Pak Damar mendatanginya tiga hari kemudian, di tempat yang tidak pernah Larasati duga: pemakaman desa, sore hari, saat tidak ada siapa pun selain seorang penjaga makam yang sudah pulang. Larasati datang ke sana untuk berziarah ke makam ayahnya—satu-satunya tempat di mana ia merasa bisa berpikir tenang—dan ia menemukan atasannya sudah duduk di bangku batu di bawah pohon kamboja, menunggu, dengan kemeja yang basah keringat dan wajah yang lebih tua dari yang ia ingat.
"Aku tahu kamu sering ke sini," kata Pak Damar tanpa basa-basi, tanpa menatapnya. "Dulu kamu cerita, waktu masih mau cerita padaku. Kupikir ini satu-satunya tempat aku bisa bicara tanpa ada yang dengar." Ia menepuk bangku di sebelahnya. "Duduk. Aku tidak punya banyak waktu, dan kamu lebih tidak punya lagi."
Larasati ragu. Pak Damar atasannya. Pak Damar yang menemui orang-orang pusat dengan wajah pucat. Pak Damar yang dulu memperingatkannya untuk tidak membaca yang bukan jatahnya. Ia bisa jadi umpan, bisa jadi jebakan, bisa jadi orang yang dikirim untuk membujuknya menyerah. Tapi ada sesuatu di pundak lelaki itu yang membungkuk, di tangannya yang gemetar memegang sapu tangan, yang membuat Larasati duduk.
"Aku tidak ada di pihakmu, Laras," kata Pak Damar, masih menatap lurus ke deretan nisan. "Aku mau kamu tahu itu dari awal. Aku terlalu tua, terlalu takut, terlalu dekat ke pensiun. Aku tidak akan membantumu melawan mereka. Aku tidak punya keberanian itu, dan aku tidak akan berpura-pura punya." Ia menghela napas, panjang dan berat. "Tapi aku juga tidak bisa diam saja membiarkan kamu berjalan ke sesuatu yang tidak kamu lihat datang. Itu bukan keadilan, itu cuma... aku tidak bisa tidur. Jadi aku ke sini. Sekali. Lalu kita tidak pernah bicara lagi, mengerti?"
"Mengerti, Pak," kata Larasati pelan.
Pak Damar mengusap wajahnya dengan sapu tangan. "Mereka tidak akan berhenti di 'dirumahkan'. Itu cuma langkah pertama, supaya kamu tidak punya akses, tidak punya gaji, tidak punya kawan di dalam. Membuatmu sendirian dulu. Tapi yang sedang mereka siapkan lebih dari itu." Ia menelan ludah. "Mereka sedang menyusun tuduhan sabotase, Laras. Aku dengar potongan-potongannya, dari rapat yang harusnya aku tidak ada di situ. Mereka mau bilang kamu yang merusak menara. Bahwa data yang kamu kumpulkan kamu palsukan untuk menutupi sabotasemu sendiri. Bahwa kamu pegawai bermasalah yang dendam karena—entah apa, mereka akan mengarang alasannya. Begitu tuduhan itu keluar, semua yang kamu punya jadi terbalik. Buktimu jadi bukti kejahatanmu. Orang-orang yang mungkin percaya padamu jadi ragu. Bahkan—" ia berhenti, dan menatap Larasati untuk pertama kalinya, matanya penuh sesuatu yang menyakitkan, "—bahkan tetanggamu sendiri. Kampungmu. Mereka akan diberi tahu bahwa kekeringan mereka makin parah karena ada teknisi yang merusak menara. Dan teknisi itu kamu."
Darah Larasati membeku. Ia sudah membayangkan banyak hal—penangkapan, penjara, bahkan lebih buruk. Tapi ini lebih licik dari semuanya. Mereka tidak akan menjadikannya martir. Mereka akan menjadikannya penjahat di mata orang-orang yang ia coba selamatkan. Mereka akan membalik kebenaran begitu rapi sampai membongkar Protokol Kemarau justru akan terdengar seperti pembelaan diri seorang perusak yang tertangkap basah.
"Kenapa Bapak memberitahu saya ini?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik. "Kalau Bapak tidak di pihak saya."
Pak Damar menatap nisan ayahnya, lalu menatap tangannya sendiri. "Aku kenal ayahmu. Kami seangkatan dulu, sebelum dia berhenti dan kembali bertani. Dia orang lurus. Terlalu lurus untuk pekerjaan ini, makanya dia keluar." Suaranya pecah sedikit. "Aku memilih bertahan. Memilih aman. Memilih perut yang kenyang dan tidur yang nyenyak, dan aku tidak menyesalinya, kebanyakan hari. Tapi aku tidak bisa duduk di rapat itu, mendengar mereka merencanakan untuk menghancurkan anak orang yang dulu kupanggil sahabat, dan tidak melakukan apa-apa sama sekali. Itu satu hal yang tidak bisa kutelan." Ia berdiri, lututnya berderit, dan merapikan kemejanya. "Jadi anggap ini bukan dari atasanmu. Anggap ini dari teman ayahmu yang pengecut."
Larasati ikut berdiri. "Satu hal lagi, Pak. Tolong. Apa pun yang bisa Bapak beritahu."
Pak Damar sudah berbalik untuk pergi, tapi ia berhenti. Lama. Lalu, tanpa menoleh, ia berkata, "Ada audit mendadak di koridor. Bukan tinjauan rutin seperti Pak Reza dulu. Yang ini dari divisi yang lebih tinggi. Dipimpin orang baru—keras, dingin, bukan tipe yang bisa dibujuk. Mereka memeriksa semua log, semua menara, semua jejak akses tiga bulan terakhir. Mencari apa pun yang bisa menautkanmu ke 'sabotase'. Dan mencari siapa lagi yang mungkin membantumu." Ia diam sejenak, dan suaranya merendah. "Kalau ada orang dalam yang berpihak padamu, Laras—siapa pun dia—dia dalam bahaya besar sekarang. Audit ini akan menemukannya. Suruh dia berhati-hati. Atau lebih baik, jangan hubungi dia sama sekali."
Reza. Nama itu melintas di kepala Larasati dengan rasa dingin. Reza, yang menunjukkannya pintu pemuatan. Reza, yang berbisik dari mulut bak truk. Reza, yang mengaku ikut membangun sistem ini dan tidak bisa lagi pura-pura tidak melihat.
Pak Damar berjalan menjauh di antara nisan-nisan, punggungnya membungkuk, langkahnya lelah, seorang lelaki yang baru saja melakukan satu hal berani dalam hidupnya yang penuh kehati-hatian, dan tampak hancur karenanya. Ia tidak menoleh lagi. Larasati membiarkannya pergi.
Ia berdiri sendirian di pemakaman yang mulai gelap, di samping makam ayahnya yang dulu terlalu lurus untuk pekerjaan ini, dan merasakan jaring itu mengetat di sekelilingnya dari segala arah sekaligus. Tuduhan sabotase yang akan membalik kebenaran. Audit dingin yang memburu setiap jejaknya. Reza yang kini dalam bahaya karena membantunya. Gajinya yang berhenti. Keluarganya yang rentan. Dan di kejauhan, di balik bukit yang menggelap, menara-menara yang terus diam-diam mencekik lembah demi lembah, malam demi malam, tanpa seorang pun yang tahu.
Ia berlutut sebentar di samping nisan ayahnya, menyentuh batu yang masih hangat oleh matahari sore, dan berbisik—bukan doa persis, lebih seperti janji. Lalu ia bangkit, menyalakan motornya, dan pergi ke dalam gelap, karena ia tahu sekarang bahwa berhenti bukan lagi pilihan yang aman. Berhenti hanya berarti menunggu jaring itu menutup. Satu-satunya jalan keluar adalah ke depan—menemukan wajah di balik Wanagraha, menemukan Pak Hadi sebelum mereka membungkamnya untuk selamanya, dan menemukan saluran yang tidak bisa mereka tekan. Ia tidak tahu bagaimana. Tapi ia tahu, dengan kepastian dingin yang sama yang membuatnya membongkar firmware menara di tengah terik, bahwa ia akan mencari tahu, satu langkah pada satu waktu, sampai selesai.