Masalahnya, kebenaran yang dipegang tujuh tangan tetap diam kalau tak punya mulut. Dan setiap mulut resmi—koran, radio besar, stasiun televisi daerah—adalah mulut yang bisa ditekan, dibeli, atau ditakuti. Larasati sudah belajar itu dengan pahit dari jurnalis Sigit, yang percaya tapi tak berani karena medianya hidup dari iklan afiliasi Wanagraha.
Jawabannya datang dari tempat yang tak terduga: Joko, pemuda buruh pipa dari Sumberejo, yang ternyata punya hobi mengoprek perangkat elektronik dan menjalankan sebuah pemancar radio komunitas kecil—stasiun amatir bertenaga rendah yang biasanya cuma menyiarkan pengumuman desa, lagu dangdut, dan jadwal posyandu. Jangkauannya cuma beberapa lembah. Tak ada izin siar resmi yang besar, tak ada pemasang iklan, tak ada pemimpin redaksi yang bisa ditelepon dan ditekan. Justru karena kecil dan tak penting, ia tak terlihat.
"Pendengarnya berapa?" tanya Larasati.
Joko nyengir. "Nggak banyak. Tapi di lembah-lembah ini, radio masih hidup, Mbak. Sinyal ponsel susah, listrik byar-pet. Orang dengerin radio waktu di sawah, waktu masak. Ibu-ibu, bapak-bapak tua." Ia mengetuk kotak pemancarnya. "Yang dengerin radio ini justru orang yang paling kena kering."
Reza awalnya ragu—pemancar bisa dilacak, posisinya bisa ditemukan dengan alat pencari arah. Tapi Larasati dan Joko menyusun siasat: tidak menyiarkan tuduhan langsung yang bisa dijerat hukum, melainkan pertanyaan-pertanyaan dan kesaksian. Mereka tidak akan berkata "Wanagraha menahan hujan kalian". Mereka akan berkata: "Sudah berapa lama hujan tidak turun di tempat Anda? Apakah Anda perhatikan awan yang lewat tanpa pecah? Apakah ada perusahaan yang membeli tanah kering Anda? Mari kita bicara." Pertanyaan tak bisa dipidanakan. Tapi pertanyaan yang tepat bisa membangunkan ribuan orang yang selama ini mengira mereka sendirian.
Siaran pertama berlangsung larut malam. Pak Toha yang membacakannya, karena suaranya tenang dan dipercaya, suara guru yang mengajari setengah lembah itu membaca. Ia tidak menggebrak. Ia mulai dengan hal yang semua orang tahu: musim kering yang terlalu panjang. Lalu pelan-pelan ia membacakan catatan—catatannya sendiri, tentang awan yang datang dan pergi—dan mengundang siapa pun yang punya catatan serupa, ingatan serupa, kecurigaan serupa, untuk mengirim pesan ke nomor yang ia sebut.
Larasati duduk di samping pemancar, jantungnya berdebar, menunggu. Selama beberapa menit tak ada apa-apa, hanya desis statis dan suara jangkrik di luar. Lalu ponsel di tangan Joko bergetar. Lalu bergetar lagi. Lalu tak berhenti bergetar.
Pesan-pesan masuk dari lembah-lembah yang bahkan tak mereka kenal. Dari seorang ibu yang menulis bahwa ia mengira cuma kampungnya yang dikutuk. Dari seorang petani tua yang bilang ia sudah lama curiga karena menara di bukitnya "berdengung beda" sejak tiga tahun lalu. Dari seorang anak muda yang menulis bahwa keluarganya baru saja menjual sawah ke perusahaan dan menyesal, dan baru sekarang bertanya-tanya apakah keringnya disengaja. Satu demi satu, suara-suara yang selama ini tersebar dan terbungkam dan masing-masing mengira diri sendirian, mulai saling menemukan di gelombang radio kecil yang tak ada di peta siapa pun.
Dalam beberapa hari, pesan menyebar dari mulut ke mulut, dari radio ke obrolan grup ponsel desa, dari satu lembah ke lembah berikutnya. Bukan sebagai tuduhan yang gampang dibantah, melainkan sebagai pertanyaan yang gampang menyebar: kenapa awan kita tidak pecah? Pertanyaan, Larasati menyadari, jauh lebih sulit dibungkam daripada pernyataan, karena membungkam pertanyaan justru membuatnya terdengar lebih benar.
Reza, yang memantau jaringan internal sebisanya, melihat efeknya muncul dari sisi seberang. Di saluran-saluran SMAN dan dalam catatan internal yang masih bisa ia intip, mulai muncul kata-kata yang tak pernah ada sebelumnya: "gangguan informasi", "sentimen negatif di koridor selatan dan barat daya", "perlu klarifikasi proaktif". Untuk pertama kali, mesin besar itu menyadari ada sesuatu yang tak bisa ia padamkan dengan satu pernyataan pers, karena yang bicara bukan lagi satu teknisi yang bisa dicemarkan namanya, melainkan gumaman ratusan suara yang tak punya satu wajah untuk diserang.
"Mereka panik," kata Reza pelan, menatap layar. "Bukan panik besar. Tapi mereka mulai garuk-garuk."
Larasati menatap pemancar radio tua di sudut rumah, kotak logam sederhana yang berdengung pelan, dan untuk pertama kali sejak namanya dicemarkan, ia tersenyum. Mereka mengira mereka menguasai semua saluran. Mereka lupa pada yang paling kecil, yang paling tak penting, yang justru paling dekat dengan orang-orang yang mereka keringkan. "Bagus," katanya. "Biar mereka garuk-garuk. Garukan pertama selalu yang paling jujur."