Menara 12 berada di lereng yang menghadap jalur sungai kering, sekitar tiga kilometer dari batas Sumberalas. Larasati pernah menaikinya puluhan kali, mengganti sensor kelembapan yang sering termakan jamur di musim peralihan. Ia mengenal setiap baut di kakinya, setiap karat di tangga vertikalnya. Maka ketika Reza menunjukkan kabar berikutnya—foto menara itu dengan panel kendali yang dibongkar paksa, kabel terurai, dan keterangan resmi tentang "sabotase yang menonaktifkan operasi penyemaian"—Larasati langsung tahu dua hal sekaligus. Pertama, kerusakan itu memang nyata, seseorang benar-benar membongkar panel itu. Kedua, cara membongkarnya salah.
"Lihat di sini," katanya, menunjuk layar. "Mereka memotong jalur utama dari luar. Teknisi tidak akan pernah melakukan itu. Kalau aku mau menonaktifkan menara itu, aku tinggal masuk lewat panel servis, butuh tiga menit, tanpa merusak apa pun. Yang melakukan ini orang yang ingin kelihatan rusak, bukan orang yang tahu cara kerjanya."
Tapi ia tahu argumen itu tak ada gunanya. Tak seorang pun di kampung akan membaca kabel terpotong dan menyimpulkan apa yang ia simpulkan. Yang mereka lihat hanya menara yang rusak dan nama yang dituduh.
Sorenya, kabar itu sampai dalam bentuk yang lebih buruk. Reza, yang masih bisa menyusup ke sebagian saluran internal lewat akses lamanya yang belum sepenuhnya dicabut, menemukan rekaman yang sudah disiapkan: cuplikan kamera pengawas dari arah jalan menuju Menara 12, memperlihatkan sosok perempuan berjaket gelap dengan tas perkakas, berjalan di malam hari ke arah lereng. Wajahnya tak jelas, tapi posturnya, langkahnya, tas selempang itu—semuanya cukup untuk membuat siapa pun yang mengenal Larasati mengangguk yakin.
"Itu bukan kamu," kata Reza, datar.
"Bukan." Larasati menatap layar lama-lama. "Tapi mereka tidak butuh itu jadi aku. Mereka cuma butuh itu cukup mirip aku." Ia mengenali trik itu dari dalam: sistem SMAN menyimpan rekaman lapangan dalam mutu rendah untuk menghemat ruang, dan dalam mutu rendah, kebenaran dan kemiripan jadi sama saja. "Tanggalnya juga," tambahnya. "Mereka pasang tanggal saat aku sudah dirumahkan, saat aksesku sudah dicabut. Supaya ceritanya rapi: teknisi sakit hati, balas dendam, merusak menara yang dulu dia jaga."
Malam itu mereka tidak tidur. Reza memindai jaringan kepolisian sebisanya dan menemukan apa yang mereka takutkan: laporan resmi sudah masuk, dan nama Larasati sudah ada dalam daftar pencarian, bukan lagi sekadar urusan internal perusahaan, melainkan dugaan perusakan fasilitas vital negara. Itu mengubah segalanya. Selama ini ia buronan dalam pengertian yang kabur—orang yang dihindari, dicurigai, diawasi. Sekarang ia buronan dalam pengertian yang punya borgol.
"Kalau mereka datang ke kampung mencarimu," kata Reza pelan, "mereka akan mulai dari rumah ibumu."
Larasati sudah memikirkan itu sejak sore. Itulah kalkulasi paling kejam dari seluruh tuduhan ini—bukan untuk menangkapnya, tapi untuk membuatnya muncul. Selama ia di kampung, atau di dekat kampung, keluarganya jadi umpan. Setiap kali polisi atau orang konsorsium datang menanyakan Larasati ke ibunya, ke Bayu, ke tetangga, jaring itu mengetat di leher orang-orang yang ia cintai. Satu-satunya cara melonggarkannya adalah dengan menjauh—membuat dirinya jelas-jelas tidak ada di Sumberalas, supaya tak ada alasan menekan keluarganya untuk menyerahkannya.
Menjelang subuh ia menulis surat. Bukan untuk dikirim—ia tahu surat bisa disita, dibaca, dipakai melawannya—tapi untuk dititipkan, lewat satu orang yang ia masih percaya, kepada ibunya. Ia menulisnya pendek dan hati-hati, tanpa satu kata pun yang bisa membahayakan: bahwa ia harus pergi jauh untuk sementara, bahwa ibu jangan percaya kertas yang dibawa orang asing, bahwa ia akan kembali ketika semuanya jernih, dan bahwa apa pun yang dikatakan orang tentang dirinya, ibu harus tahu ia tak pernah merusak apa pun milik kampungnya sendiri. Ia menambahkan kalimat untuk Bayu: belajar yang rajin, jangan berhenti, kakak akan pulang sebelum kamu lulus. Lalu ia berhenti, pena tergantung, karena janji itu terasa terlalu besar untuk ditulis. Tapi ia tetap menulisnya, karena janji yang tak ditulis lebih mudah dilanggar.
"Kita pergi pagi ini," katanya pada Reza, melipat surat itu. "Sebelum mereka sempat memasang pos di jalan keluar."
Reza mengangguk, sudah mengemasi komputer terisolasinya. "Ke mana?"
Larasati menatap ke arah jendela, ke arah timur tempat langit mulai memucat di atas bukit-bukit yang kering. Ke arah lembah-lembah lain yang ia tahu juga retak, juga ditinggalkan, juga dituduh ditinggalkan oleh nasib. "Ke tempat yang sumurnya juga kering," katanya. "Kalau mereka mau menjadikanku kambing hitam atas satu kampung, aku akan cari semua kampung yang lain."