Perjalanan ke koridor timur memakan waktu lebih lama dari yang Larasati perkirakan, dan setiap jamnya menguras lebih banyak dari sekadar uang. Ia berganti tiga kali kendaraan: bus antarkota yang penuh sesak sampai siang, lalu kendaraan bak terbuka yang mengangkut hasil bumi dan penumpang sekaligus, lalu ojek sepeda motor yang membawanya menyusuri jalan pegunungan yang berkelok dan berlubang. Ia memilih jalur kampung yang lebih lambat dan lebih melelahkan, menghindari jalan provinsi utama tempat ada pos timbang dan kamera, dan ia membayar semuanya dengan uang tunai dan wajah yang ia jaga agar tetap biasa, lelah, tidak terlalu diingat.
Semakin ke timur, semakin keras tanah yang dilihatnya. Larasati lahir dan besar di tanah yang kering, ia pikir ia tahu seperti apa kekeringan itu. Tapi koridor timur menunjukkan padanya tingkat lain. Bukit-bukit kapur yang gundul, hanya ditumbuhi rumput cokelat yang mati setengah, dan pohon-pohon lontar yang berdiri sendirian di kejauhan seperti penjaga yang ditinggalkan. Sungai-sungai yang ia lewati hanya alur batu putih, kering kerontang, dengan sisa-sisa lumpur retak di tepiannya yang membentuk pola seperti kulit ular. Ladang-ladang ditinggalkan, rumah-rumah dengan pintu terkunci dan halaman yang ditumbuhi ilalang. Sesekali ia melihat perempuan dan anak-anak berjalan jauh memikul jeriken, mengantre di satu titik air yang entah dari mana.
Di sebuah persimpangan, saat ojek yang ia tumpangi berhenti untuk mengisi bensin di kios pinggir jalan, Larasati turun untuk meluruskan kaki, dan saat itulah ia melihatnya. Di puncak bukit di kejauhan, menjulang di atas tanah yang mati, sebuah menara ionisasi SMAN. Dan bukan menara tua. Ia mengenali bentuknya dengan mata seorang teknisi—rangka yang lebih baru, panel surya tambahan, dan di bagian atas, modul berbentuk kotak persegi dengan kisi-kisi yang ia kenal terlalu baik. Modul dispersi. Dipasang baru, kabelnya masih bersih, belum dimakan cuaca. Di koridor selatan, modul-modul seperti itu disembunyikan, dipasang diam-diam, disamarkan sebagai pemutakhiran rutin. Di sini, di tanah yang sudah begitu mati sampai tak ada yang tersisa untuk diawasi, mereka tidak repot-repot menyembunyikannya.
Larasati berdiri di tepi jalan, debu beterbangan di sekelilingnya, dan merasakan sesuatu yang dingin merayap dari perutnya ke dadanya. Ia datang ke timur untuk mencari satu orang, satu saksi tentang satu koridor. Tapi apa yang ia lihat di sini lebih besar dari yang ia takutkan. Ini bukan eksperimen lokal yang terbatas pada Sumberalas dan beberapa lembah di sekitarnya. Ini sudah meluas, sudah dipasang, sudah berjalan, di tanah yang jaraknya seberang gunung dari kampungnya. Protokol Kemarau bukan kebijakan untuk satu wilayah. Itu jaringan, dan jaringan ini sedang tumbuh.
Ia naik kembali ke ojek dan melanjutkan perjalanan, tapi matanya kini terus mencari ke garis bukit, dan ia menemukan lebih banyak. Dua, tiga, empat menara, tersebar di puncak-puncak bukit kapur, semuanya menghadap ke lembah-lembah yang dulu mungkin pernah hijau. Ia mencoba membayangkan jadwal dispersi untuk koridor ini, model cuaca yang menggesernya, awan-awan monsun yang setiap musim didorong lewat tanpa pecah, dan tanah yang setiap tahun mengering sedikit lebih dalam sampai akhirnya orang-orang menyerah dan menjual dan pergi. Berapa banyak lembah? Berapa banyak keluarga yang sudah pergi dari sini sebelum ia bahkan tahu sistem ini ada?
Di kota kecamatan yang ia tuju, Larasati turun di terminal kecil yang berdebu dan mencari penginapan paling murah, sebuah rumah singgah dengan kamar-kamar sempit di belakang warung makan. Ia mandi dengan air yang dijatah seember, makan nasi dengan lauk seadanya, dan duduk di tepi ranjang menghitung sisa uangnya yang kini benar-benar menipis. Ia membentangkan catatan-catatannya dan mulai memetakan apa yang ia lihat hari itu—posisi menara, perkiraan koridor, dugaan lembah-lembah target. Setiap garis yang ia tarik membuat gambaran besarnya semakin mengerikan. Ia datang dengan asumsi bahwa ia melawan sesuatu yang terbatas. Sekarang ia mulai mengerti bahwa kampungnya hanyalah satu titik kecil dalam peta yang jauh lebih luas, dan bahwa orang-orang yang menyusun protokol ini berpikir dalam skala yang tidak pernah ia bayangkan.
Malam turun cepat di pegunungan, gelap dan dingin dengan langit yang dipenuhi bintang—langit yang jernih, tanpa awan, langit yang di tempat lain mungkin indah tapi di sini berarti kematian pelan bagi tanah di bawahnya. Larasati duduk di depan kamar memandang langit kosong itu, dan untuk pertama kalinya merasa beban yang ia pikul terlalu besar untuk satu orang. Ia hanya teknisi lapangan yang dirumahkan, tanpa gaji, tanpa akses, dengan tiga salinan kartu dan sebuah pensil. Dan yang ia lawan adalah jaringan yang membentang seberang gunung, yang punya menara di setiap puncak dan tanda tangan di setiap akta.
Tapi di antara semua bukit yang gelap itu, di salah satu lembahnya, ada sebuah rumah tempat seorang tua bersembunyi—seseorang yang pernah berjalan jalan ini sebelumnya, yang tahu dari mana semua ini bermula. Larasati menarik napas dalam-dalam, melipat catatannya, dan membiarkan rasa takut itu mengeras menjadi sesuatu yang lebih berguna. Besok ia akan mencari Pak Hadi. Besok, kalau ia beruntung, ia tidak akan lagi sendirian membawa beban yang terlalu besar untuk dipikul satu orang.