turun, mengucapkan terima kasih yang lebih dalam dari yang bisa supir itu pahami, dan berjalan kaki sisa jaraknya di kegelapan yang mulai memucat. Udara subuh terasa berbeda. Ada kelembapan di dalamnya—bau yang nyaris seperti hujan, bau tanah yang merindukan air. Ia mendongak. Di atas lembah, awan tebal bergulung, dasarnya gelap dan rata. Awan monsun. Awan yang seharusnya membawa hujan pertama setelah kemarau panjang.
Larasati berhenti di tengah jalan, jantungnya mencelos. Ia tahu awan ini. Ia tahu apa yang telah dilakukan padanya. Ini awan yang sama yang jadwalnya ia lihat di ruang model—awan yang menaranya disuruh mengeringkan malam itu juga. Ia berdiri di tanah kelahirannya, menatap langit yang mendung untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dan ia satu-satunya orang di seluruh lembah yang tahu bahwa mendung itu adalah kebohongan. Bahwa air ada di sana, di atas kepala mereka, melayang dengan dibawa awan yang sengaja dibuat mandul. Begitu dekat. Dan tidak akan pernah turun.
Ia masuk ke kampung saat orang-orang mulai bangun. Dan ia melihat harapan itu—harapan yang ia tahu akan dihancurkan—hidup di wajah para tetangga. Mereka keluar dari rumah, menengadah, saling memanggil. Pak Karjo berdiri di berandanya, menunjuk langit. Bu Surti mengangkat ember kosong ke halaman, sudah bersiap. Anak-anak berlari di jalan tanah, berteriak hujan, hujan, seakan kata itu sendiri bisa memanggilnya turun. Seluruh kampung menengadah ke awan yang sama, menahan napas yang sama, mengharapkan hal yang sama.
Larasati berdiri di mulut kampung, ransel di punggung, kartu memori di sol sepatunya, dan menyaksikan. Awan itu bergerak. Pelan, megah, gelap. Ia menggantung di atas Sumberalas selama beberapa menit yang terasa seperti doa kolektif seluruh lembah. Lalu ia bergeser, ke timur laut, melintasi punggung bukit, dan menjauh—membawa airnya, utuh, tanpa menurunkan setetes pun. Tepat seperti yang pertama kali ia lihat dari Menara 14, di kehidupan yang terasa seperti bertahun lalu padahal baru beberapa minggu.
Wajah-wajah di sekitarnya runtuh satu per satu. Anak-anak berhenti berlari. Pak Karjo menurunkan tangannya. Bu Surti menatap embernya yang kosong, lalu langit yang sudah mulai cerah lagi, dan berkata, dengan suara yang Larasati dengar dari kejauhan, satu kata yang sama seperti selalu: nasib.
Larasati menelan kemarahannya, panas dan tajam, dan tidak mengoreksinya. Belum. Ia satu-satunya yang tahu. Dan untuk sekarang, pengetahuan itu adalah beban yang harus ia pikul sendirian, di tengah kampung yang berduka atas hujan yang dicuri tanpa mereka pernah tahu siapa pencurinya.