Truk-truk tangki itu datang seperti penyelamat. Berwarna biru bersih, bertuliskan "Bantuan Air Bersih" dengan logo yayasan yang terdengar penuh kebajikan, mereka masuk ke lembah-lembah yang paling parah keringnya dengan iring-iringan yang nyaris seperti perayaan. Warga berkerumun dengan jeriken dan ember, anak-anak berebut di bawah keran, dan seorang petugas berseragam rapi memotret semuanya untuk—Larasati yakin—publikasi yang akan dipajang sebagai bukti betapa pedulinya perusahaan pada rakyat kecil.
Larasati berdiri di pinggir kerumunan di Watugede, memandangi truk biru itu, dan sesuatu mengganggunya. Bukan kebaikannya—ia sudah lama berhenti percaya pada kebaikan dari arah itu. Yang mengganggunya adalah pertanyaan teknis, pertanyaan seorang yang berpikir lewat aliran dan angka: air ini dari mana?
Lembah ini kering. Lembah-lembah di sekitarnya kering. Mata air mati, sumur dangkal. Lalu dari sumber mana truk-truk ini menarik puluhan ribu liter air bersih, hari demi hari? Air tidak datang dari ketiadaan. Seseorang menyedotnya dari suatu tempat.
Ia membawa pertanyaan itu pada Joko, pemuda buruh pipa yang dulu bekerja untuk proyek pengeboran Wanagraha. Dan Joko, ketika mendengarnya, wajahnya berubah, seperti orang yang baru saja menyadari sesuatu yang selama ini ada di depan matanya.
"Sumur dalam," katanya pelan. "Mbak, waktu saya kerja dulu, kami nggak ngebor sumur buat kasih air ke desa. Kami ngebor sumur dalam—dalam sekali, jauh lebih dalam dari sumur warga—buat narik air dari lapisan akuifer bawah. Yang kering itu cuma sumur-sumur dangkal warga dan air permukaan, karena hujannya ditahan. Tapi air tanah dalam masih ada. Perusahaan yang nguasain itu."
Reza menarik benang itu lewat dokumen yang masih bisa ia akses. Apa yang mereka temukan menyusun lingkaran yang lengkap dan kejam. Sumur-sumur dalam yang menyedot akuifer di lembah-lembah itu dikelola oleh anak perusahaan Wanagraha. Air yang ditarik dari bawah tanah itu sebagian dijual ke kota sebagai air kemasan dan pasokan industri—keuntungan pertama. Dan sebagian lagi, dialirkan kembali ke truk-truk tangki biru bertuliskan "Bantuan", lalu—dan ini bagian yang membuat Larasati menahan napas—dijual kembali kepada warga lembah yang sama, yang sumur dangkalnya mati karena hujan mereka ditahan.
Mereka menahan hujannya. Mereka menyedot air tanahnya. Lalu mereka menjual air itu kembali kepada orang-orang yang mereka keringkan—dengan label bantuan, dan kadang, ketika tekanan dinaikkan, dengan harga.
"Lingkaran setan yang sempurna," gumam Reza, menatap layar dengan rasa jijik yang jarang ia tunjukkan. "Kau curi hujannya. Kau curi air tanahnya. Lalu kau jadi satu-satunya yang punya air, jadi mereka harus membelinya darimu. Dan karena mereka miskin gara-gara keringnya, mereka makin gampang dipaksa jual tanah. Setiap putaran, kau menang dua kali."
Larasati mengumpulkan buktinya dengan hati-hati: foto truk, catatan sumber air di dokumen Reza, kesaksian Joko, kuitansi pembelian air yang ia kumpulkan dari beberapa warga Sumberejo yang mulai dipungut bayaran. Tapi bukti, ia tahu sekarang, bukanlah hal terpenting yang ia pegang. Yang terpenting adalah ketika ia menjelaskan lingkaran itu pada warga—pelan-pelan, dengan kata-kata sederhana, di warung Watugede pada suatu sore—dan ia melihat pemahaman menjalar di wajah mereka seperti api di rumput kering.
"Jadi," kata seorang ibu, suaranya bergetar, jeriken kosong tergeletak di kakinya, "air yang saya beli dari truk biru itu... airnya kampung saya sendiri? Yang mereka sedot dari bawah tanah saya, lalu mereka jual lagi ke saya?"
"Iya," kata Larasati pelan.
Keheningan yang turun di warung itu bukan keheningan pasrah yang dulu ia kenal. Ini keheningan yang berbeda—keheningan sebelum sesuatu pecah. Ia melihat tangan ibu itu mengepal di pangkuan. Ia melihat lelaki tua di sudut menatap ke arah jalan tempat truk biru itu biasa datang, dan di mata tua itu ada sesuatu yang sudah lama padam dan kini menyala kembali: kemarahan yang punya nama, kemarahan yang punya alamat.
"Selama ini kita mengira mereka menolong kita," kata lelaki tua itu, suaranya parau. "Kita berterima kasih. Kita antre. Kita bilang alhamdulillah ada yang peduli." Ia berdiri perlahan, lututnya gemetar. "Mereka mencuri hujan kita, mencuri air kita, lalu kita berterima kasih waktu mereka menjualnya balik." Ia memandang Larasati. "Mbak. Tunjukkan ini ke semua orang. Tunjukkan ke seluruh lembah."
Larasati mengangguk. Di luar, jauh di jalan, debu mengepul—truk tangki biru lain sedang datang, membawa air yang dicuri, dengan tulisan bantuan di lambungnya. Tapi kali ini, ketika kerumunan mulai berkumpul, Larasati menyadari ada yang berubah dalam cara mereka memandangnya. Bukan lagi tatapan orang putus asa yang menanti penyelamat. Tatapan orang yang baru saja mengerti siapa yang merampok mereka, dan mulai menghitung.