Mereka berkumpul di balai desa Sumberalas setelah magrib, ketika sebagian besar mata pengawas menganggap kampung sudah tidur. Larasati kembali ke tanah kelahirannya untuk pertama kali sejak menjadi buronan—diam-diam, lewat jalur belakang, dengan jantung yang berdebar bukan karena takut ditangkap saja, melainkan karena ini rumahnya, dan ia kembali sebagai orang yang namanya dicemarkan di rumahnya sendiri.
Balai desa itu sederhana: bangunan beratap seng, berlantai semen retak, diterangi beberapa bohlam yang menyala redup dari generator. Para tetua datang satu per satu, hati-hati, dengan rasa ingin tahu yang bercampur curiga. Mereka sudah membaca kertas yang dibawa orang-orang asing. Mereka sudah mendengar tuduhan: perusak menara, pencuri data, penyebab kekeringan. Dan kini perempuan yang dituduh itu berdiri di hadapan mereka, meminta didengar.
Di barisan depan duduk Bu Surti—perempuan tua yang dulu, ketika Larasati pertama pulang melihat sawah retak, mengangkat bahu dan berkata satu kata yang sejak itu menghantui Larasati: nasib. Bu Surti yang menjadi perantara telepon ibunya. Bu Surti yang, Larasati tahu, mewakili seluruh kampung dalam kepasrahannya. Kalau ada satu orang yang harus ia yakinkan malam ini, orang itu Bu Surti.
Larasati tidak memulai dengan pembelaan. Ia tahu, dari semua yang ia pelajari sepanjang pelarian, bahwa membela diri lebih dulu hanya akan membuatnya terdengar bersalah. Maka ia memulai dengan tanah mereka. Dengan sumur mereka. Dengan awan yang mereka semua lihat sendiri lewat tanpa pecah.
"Saya tidak akan minta Bapak-Ibu percaya pada saya," katanya, suaranya tenang di ruang yang sunyi. "Saya cuma minta Bapak-Ibu percaya pada mata Bapak-Ibu sendiri. Berapa kali kita lihat awan tebal datang, gelap, sampai kita siapkan ember, lalu lewat begitu saja ke gunung sebelah? Berapa kali?"
Gumaman pelan. Beberapa kepala mengangguk tanpa sadar.
Lalu, perlahan, ia gelar semuanya. Bukan dengan istilah teknis yang membingungkan, tapi dengan benda dan cerita. Ia tunjukkan perbandingan angka resmi dengan langit yang mereka lihat—angka yang bilang ada hujan di hari-hari yang semua orang di ruangan itu ingat sebagai kering. Ia ceritakan menara dan modul dispersi, dengan bahasa Reza yang membumi: bayangkan keran yang bisa membelokkan awan, sedikit demi sedikit, beribu kali, sampai hujan kita pelan-pelan habis. Ia ceritakan lembah-lembah lain yang ia kunjungi—Watugede, Karanglo, Sumberejo—yang sumurnya kering persis seperti Sumberalas, yang tanahnya dibeli murah oleh perusahaan yang sama. Dan ia ceritakan truk-truk biru yang menjual kembali air yang dicuri dari bawah tanah mereka sendiri.
Ruangan itu sunyi total. Bukan sunyi tak percaya. Sunyi orang yang sedang menyaksikan dunia mereka disusun ulang di depan mata.
"Lalu kenapa mereka bilang ini gara-gara kamu?" tanya seseorang dari belakang, suaranya tajam. "Kenapa ada kertas yang bilang kamu yang rusak menara?"
Larasati sudah menunggu pertanyaan ini, dan ia menjawabnya tanpa berkelit. "Karena saya tahu," katanya. "Karena saya teknisi yang memasang sensor-sensor itu, dan saya satu-satunya orang dari kampung ini yang bisa membaca apa yang sebenarnya dilakukan menara itu. Mereka tidak menuduh saya karena saya merusak. Mereka menuduh saya karena saya melihat. Kalau saya bisa mereka jadikan perusak, maka semua yang saya katakan jadi omongan orang dendam." Ia menatap mereka satu per satu. "Pikirkan. Kalau saya benar-benar merusak menara dan bikin kering, kenapa lembah-lembah lain yang tak pernah saya datangi juga kering? Kenapa polanya sama persis di tempat yang bahkan tak pernah saya injak sebelum bulan ini?"
Keheningan lagi. Dan dalam keheningan itu, Bu Surti perlahan berdiri.
Perempuan tua itu berdiri lama tanpa bicara, tangannya mencengkeram tepi kursi, wajahnya keras dan sulit dibaca. Larasati menahan napas. Seluruh ruangan menahan napas.
"Tiga tahun," kata Bu Surti akhirnya, suaranya parau dan pelan. "Tiga tahun aku bilang ini nasib. Aku bilang ke ibumu, ke semua orang, sabar, ini cobaan dari Yang di Atas." Ia berhenti, dan ketika ia melanjutkan, suaranya gemetar bukan karena takut, melainkan karena marah yang lama terbendung akhirnya menemukan jalan. "Aku menjual gelangku. Tetanggaku menjual sawahnya. Anak-anak kita pergi ke kota. Dan selama ini kita kira itu kehendak langit." Ia menatap Larasati, dan air matanya jatuh tanpa ia hapus. "Kalau yang kamu bilang benar—dan aku melihat angka-angka ini, dan aku ingat awan-awan yang lewat itu—maka selama tiga tahun kita memohon kepada langit yang tak pernah salah, sementara yang mencuri air kita duduk di kota minum air kita."
Ia berbalik menghadap seluruh ruangan, dan suaranya, yang dulu bicara tentang nasib, kini bicara tentang sesuatu yang lain. "Aku sudah tua. Aku tidak takut lagi. Tapi aku tidak mau mati dengan terus mengira ini takdir." Ia memandang para tetua. "Jangan ada yang menjual tanah. Tidak satu jengkal pun. Dan kita minta penjelasan—terang-terangan, resmi—kenapa hujan kita ditahan."
Sesuatu pecah di ruangan itu malam itu, dan yang pecah bukan langit. Yang pecah adalah kepasrahan yang sudah tiga tahun mengikat lembah itu. Satu per satu, suara-suara bangkit—marah, takut, tapi bangkit. Mereka bicara tentang menolak menjual, tentang menuntut penjelasan, tentang memberi tahu lembah-lembah lain. Larasati berdiri di tengah-tengah, mendengarkan perlawanan yang dulu hanya milik satu teknisi yang ketakutan kini menjadi milik sebuah desa, dan menyadari bahwa ia telah melewati sebuah garis yang tak bisa dilangkahi balik.
Di luar, di kejauhan, menara-menara berdiri diam di bawah langit malam yang seperti biasa terlalu jernih. Tapi di balai desa beratap seng itu, untuk pertama kalinya, langit yang lain—langit ketakutan yang selama ini menutupi lembah—akhirnya mulai pecah.