Larasati tidak bisa tinggal di Sumberalas. Tiap hari ia di sana adalah hari ia mendekatkan bahaya ke pintu ibunya. Maka pagi berikutnya ia berpamitan—berpura-pura kembali bekerja, berpura-pura semua normal—dan pergi dengan motor trail-nya yang ia tinggalkan di rumah pamannya sejak sebelum ke pusat. Ia tidak pulang ke penginapan lamanya di kota kecamatan. Ia menyewa kamar di rumah seorang kenalan lama dua desa dari pos kendali, seseorang yang tidak ada kaitannya dengan SMAN, dan dari sana ia mulai mencoba memahami sejauh mana jaring telah mengetat di sekelilingnya.
Ia membeli kartu SIM prabayar baru, didaftarkan atas nama orang lain, dan dengan hati-hati menghubungi satu-satunya rekan teknisi yang ia rasa masih bisa ia percaya sedikit—Gunadi, teknisi koridor sebelah yang dulu sering berbagi suku cadang dengannya, lelaki muda yang lebih peduli pada motornya daripada pada politik kantor. Ia menelepon dari warung kopi di pinggir jalan, jauh dari mana pun yang berhubungan dengan pekerjaannya.
"Laras?" Suara Gunadi terdengar kaget, lalu menurun jadi bisikan, dan dari nada itu saja Larasati sudah tahu sebagian jawabannya. "Kamu di mana? Semua orang nyari kamu."
"Aku baik-baik saja. Aku cuma mau tanya. Apa yang terjadi di pos? Soal aku."
Gunadi terdiam sebentar, dan Larasati mendengar suara langkah, suara pintu—lelaki itu sedang mencari tempat agar tidak terdengar. "Kamu dirumahkan," katanya akhirnya, pelan. "Sementara, katanya. Surat resminya keluar dua hari lalu. Tidak ada alasan jelas. Cuma 'diistirahatkan sementara menunggu evaluasi internal'. Tidak ada yang tahu evaluasi apa." Ia ragu. "Akun sistemmu juga dinonaktifkan, Laras. Aku tahu karena aku coba ambil data kalibrasi dari menara yang dulu kamu pegang, dan namamu sudah hilang dari daftar akses. Kartu identitasmu juga—kalau kamu coba masuk gedung mana pun sekarang, pemindainya akan menolak. Dan—" Ia berhenti.
"Dan apa?"
"Ada orang dari pusat yang datang ke pos. Dua hari lalu. Bukan Pak Reza—orang lain. Mereka tanya-tanya soal kamu. Ke mana kamu pergi, siapa temanmu, apa kamu pernah bilang sesuatu yang aneh. Pak Damar yang menemui mereka. Mukanya pucat sekali setelah itu." Gunadi menurunkan suaranya lagi, sampai nyaris tak terdengar. "Laras, aku tidak tahu kamu terlibat apa. Aku tidak mau tahu. Tapi mereka serius. Hati-hati. Dan jangan telepon aku lagi, ya? Maaf. Aku punya keluarga."
Sambungan terputus. Larasati menatap ponsel prabayar di tangannya, lalu mematikannya dan melepas baterainya. Ia duduk lama di warung itu, kopi yang sudah dingin di depannya, mencerna apa yang baru ia dengar.
Dirumahkan. Akun dinonaktifkan. Akses dicabut. Kartu identitas dimatikan. Semua dilakukan diam-diam, tanpa tuduhan terbuka, tanpa surat yang menyebut kata sebenarnya. Bukan pemecatan—pemecatan butuh alasan, butuh proses, butuh sesuatu yang bisa digugat. Ini lebih halus dan lebih pintar: ia hanya diistirahatkan, dimatikan pelan-pelan, dicabut satu per satu hal yang membuatnya bisa bekerja dan membuktikan apa pun. Mereka tidak menuduhnya bersalah. Mereka hanya membuatnya tidak ada.
Dan dengan dirumahkan, gajinya berhenti.
Kenyataan itu menghantamnya lebih keras dari semua yang lain. Selama ini, di tengah pelarian dan ketakutan, ia belum sempat memikirkannya. Tapi sekarang, di warung kopi yang sepi, ia menghitung—dan angkanya kejam. Gaji bulan ini, yang seharusnya cair akhir pekan, untuk biaya sekolah Bayu, untuk beras, untuk air tangki yang harganya naik terus, untuk obat tekanan darah ibunya yang harus diminum tiap hari. Semua itu bergantung pada gaji yang baru saja mereka putus. Ia punya tabungan—sedikit, cukup untuk beberapa minggu kalau ia hidup sangat hemat. Setelah itu, tidak ada apa-apa.
Ini persis yang selama bertahun-tahun ia takutkan. Persis yang Pak Damar peringatkan di pagi itu, dengan nada seorang ayah yang menjauhkan anaknya dari sumur tua: kamu punya ibu, punya adik, pikirkan itu. Ia memang memikirkannya. Ia memikirkannya setiap hari. Dan sekarang ketakutan itu telah menjadi nyata bukan karena ia ceroboh, tapi justru karena ia memilih untuk tidak diam. Wirasena menawarinya keamanan keluarganya sebagai imbalan. Ia menolak. Dan inilah harga penolakan itu, ditagih dengan dingin lewat sebuah surat tentang "evaluasi internal".
Larasati menggenggam cangkir kopinya yang dingin, dan untuk satu momen yang gelap, ia membiarkan dirinya merasakan beratnya sepenuhnya. Ia bisa berbalik. Bahkan sekarang. Ia bisa mencari cara menghubungi Wirasena, menyerahkan kartu itu, menerima jabatan dan air dan gaji yang membuat sekolah Bayu tampak seperti uang receh. Pintu itu mungkin masih terbuka. Mungkin masih ada waktu untuk menyelamatkan satu keluarga dengan mengkhianati empat ratus lembah.
Ia memikirkannya dengan jujur, karena berbohong pada diri sendiri tentang godaan itu hanya akan membuatnya lebih lemah saat godaan itu datang lagi. Lalu ia teringat wajah ibunya menatap awan yang lewat tanpa pecah, teringat ember kosong Bu Surti, teringat ratusan nama lain di kolom-kolom dingin di kartu di sol sepatunya—setiap nama sebuah ibu, sebuah Bayu, sebuah lembah yang menengadah ke langit yang dicuri darinya.
Ia menyimpan kembali baterai ke ponsel prabayarnya, tidak untuk menelepon, hanya untuk mencatat. Ia butuh uang. Ia butuh cara bertahan tanpa gaji. Dan ia butuh, lebih dari segalanya, memahami siapa sebenarnya yang ada di balik Wanagraha—karena selama musuhnya hanya suara di pengeras dan sebuah nama perusahaan, ia melawan bayangan. Ia mulai menyusun daftar di kepalanya, dingin dan teratur, seperti daftar pemeliharaan menara. Yang harus dilakukan. Yang harus dicari. Satu langkah, lalu langkah berikutnya. Karena itulah satu-satunya cara ia tahu untuk tidak tenggelam dalam ketakutan: dengan memperlakukannya sebagai pekerjaan, dan mengerjakannya, baut demi baut, sampai selesai.