Menyatukan orang yang sudah lama belajar pasrah bukan perkara mudah. Larasati segera menemukan bahwa kepasrahan, ketika sudah berakar tiga tahun, jadi semacam perlindungan diri—lebih aman percaya pada nasib yang tak bisa dilawan ketimbang pada kebenaran yang menuntut kau melawan.
Di Watugede, ketika ia kembali—kali ini tanpa penyamaran pembeli tanah, melainkan dengan jujur, atau setidaknya cukup jujur—dan menggelar di atas meja warung perbandingan data curah hujan lembah itu dengan langit yang mereka semua lihat sendiri, orang-orang justru mundur. Bukan karena tak percaya, tapi karena terlalu percaya, dan takut pada apa yang harus mereka lakukan kalau itu benar.
"Kalau ini benar," kata pemilik warung, suaranya rendah, matanya melirik ke pintu, "berarti kita berhadapan sama perusahaan besar. Sama pemerintah. Apa yang bisa orang kayak kami lakukan, Mbak? Kami cuma petani."
Larasati sudah menduga pertanyaan itu, dan ia tahu jawaban yang salah akan mematikan segalanya. Ia tidak menjanjikan kemenangan. Ia tidak bicara tentang melawan pemerintah. Ia melakukan hal yang lebih sederhana dan lebih kuat: ia memberi mereka kata-kata untuk apa yang selama ini mereka rasakan tapi tak bisa namai.
"Saya nggak minta Bapak melawan siapa-siapa," katanya. "Saya cuma mau Bapak tahu satu hal. Selama ini, kalau hujan nggak turun, siapa yang Bapak salahkan?"
Pemilik warung mengangkat bahu. "Ya... nasib. Takdir."
"Berarti Bapak menyalahkan langit. Menyalahkan Tuhan, mungkin." Larasati menunjuk angka di kertasnya, lalu menunjuk ke arah jendela tempat menara di lereng tampak samar. "Tapi bukan langit yang menahan hujan Bapak. Bukan takdir. Itu." Ia membiarkan keheningan jatuh. "Selama tiga tahun Bapak marah sama langit yang nggak salah. Saya cuma mau tunjukkan ke mana seharusnya marah itu diarahkan."
Sesuatu berubah di wajah pemilik warung itu. Bukan keberanian, belum—tapi sesuatu yang lebih awal, lebih mendasar: pergeseran dari pasrah ke marah. Dan Larasati, yang dulu teknisi yang berpikir lewat benda dan angka, menemukan dirinya belajar sesuatu yang baru: bahwa kemarahan yang punya arah jauh lebih berguna daripada bukti yang tak punya pendengar.
Perlahan, lembah demi lembah, ia menemukan orang-orang yang sudah lebih dulu menyimpan kecurigaan tapi tak berani mengucapkannya. Di Karanglo, seorang guru sekolah dasar bernama Pak Toha yang sudah lama mencatat sendiri kapan awan datang dan kapan pergi, di buku tulis muridnya, karena ia merasa ada yang ganjil tapi tak punya kata untuk membuktikannya. Ketika Larasati menunjukkan data resmi yang janggal, Pak Toha mencocokkannya dengan catatannya sendiri, dan tangannya gemetar. "Saya pikir saya gila," katanya. "Saya pikir cuma saya yang merasa awan itu kayak... dibelokkan."
Di Sumberejo, seorang pemuda bernama Joko yang dulu pernah jadi buruh pasang pipa untuk proyek pengeboran sumur dalam Wanagraha, dan yang menyimpan kecurigaan sejak melihat betapa banyak air tanah yang mereka sedot keluar dari lembah yang katanya sedang kekeringan. "Kalau memang kering alami," kata Joko, "kenapa mereka malah ambil airnya buat dijual ke kota? Air kering kok ada yang dijual?"
Satu per satu, Larasati menemukan mereka—orang-orang yang masing-masing menyimpan satu kepingan, satu kecurigaan, satu catatan kecil—dan untuk pertama kali ia menyatukan kepingan-kepingan itu di hadapan mereka sendiri. Ia tidak menjadikan mereka pengikut. Reza, dengan kehati-hatian seorang yang tahu bagaimana jaringan bisa dibongkar, memperingatkan agar tak ada satu pun pusat yang bisa ditangkap lalu meruntuhkan semuanya. Maka yang lahir bukan organisasi dengan ketua dan kantor, melainkan sesuatu yang lebih cair: orang-orang dari lembah berbeda yang saling kenal, saling percaya, dan tahu bahwa kering mereka punya tangan, bukan takdir.
Mereka berkumpul untuk pertama kalinya secara utuh di sebuah rumah kosong di perbatasan dua lembah, malam hari, dengan lampu seadanya. Tujuh orang dari lima lembah. Larasati menatap mereka—petani, guru, buruh, pemilik warung, seorang ibu yang anaknya pindah ke kota—dan menyadari betapa rapuhnya benih ini, dan betapa berbahayanya. Satu pengkhianat, satu kebocoran, dan semua orang di ruangan ini bisa hancur.
"Kalau ada yang merasa ini terlalu berbahaya," katanya, "silakan pulang sekarang, dan saya janji tidak akan pernah menyebut nama siapa pun. Tidak ada yang memaksa."
Tak ada yang beranjak.
Pak Toha, guru itu, yang berbicara pertama. "Saya sudah tiga tahun bohong sama murid-murid saya," katanya pelan. "Saya ajari mereka tentang siklus air, tentang hujan yang turun karena awan jenuh. Lalu mereka tanya, Pak, kenapa awan kita nggak pernah jenuh? Dan saya nggak bisa jawab. Saya bilang nasib." Ia menatap Larasati. "Saya capek bohong, Mbak. Saya mau bisa jawab."
Larasati mengangguk, dan dalam dadanya sesuatu yang sejak pelariannya terasa berat mulai terasa, untuk pertama kali, ditanggung bersama. Ia masih buronan. Namanya masih tercemar. Keluarganya masih jauh dan rentan. Tapi ia tidak lagi sendirian membawa kebenaran. Sekarang ada tujuh tangan lain yang ikut memegangnya—dan tujuh tangan, ia tahu, jauh lebih sulit dipatahkan daripada satu.