Kabar itu datang sebelum Larasati sempat menggerakkan satu langkah pun dari paket bukti yang baru ia susun. Reza yang membawanya, masuk ke rumah kontrakan kosong itu dengan wajah pucat di pagi yang masih kelabu, ponsel sekali-pakai tergenggam di tangan seperti benda panas yang ingin segera ia jatuhkan.
"Mereka sudah jalan duluan," katanya, menyodorkan layar ke arah Larasati. "Semalam. Pernyataan internal, tapi sengaja dibocorkan supaya menyebar."
Larasati membaca dengan tenggorokan yang perlahan mengering. Tata bahasanya rapi, penuh istilah yang ia kenal dari rapat-rapat divisi—kata-kata yang dulu ia tulis sendiri dalam laporan, kini dibalik untuk menusuknya. Seorang teknisi lapangan, disebut dengan inisial yang tak benar-benar menyembunyikan siapa, diduga melakukan manipulasi sensor dan pencurian data operasional di koridor selatan. Kerusakan kalibrasi yang menyebabkan anomali curah hujan di beberapa wilayah—termasuk, dan ini bagian yang membuat napasnya tertahan, di Sumberalas—disebut sebagai akibat sabotase, bukan kebijakan. Teknisi itu dirumahkan setelah kelalaiannya terdeteksi, lalu kabur membawa salinan dokumen rahasia negara.
Mereka membalik segalanya. Kekeringan yang mereka rancang kini menjadi kerusakan yang ia sebabkan. Langit yang mereka tahan kini menjadi langit yang ia rusak.
"Pintar," bisik Reza, duduk bersila di tikar, menggosok wajahnya yang lelah. "Ini bukan untuk pengadilan. Ini untuk orang kampung. Untuk warga yang tidak tahu apa-apa soal kriptografi atau dispersi. Mereka cuma akan dengar satu kalimat: kekeringan kalian gara-gara teknisi yang merusak menara."
Larasati meletakkan ponsel itu di tikar dengan hati-hati, seolah takut memecahkannya. Ia merasakan sesuatu yang ganjil—bukan kemarahan, belum, melainkan semacam pusing dingin, seperti ketika kau berdiri di puncak menara dan tanah di bawah tiba-tiba terasa terlalu jauh. Selama berminggu-minggu ia membayangkan musuh yang menyangkalnya: data palsu, kata mereka, hasil rekayasa. Untuk itu ia sudah punya jawaban, segel kriptografi yang tak bisa mereka bantah. Tapi mereka tidak menyerang buktinya. Mereka menyerang dirinya. Dan terhadap itu, segel di file tak berarti apa-apa.
"Ibuku," katanya pelan. "Tetangga. Mereka akan baca ini."
Reza tidak menjawab, karena tidak ada yang bisa dijawab.
Menjelang siang, ponsel itu berdering—nomor yang Larasati hafal, nomor rumah tetangga sebelah ibunya, Bu Surti, yang selama ini jadi perantara karena ibunya tak punya telepon sendiri. Larasati ragu sebentar, lalu mengangkatnya. Suara ibunya datang gemetar, tipis, terdengar lebih tua dari yang ia ingat.
"Nduk," kata ibunya. "Orang-orang ke sini tadi. Bawa kertas. Bilang kamu yang rusak menara, kamu yang bikin sumur kita kering." Hening sebentar, dan dalam hening itu Larasati mendengar napas ibunya yang berat. "Bu Surti tadi nanya, benar nggak. Aku nggak bisa jawab, Nduk. Aku nggak ngerti."
Larasati menutup matanya. Di luar jendela, seorang anak menggiring kambing melewati gang, suara genta kecil di leher kambing itu berdenting samar. Hal-hal biasa terus berjalan di dunia, sementara di dalam dirinya sesuatu sedang dibakar.
"Bu," katanya, memilih kata dengan sangat hati-hati, karena ia tahu telepon ini bisa saja didengar. "Ibu percaya aku?"
Hening yang panjang. Lalu: "Kamu anakku."
Bukan ya. Bukan tidak. Hanya itu—kamu anakku—dan dalam tiga kata itu Larasati mendengar seluruh ketakutan ibunya, seluruh kebingungan perempuan tua yang dunianya tiba-tiba dipenuhi orang asing berkertas resmi yang menuduh putrinya. Ia ingin sekali bilang: aku akan jelaskan semuanya, aku akan kirim Ibu bukti, aku akan buktikan. Tapi ia tahu setiap kalimat itu cuma akan membuat ibunya jadi sasaran berikutnya.
"Jaga Bayu, Bu," katanya akhirnya. "Aku baik-baik saja. Aku akan pulang. Aku janji."
Setelah sambungan terputus, ia duduk lama tanpa bergerak. Reza membiarkannya, lalu berkata pelan, "Mereka tahu kamu peduli sama keluarga. Itu yang mereka pukul. Bukan datamu, hatimu."
Larasati mengangguk perlahan. Pusing dingin itu mulai surut, dan di tempatnya tumbuh sesuatu yang lebih keras, lebih tenang. Mereka pikir mencemarkan namanya akan membuatnya berhenti. Mereka pikir membuat ibunya bingung dan tetangganya curiga akan membuatnya menyerahkan kartu itu demi kebersihan namanya. Mereka tidak mengerti bahwa dengan menyentuh ibunya, mereka baru saja memutus jalan terakhir bagi Larasati untuk mundur.
"Mereka membalik narasinya," kata Larasati akhirnya, suaranya rata, "karena narasi resmi cuma mereka yang pegang. Selama yang bicara soal Sumberalas cuma menara dan kantor pusat, mereka selalu menang." Ia menatap Reza. "Berarti aku harus berhenti melawan narasi mereka. Aku harus bikin narasi yang lain."
Reza memandangnya, dan untuk pertama kali pagi itu ada sesuatu selain lelah di matanya. "Narasi dari mana?"
"Dari orang-orang yang sumurnya kering," kata Larasati. "Mereka tidak bisa membungkam semua kampung sekaligus." Tapi bahkan saat mengucapkannya, ia tahu itu baru gagasan, belum rencana. Dan di luar, di kejauhan, ia hampir bisa mendengar mesin besar itu mulai berputar ke arah berikutnya—bukan untuk menyangkalnya lagi, melainkan untuk mengubur dirinya.