Percepatan yang diperintahkan dari lantai sebelas itu turun ke lembah-lembah dalam bentuk yang jauh lebih kotor daripada kata "percepat" yang diucapkan Bu Pranata di ruang ber-AC. Larasati menyaksikannya sendiri, dan apa yang ia lihat membuatnya mengerti betapa jauh jaraknya antara keputusan yang bersih di atas dan kekejaman yang nyata di bawah.
Di Karanglo, jalan tanah satu-satunya yang menghubungkan kampung itu ke jalan raya tiba-tiba ditutup. Alasannya resmi dan rapi: "perbaikan jalan oleh kontraktor"—kontraktor yang, ketika Reza melacaknya, ternyata anak perusahaan yang sama. Sebuah palang dan gundukan tanah memutus akses, dan mendadak warga Karanglo tak bisa membawa hasil bumi keluar, tak bisa anak-anak ke sekolah di kecamatan, tak bisa orang sakit ke puskesmas tanpa berjalan kaki berkilo-kilo memutar lewat jalur setapak gunung.
Dan di tengah kesulitan yang sengaja diciptakan itu, datanglah orang-orang berbaju rapi dengan map. Mereka tidak mengancam—mereka tak pernah mengancam, itu bukan caranya. Mereka prihatin. Mereka bilang betapa sulitnya hidup di lembah yang terisolasi seperti ini, betapa beratnya membesarkan anak tanpa akses ke kota, betapa tidak pastinya masa depan di tanah yang kering. Dan, oh, kebetulan sekali, perusahaan masih bersedia membeli tanah—meski tentu harganya kini lebih rendah, mengingat keadaan. "Daripada terus menderita," kata salah satu dari mereka pada seorang ibu yang anaknya demam dan tak bisa dibawa ke puskesmas, "kenapa tidak ambil saja tawaran ini, pindah ke kota, mulai hidup baru?"
Larasati, yang menyamar di kerumunan, mendengar kalimat itu dan merasakan amarah yang dingin dan jernih. Ia mengerti sekarang mekanismenya secara utuh. Mereka tidak merampas. Mereka menciptakan keputusasaan, lalu menawarkan diri sebagai satu-satunya jalan keluar dari keputusasaan yang mereka ciptakan sendiri. Itu pemerasan yang dirancang sedemikian rupa agar terlihat seperti belas kasihan. Tak ada pistol, tak ada ancaman yang bisa dilaporkan. Hanya jalan yang ditutup, air yang dipersulit, dan map yang selalu siap di tangan orang yang prihatin.
Di Sumberejo lebih buruk lagi. Di sana, sumur bantuan yang dulu dibor perusahaan—dengan publikasi besar sebagai "tanggung jawab sosial"—tiba-tiba dipasangi meteran dan dikunci. Air yang dulu gratis kini harus dibayar, dan ketika warga protes, jawabannya halus: biaya pemeliharaan, harga energi naik, semua orang juga bayar air sekarang. Mereka yang menolak membayar mendapati pompa mati. Mereka yang tak punya uang melihat anak-anak mereka mengantre di mata air terakhir yang tersisa di celah bukit, berjam-jam, untuk seember air keruh.
Larasati mencatat semuanya. Ia memotret palang jalan dengan ponsel sekali-pakai, dari kejauhan, dengan tangan yang menjaga agar tak gemetar. Ia mencatat tanggal sumur dikunci, nama kontraktor jalan, kalimat-kalimat yang diucapkan orang-orang bermap itu sebagaimana ia dengar sendiri. Ia mengumpulkan kesaksian: ibu yang anaknya demam, lelaki yang dipaksa menjual karena tak tahan melihat keluarganya tanpa air, nenek yang berjalan empat kilo memutar gunung ke pasar.
"Ini lebih kuat daripada kartu Protokol Kemarau," katanya pada Reza malam itu, menunjukkan catatan dan foto-fotonya. "Kartu itu butuh orang yang ngerti kriptografi untuk percaya. Ini—" ia menunjuk foto palang jalan, foto sumur terkunci, "—ini tidak butuh penjelasan. Siapa pun yang lihat tahu apa artinya menutup jalan ke puskesmas lalu menawari beli tanah."
Reza mengangguk, tapi wajahnya muram. "Mereka mempercepat karena radio kita bikin mereka takut isunya membesar sebelum tanahnya beres. Artinya kita berhasil—tapi artinya juga warga yang menanggung tekanannya lebih keras. Kita memancing mereka jadi lebih kejam."
Larasati terdiam. Itu beban yang mulai ia rasakan, beban yang akan terus tumbuh: bahwa setiap langkahnya melawan tidak gratis bagi orang lain. Ia memantik perlawanan, dan perlawanan memantik balasan, dan balasan jatuh ke kepala orang-orang yang sumurnya sudah kering.
"Mereka pikir tekanan akan bikin warga menyerah lebih cepat," kata Larasati akhirnya, pelan tapi keras. "Tapi mereka salah hitung satu hal." Ia menutup buku catatannya. "Tekanan yang terang-terangan justru membuka mata. Selama keringnya bisa disebut nasib, orang menyerah. Tapi begitu kau menutup jalan ke puskesmas dan mengunci sumur lalu menyodorkan map—saat itu bahkan orang paling pasrah pun tahu ini bukan nasib. Ini tangan." Ia menatap Reza. "Mereka baru saja mengubah dugaan jadi bukti, di depan mata seluruh kampung. Dan mereka melakukannya sendiri."