Berita itu tidak datang seperti serangan. Ia datang seperti embun—tipis, pelan, menyebar tanpa suara, sampai pagi-pagi orang mendapati segalanya basah dan tak ingat kapan hujannya turun.
Mula-mula hanya sebuah unggahan di grup percakapan desa sebelah. Sebuah tangkapan layar dokumen yang tampak resmi, berkop instansi, menyebut bahwa 'oknum mantan teknisi SMAN berinisial L.W. telah diberhentikan karena masalah kedisiplinan dan kini diduga menyebarkan informasi keliru yang meresahkan'. Tidak menyebut nama penuh. Tidak perlu. Di empat desa yang sudah ramai membicarakan perempuan yang membongkar kemarau, semua orang tahu siapa L.W.
Lalu muncul yang kedua. Sebuah video pendek, kabur, seperti diambil diam-diam: seorang perempuan—bukan Larasati, tapi cukup mirip dari belakang, cukup samar—berbicara cepat dan kacau di sebuah ruangan, gerakannya gelisah, suaranya tak jelas. Keterangan di bawahnya: 'kondisi terkini sumber penyebar isu kekeringan'. Tak ada yang bisa membuktikan itu Larasati. Tak ada yang bisa membuktikan itu bukan. Dan dalam ketidakpastian itulah racunnya bekerja.
Larasati melihatnya pertama kali di ponsel Joko, di belakang warung Watugede. Ia menatap layar itu lama, dan tangannya yang memegang ponsel bergetar halus.
"Itu bukan saya," katanya. Suaranya tenang, tapi terlalu tenang, seperti orang yang menahan diri agar tidak berteriak. "Ruangan itu bukan ruangan yang pernah saya masuki. Perempuan itu bukan saya."
"Saya tahu," kata Joko.
"Tapi orang yang tidak kenal saya tidak tahu." Ia mengembalikan ponsel itu. "Itu yang mereka mau. Mereka tidak perlu meyakinkan orang yang sudah percaya saya. Mereka cuma perlu menanam keraguan di kepala orang yang belum."
Dan keraguan itu menyebar lebih cepat dari kebenaran apa pun. Dalam dua hari, suasana di empat desa berubah. Di Karanglo, seorang anggota jaringan yang minggu lalu berapi-api kini tak mau membuka pintu. Di Sumberejo, ibu-ibu yang dulu mengangguk saat radio menyiarkan pertanyaan tentang awan kini saling berbisik: benarkah perempuan itu waras? Benarkah ia tak punya dendam pribadi karena dipecat? Bukankah orang yang baru dipecat memang suka mengarang cerita?
Pak Toha mengumpulkan beberapa anggota inti di rumahnya yang sempit. Wajah-wajah itu tegang, dan untuk pertama kali Larasati melihat di antara mereka sesuatu yang lebih berbahaya dari ketakutan: keraguan terhadap dirinya.
"Saya tidak menuduh," kata seorang lelaki dari Karanglo, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Tapi orang-orang bertanya. Anak saya pulang dari kota, ia lihat video itu, ia bilang ke saya, 'Pak, hati-hati ikut orang yang ada masalah jiwa.' Saya tahu itu bohong. Tapi bagaimana saya jelaskan ke anak saya bahwa itu bohong, kalau yang saya punya cuma kata-kata, dan yang mereka punya video?"
Ruangan diam. Larasati merasakan tatapan-tatapan itu—bukan tatapan benci, melainkan tatapan menunggu. Mereka menunggu ia melawan tuduhan itu, dan ia tahu, dengan kepahitan yang dingin, bahwa setiap kata pembelaan tentang dirinya sendiri justru akan membuatnya terdengar persis seperti yang mereka tuduhkan: perempuan terobsesi membela nama sendiri.
Maka ia memilih jalan lain.
"Saya tidak akan membela diri saya," katanya pelan, dan beberapa kepala terangkat heran. "Kalau saya habiskan napas membuktikan saya waras, saya kalah, karena pembicaraan jadi tentang saya, bukan tentang hujan kita. Jadi mari kita berhenti membicarakan saya." Ia membentangkan buku catatan langit Pak Toha di lantai. "Ini bukan saya yang menulis. Ini ditulis Pak Toha selama dua tahun, jauh sebelum kenal saya. Angka curah hujan resmi—ini bukan saya yang mengarang, ini diterbitkan SMAN sendiri. Awan yang lewat tanpa pecah—itu bukan saya yang bilang, itu mata Bapak-Ibu sendiri yang melihat selama tiga tahun."
Ia menatap lelaki dari Karanglo. "Bilang pada anak Bapak: tidak usah percaya pada perempuan yang katanya gila. Percaya saja pada sumurmu sendiri. Tanyakan padanya—apakah sumur kita kering karena saya gila? Apakah awan kita lewat karena saya dipecat? Kalau saya hilang besok, kalau saya benar-benar gila dan dikurung, apakah hujan kalian akan turun?"
Keheningan berubah. Bukan keheningan ragu lagi, tapi keheningan orang yang baru saja menemukan kembali pijakan.
"Mereka mengubah pertanyaannya," kata Larasati. "Dari 'kenapa awan kita tak pecah' jadi 'apakah Larasati waras'. Itu jebakannya. Jangan ikut menjawab pertanyaan mereka. Kita kembalikan ke pertanyaan kita. Hujan kita tetap pertanyaannya. Saya cuma orang yang kebetulan menemukan jawabannya. Hilangkan saya, jawabannya tetap ada di langit."
Malam itu Larasati pulang ke tempat persembunyiannya dengan tubuh lelah yang aneh—lelah yang bukan dari berjalan, melainkan dari menahan diri untuk tidak membela namanya sendiri. Di kegelapan, ia membiarkan dirinya, untuk satu menit saja, merasakan luka itu. Mereka tidak memenjarakannya. Mereka mencuri sesuatu yang lebih buruk: hak untuk dipercaya sebagai orang waras.
Ia mengusap wajahnya, lalu berhenti. Tidak. Pertanyaannya tetap hujan. Bukan dirinya. Ia mengulang itu dalam hati sampai tertidur, seperti orang memegang jangkar di tengah arus.