Yang membuat Larasati tak pernah benar-benar tenang adalah ini: ia tahu, secara akal, bahwa di antara orang-orang yang mempercayainya pasti ada satu yang akan menjualnya. Bukan karena jahat. Karena haus.
Kemarau, ia telah belajar, tidak membuat orang heroik. Kemarau membuat orang lapar, dan orang lapar bisa dibeli dengan harga yang sangat murah: seember air bersih, satu drum, jaminan bahwa anaknya tidak mati kepanasan. Ia tidak bisa marah pada kemungkinan itu. Ia hanya bisa berjaga.
Pertemuan malam itu digelar di gudang kosong di tepi Sumberejo—bekas tempat penyimpanan tembakau yang sudah lama tak dipakai, atapnya bocor di beberapa tempat meski tak ada hujan yang bisa masuk. Sebelas orang hadir dari empat desa. Mereka membahas langkah berikutnya: bagaimana menjaga jaringan tetap utuh setelah serangan pencemaran nama, bagaimana radio Joko bisa terus menyiarkan tanpa dilacak, bagaimana melindungi keluarga anggota yang mulai ditekan.
Larasati memperhatikan, seperti selalu, hal-hal kecil. Dan malam itu hal kecil yang ia perhatikan adalah Sapari.
Sapari dari Karanglo, lelaki paruh baya dengan tiga anak dan istri yang sedang sakit. Ia selalu hadir, selalu mengangguk, selalu di barisan yang setia. Tapi malam ini ia datang dengan sepatu yang bersih—aneh, untuk orang yang katanya berjalan kaki tiga kilometer lewat jalan tanah. Dan dua kali, saat pembicaraan menyentuh soal lokasi pertemuan berikutnya, Sapari bertanya lebih rinci dari yang perlu. Di mana persisnya. Jam berapa. Siapa saja yang akan datang.
Larasati tidak berkata apa-apa malam itu. Ia hanya, ketika ditanya soal pertemuan berikutnya, menyebut sebuah tempat dan jam—lalu, setelah pertemuan bubar, ia diam-diam memberi tahu hanya tiga orang yang paling ia percaya bahwa tempat sebenarnya berbeda. Joko. Pak Toha. Bu Surti. Sapari ia biarkan memegang informasi yang salah.
Umpan itu terjawab dua malam kemudian.
Di tempat yang Larasati sebutkan dalam pertemuan—gudang di tepi Watugede—muncul, tepat pada jam yang ia sebut, dua kendaraan tanpa pelat jelas dan beberapa orang berseragam keamanan Wanagraha bersama dua polisi. Mereka menggerebek gudang kosong itu, menemukannya kosong, dan berdiri kebingungan di bawah cahaya senter mereka sendiri.
Larasati menyaksikannya dari kejauhan, dari balik rerumpunan jagung kering di seberang jalan, jantungnya berdebar bukan karena takut tertangkap—melainkan karena kepastian yang ia dapat. Ia benar. Ada yang menjual.
Ia tidak segera mendatangi Sapari. Ia menunggu sampai pagi, sampai amarahnya cukup dingin untuk tidak meledak. Lalu ia datang sendiri ke rumah Sapari di Karanglo, tanpa siapa-siapa.
Sapari membuka pintu, dan begitu melihat Larasati, wajahnya runtuh. Ia tidak berpura-pura. Mungkin itu yang membuat semuanya lebih menyakitkan—ia bahkan tidak punya tenaga untuk berbohong.
"Istri saya," kata Sapari, suaranya pecah sebelum Larasati sempat bicara. "Mereka datang dua minggu lalu. Mereka tahu istri saya sakit, butuh air bersih untuk obat, untuk cuci. Mereka bilang—mereka bilang mereka bisa kirim air, satu tangki seminggu, gratis. Cuma minta saya kasih tahu di mana kalian berkumpul." Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Saya tidak mau, Mbak. Sumpah saya tidak mau. Tapi malam itu istri saya panas tinggi, dan tidak ada air, dan saya—"
Larasati berdiri diam di ambang pintu. Di dalam, ia bisa melihat istri Sapari berbaring di balai-balai, kurus, wajahnya pucat. Dan di sudut dapur, ia melihatnya: sebuah drum biru berisi air, bersih, penuh. Harga seorang lelaki.
Semua kata-kata marah yang ia siapkan sepanjang perjalanan menguap. Yang tersisa hanya kelelahan yang dalam, dan kepahitan yang lebih dalam lagi—bukan terhadap Sapari, melainkan terhadap orang-orang yang tahu persis cara melakukan ini. Yang menghitung dengan dingin bahwa istri sakit ditambah anak haus sama dengan satu pengkhianat, dan air sama dengan kunci untuk membuka mulut siapa pun.
"Mereka tahu cara membeli kita," kata Larasati akhirnya, suaranya pelan. "Mereka tahu persis. Mereka yang mengeringkan sumurmu, lalu mereka datang membawa air yang mereka curi dari sumurmu sendiri, dan minta kau bayar dengan teman-temanmu. Itu bukan kebetulan, Pak Sapari. Itu rancangan."
Sapari menangis, lelaki tua menangis seperti anak kecil. "Saya akan keluar dari jaringan. Saya tidak pantas—"
"Tidak." Larasati menggeleng. Ia menatap drum biru itu lama, lalu menatap istri Sapari yang sakit. "Kalau kau keluar, kau tetap haus, dan mereka tetap menang. Dengarkan saya. Kau akan tetap di jaringan. Tapi mulai sekarang, apa pun yang kau dengar dari kami, kau ceritakan pada mereka. Setiap kata. Hanya saja—" ia menatap Sapari lurus-lurus, "—yang kau dengar dari kami, akan jadi yang kami ingin mereka dengar."
Sapari menatapnya, tak mengerti, lalu perlahan mengerti, dan dalam pemahaman itu ada sesuatu yang patah sekaligus tertebus. Larasati membalik senjata yang mereka tanam di tengah jaringannya menjadi miliknya sendiri.
Ia berbalik pergi, meninggalkan lelaki itu bersama istrinya dan drum air biru yang kini menanggung beban yang jauh lebih berat. Di jalan pulang, di bawah matahari yang membakar tanah retak, Larasati menyadari bahwa perang ini telah masuk ke wilayah yang paling ia takuti: wilayah di mana kepercayaan jadi barang paling langka, lebih langka dari air.