Butuh dua hari penuh bertanya-tanya dengan hati-hati sebelum Larasati menemukannya. Ia tidak bisa terang-terangan mencari nama Pak Hadi—di kota sekecil ini, pertanyaan asing akan menyebar lebih cepat dari angin. Maka ia menyamar lagi, kali ini sebagai keponakan jauh yang mencari paman lama yang sudah lama tak berkabar, dan ia menyebar pertanyaannya tipis-tipis di pasar, di masjid, di warung kopi. Seorang penjual sayur tua akhirnya teringat: ada orang baru beberapa tahun lalu, pensiunan dari kota katanya, tinggal bersama cucunya di rumah di ujung jalan menuju lembah utara, rumah dengan pagar seng dan pohon mangga di halaman. Orangnya pendiam, jarang keluar, kata penjual itu. Sakit-sakitan.
Rumah itu memang di ujung jalan, terpisah dari rumah-rumah lain, dengan pagar seng berkarat dan sebuah pohon mangga yang daunnya menguning karena kurang air. Larasati berdiri di seberang jalan beberapa saat, mengamati. Tirai jendela tertutup rapat meski hari masih siang. Ada motor butut terparkir di teras. Dan di pojok atap, hampir tak terlihat dari kejauhan, sesuatu yang membuat tengkuknya menegang: sebuah benda kecil mengilap yang bisa jadi hanya kepala paku, atau bisa jadi sesuatu yang lain. Ia tidak yakin, tapi ia memilih untuk berasumsi yang terburuk. Rumah ini diawasi, atau setidaknya orang-orang di dalamnya hidup seakan-akan begitu.
Larasati tidak langsung mengetuk pintu depan. Ia berjalan memutar lewat gang sempit di belakang, melewati selokan kering dan tumpukan barang rongsokan, sampai ia menemukan pintu belakang dapur. Ia mengetuk pelan, tiga kali, lalu menunggu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, dan kali ini ia mendengar gerakan di dalam, lalu suara seorang lelaki muda, tegang dan curiga, bertanya siapa. Larasati menjawab pelan bahwa ia mencari Pak Hadi, bahwa ia dari koridor selatan, bahwa ia teknisi SMAN seperti beliau dulu. Hening yang panjang dan berbahaya mengikuti. Lalu pintu terbuka sedikit, rantai masih terpasang, dan sepasang mata muda menatapnya penuh ketakutan.
Cucu Pak Hadi, lelaki sekitar dua puluhan dengan wajah lelah jauh melampaui usianya, awalnya menolak mentah-mentah. Kakeknya tidak menerima tamu, katanya, kakeknya sakit, tolong pergi sebelum ada masalah. Larasati tidak mendorong dengan kata-kata. Ia hanya mengeluarkan dari ranselnya satu lembar salinan—bukan kartu, ia tidak sebodoh itu, tapi cetakan perbandingan data curah hujan yang ia bawa dari perpustakaan—dan menyelipkannya lewat celah pintu. 'Tunjukkan ini pada beliau,' katanya pelan. 'Kalau beliau menyuruh saya pergi setelah melihatnya, saya pergi. Saya janji.'
Pintu tertutup. Larasati menunggu di gang yang panas, jantungnya berdebar, setengah berharap setengah takut. Menit-menit berlalu seperti jam. Lalu pintu terbuka lagi, kali ini rantainya dilepas, dan cucu itu, dengan wajah yang berubah, mempersilakannya masuk dengan isyarat cepat dan gugup.
Ruang dalam rumah itu remang, tirai tertutup, bau obat dan kopi pahit. Di kursi malas di sudut, dengan selimut tipis menutupi kakinya meski udara panas, duduk seorang lelaki tua. Pak Hadi jauh lebih ringkih dari yang Larasati bayangkan dari cerita-cerita tentangnya. Tubuhnya kurus, tangannya berbintik, dan ada gemetar halus di jemarinya. Tapi matanya, saat menatap Larasati, masih tajam—mata seorang teknisi yang seumur hidupnya membaca anomali dalam angka. Di pangkuannya tergeletak lembar salinan yang tadi Larasati selipkan, sudah lecek karena digenggam.
'Kamu yang mengukur ini sendiri?' tanyanya, suaranya serak tapi mantap. 'Data lapangan ini. Kamu yang ambil dengan tanganmu sendiri di menara?'
Larasati mengangguk, dan mulai bicara. Ia menceritakan semuanya—Menara 14, awan yang lewat tanpa pecah, selisih angka, mode dispersi di firmware, pola tanah yang dibeli Wanagraha, malam di ruang kendali pusat, suara Wirasena, pelariannya. Ia bicara dengan bahasa teknis yang hanya akan dipahami sesama orang lapangan, karena ia tahu itulah satu-satunya cara meyakinkan lelaki ini bahwa ia bukan umpan, bukan jebakan, bukan orang yang dikirim. Hanya teknisi yang menemukan kebenaran yang sama, dan tidak bisa berpaling darinya.
Pak Hadi mendengarkan dalam diam, matanya makin lama makin basah. Saat Larasati selesai, lelaki tua itu menyandarkan kepalanya ke kursi dan menutup mata, dan untuk waktu yang lama tidak berkata apa-apa. Lalu ia berbicara, suaranya pelan, seakan setiap kata adalah beban yang ia angkat dari dalam.
'Aku menunggu seseorang seperti kamu,' katanya. 'Bertahun-tahun. Aku takut tak ada yang akan datang, atau kalau datang, sudah terlambat.' Ia membuka matanya, menatap langit-langit. 'Mereka memindahkanku ke sini karena aku mulai bertanya. Aku terlalu tua untuk dipenjara, terlalu lemah untuk dijadikan apa-apa, jadi mereka cukup membuangku. Mengawasiku. Memutus kabarku. Membuatku jadi orang tua sakit di ujung jalan yang tak ada yang percaya.' Ia menatap Larasati. 'Tapi kamu harus tahu satu hal, Nak. Protokol Kemarau yang kamu lawan—itu bukan ide SMAN. Bukan ide Wirasena, bukan ide siapa pun di divisi. Mereka cuma menjalankannya. Itu pesanan. Dari atas. Jauh di atas yang bisa kamu bayangkan.' Tangannya yang gemetar mencengkeram lengan kursi. 'Dan yang kamu lihat sekarang—pengeringan, tanah yang dibeli—itu baru permulaan. Ada fase kedua. Aku tahu ada, aku pernah melihat potongannya, tapi aku tidak pernah sempat mengerti seluruhnya sebelum mereka membuangku.' Ia menatap Larasati dengan mata yang penuh sesuatu antara ketakutan dan kelegaan. 'Dan kupikir, kalau ada yang bisa mengerti, mungkin itu kamu.'