Larasati menumpang ke kota provinsi pagi-pagi, duduk di bagian belakang bus antarkota yang sumpek dengan bau keringat dan rokok kretek, ransel di pangkuan, mata setengah terpejam tapi otak tidak pernah benar-benar berhenti. Ia tidak punya akun sistem lagi. Tidak punya akses menara. Tidak punya gaji. Yang ia punya tinggal tiga salinan kartu yang disembunyikan di tempat berbeda, dan satu nama yang terus mengetuk di kepalanya sejak malam di ruang kendali: Wanagraha. Bukan lagi suara di pengeras. Bukan lagi 'mereka' yang abstrak. Ia ingin wajah. Ia ingin tahu siapa yang menandatangani kertas-kertas yang mengubah sawah ayahnya jadi tanah retak.
Perpustakaan daerah buka pukul sembilan, gedung tua berdinding lembap dengan dua komputer umum yang kecepatannya menyiksa. Larasati membayar lima ribu rupiah untuk satu jam, duduk membelakangi pintu agar layarnya tidak terlihat dari belakang—kebiasaan baru yang sudah melekat seperti refleks. Ia tidak masuk ke mana pun yang butuh kata sandinya. Ia hanya mencari yang terbuka untuk umum, yang justru sering kali lebih banyak bercerita daripada yang dirahasiakan: lembar berita acara pengadaan, dokumen perizinan usaha, pengumuman lelang pemerintah, salinan akta yang diunggah ke sistem administrasi badan usaha.
Wanagraha. PT Wanagraha Pangan Energi. Didirikan tujuh tahun lalu, bergerak di 'pengembangan agroindustri terpadu dan infrastruktur energi terbarukan'. Frasa yang dibuat agar mata orang langsung lelah dan menyerah membacanya. Tapi Larasati tidak menyerah. Ia menelusuri susunan pengurus, daftar pemegang saham, anak-anak perusahaan yang bercabang seperti akar. Sebagian besar nama tidak berarti apa-apa baginya—badan usaha lain, yayasan, perusahaan investasi dengan alamat di gedung perkantoran ibu kota. Tapi satu nama muncul berulang kali, di posisi yang tidak ingin disorot tapi selalu ada di tikungan keputusan penting: Pranata. Direktur Akuisisi Lahan dan Hubungan Pemerintah.
Ia mencatat nama itu di buku kecilnya dengan pensil—bukan ponsel, tidak pernah lagi ponsel untuk hal seperti ini—lalu menggali lebih dalam. Pranata. Nama lengkapnya tertera di satu lampiran rapat umum pemegang saham: Sri Maharani Pranata. Foto resmi kecil yang menyertai sebuah artikel seremonial penghargaan agroindustri menunjukkan seorang perempuan paruh baya, rambut disanggul rapi, kebaya gelap, senyum terukur yang dipakai orang-orang yang terbiasa berfoto di samping pejabat. Bukan wajah penjahat. Itulah yang membuat Larasati merasa dingin di tengkuk. Wajah itu wajah seseorang yang bisa kau temui di acara arisan, yang menyumbang untuk masjid, yang anaknya sekolah di luar negeri.
Larasati menyilangkan apa yang ia tahu. Ia membuka kembali catatan-catatan lamanya tentang jadwal dispersi—yang ia hafal lebih dari yang ia ingat dengan nyaman—dan mulai mencocokkannya dengan pengumuman akuisisi lahan yang bisa ia temukan. Pola itu, yang dulu ia takut percayai karena terlalu rapi, kini terbentang lebih jelas dengan nama-nama tanggal. Sebuah lembah di sebelah barat Sumberalas dikeringkan selama dua musim. Lalu, beberapa bulan setelah warga mulai menjual karena tak ada lagi yang bisa ditanam, muncul akta jual beli massal—pembelinya badan usaha yang akarnya, kalau ditelusuri cukup sabar, kembali ke Wanagraha. Tanda tangan yang menyetujui pembelian itu: S.M. Pranata.
Larasati menyandarkan punggung, jantungnya berdebar dengan ritme yang ia kenal—campuran takut dan sesuatu yang lebih keras, lebih dingin, yang lebih menyerupai kepastian. Sekarang ia punya dua sisi koin yang sama. Di satu sisi, Wirasena: pengarah divisi yang menyusun protokol, yang memegang tombol teknis, yang bicara tentang ketahanan pangan nasional dengan suara tenang dari pengeras. Di sisi lain, Pranata: tangan sipil yang menanti tanah jatuh murah lalu memungutnya satu per satu. Yang satu mengeringkan, yang satu memanen. Mereka pasti bertemu di suatu tempat di tengah, di ruang-ruang yang tidak pernah masuk ke berita acara mana pun.
Ia mencari tahu apakah keduanya pernah terlihat bersama, dan menemukan remah-remah: sebuah seminar 'Adaptasi Iklim untuk Ketahanan Pangan' dua tahun lalu yang mencantumkan Wirasena sebagai narasumber dan Wanagraha sebagai 'mitra pendukung'. Foto-foto seremonial sebuah peresmian embung di kabupaten sebelah yang dihadiri pejabat SMAN dan jajaran direksi Wanagraha, berdiri berderet, senyum seragam, menggunting pita. Hujan dan kekeringan dijadikan panggung untuk bersalaman.
Waktu di komputer umum habis. Larasati menghapus jejak penelusurannya sebisa mungkin, membayar perpanjangan untuk menyalin beberapa lembar dokumen ke kertas di mesin cetak tua yang berderik, lalu melipat semuanya dan menyelipkannya ke dalam ransel di bawah pakaian ganti. Ia keluar ke siang yang menyengat, ke jalan kota provinsi yang berdebu dan penuh klakson, dan untuk pertama kalinya sejak ruang kendali itu terkunci, ia merasa konspirasi yang ia lawan punya bentuk yang bisa ia pegang. Bukan kabut. Bukan mesin tanpa wajah. Ada dua orang, mungkin lebih di atas mereka, yang setiap malam memilih lembah mana yang akan dahaga.
Ia berdiri di trotoar, menatap papan reklame besar di seberang jalan—iklan air minum dalam kemasan, butiran embun digambar berkilau di botol biru, dengan slogan tentang kesegaran alam—dan tertawa kecil, getir, sampai seorang ibu penjual gorengan menoleh padanya dengan heran. Larasati menutup mulut, menunduk, lalu melangkah pergi. Ada notaris di kecamatan yang menangani akta-akta itu, dan notaris adalah jenis orang yang menyimpan banyak hal di laci dan lebih banyak lagi di kepalanya. Ia tahu ke mana harus pergi berikutnya. Ia hanya perlu menjadi orang lain untuk sampai ke sana.