Mereka datang menjelang subuh, jam yang dipilih karena tubuh paling lemah dan kewaspadaan paling rendah, jam ketika bahkan anjing-anjing kampung tidur.
Joko sedang menyiarkan dari ruang belakang warung Watugede ketika lampu di jalan padam—bukan padam karena listrik mati, melainkan dimatikan, ia tahu itu kemudian, untuk menutupi gerakan. Suara pertama yang ia dengar adalah pintu depan warung yang ditendang. Ia sempat menarik kabel pemancar, menyembunyikan kartu memori siaran ke dalam karung beras, sebelum tangan-tangan menariknya keluar.
Mereka menangkap empat orang malam itu. Joko, karena radio. Dua anggota dari Sumberejo yang kebetulan menginap di warung. Dan, yang paling memukul Larasati ketika ia mendengarnya, anak Pak Toha—pemuda yang menyerahkan surat ke kantor pos, yang wajahnya 'belum dikenal pengawas', yang ternyata sudah dikenal sejak hari ia menyerahkan surat itu.
Tuduhannya disusun rapi: penyebaran berita bohong yang meresahkan, penggunaan frekuensi radio tanpa izin, provokasi. Tiga pasal yang masing-masing tampak kecil, tapi bersama-sama cukup untuk menahan orang berhari-hari, cukup untuk membuat keluarga mereka panik, cukup untuk mengirim pesan ke seluruh jaringan: ini yang terjadi pada orang yang ikut.
Larasati sendiri nyaris ikut tertangkap.
Ia sedang dalam perjalanan menuju Watugede malam itu—untuk mengganti baterai pemancar, tugas kecil yang biasa—ketika ponsel sekali pakai yang ia simpan bergetar. Satu pesan, dari nomor yang tak ia kenal, hanya tiga kata: Jangan ke warung. Ia berhenti di tengah jalan tanah, di kegelapan, dan tubuhnya menegang. Lalu pesan kedua: Putar balik sekarang. Mereka di sana. R.
Reza. Entah dari mana ia tahu, entah jaringan apa yang masih ia punya di pusat, tapi peringatan itu datang tepat sepuluh menit sebelum Larasati akan tiba di mulut jalan yang sudah dijaga. Ia memutar balik, menembus kegelapan kebun, jantungnya berdebar keras, dan dari kejauhan ia melihat sorot lampu kendaraan dan bayangan orang-orang bergerak di sekitar warung yang seharusnya gelap dan tidur.
Ia berjongkok di balik tanggul kering selama hampir satu jam, menyaksikan mereka membawa Joko keluar dengan tangan terikat, menyaksikan pemancar radio—pemancar yang menjadi suara empat desa—diangkut ke dalam mobil. Ia ingin berlari ke sana. Setiap serat tubuhnya ingin berlari ke sana. Tapi ia tahu, dengan kepahitan yang menggerogoti, bahwa jika ia tertangkap malam ini, semua yang mereka bangun runtuh sekaligus. Joko ditangkap sebagai anggota. Larasati ditangkap sebagai bukti bahwa seluruh gerakan ini memang ulah satu buronan gila.
Maka ia tinggal di balik tanggul, dan membiarkan mereka membawa kawan-kawannya, dan itu adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan.
Kabar menyebar cepat di pagi hari, dan bersama kabar itu menyebar ketakutan. Di rumah Pak Toha, Larasati menemukan guru tua itu duduk membisu, buku catatan langitnya tergeletak tak tersentuh di pangkuan, memikirkan anaknya di tahanan. Ia tidak menyalahkan Larasati. Itu justru yang paling menyiksa. Ia hanya menatap kosong dan berkata, "Saya yang menyuruh dia mengantar surat itu. Saya pikir wajahnya aman."
"Tidak ada yang aman, Pak," kata Larasati pelan, dan suaranya pecah sedikit. "Itu salah saya. Saya membawa Bapak-Ibu ke dalam ini."
"Kau tidak membawa kami ke mana-mana." Suara Bu Surti, dari ambang pintu. Perempuan tua itu masuk dengan tongkatnya, wajahnya keras. "Kemarau yang membawa kami. Kau cuma menunjukkan jalannya. Jangan kau ambil semua dosa mereka ke pundakmu, Larasati. Itu kesombongan, namanya."
Kata-kata itu menampar Larasati dengan cara yang aneh, membuatnya tegak kembali.
Mereka berkumpul siang itu—yang tersisa, yang tidak tertangkap, yang tidak goyah. Lebih sedikit dari sebelumnya, wajah-wajah yang lebih takut, tapi masih ada. Larasati berdiri di hadapan mereka dengan beban tertangkapnya empat kawan menekan dadanya, dan ia tahu kata-kata berikutnya akan menentukan apakah jaringan ini hidup atau mati hari ini.
"Mereka menangkap empat orang," katanya. "Untuk menakuti empat ratus. Itu yang mereka mau—supaya kalian semua melihat Joko diborgol dan berpikir, lebih baik saya diam. Dan kalau kalian berpikir begitu, mereka menang tanpa harus menangkap kalian satu-satu." Ia menatap mereka. "Joko tidak ditangkap karena bersalah. Ia ditangkap karena efektif. Radio itu bekerja. Pertanyaan kita menyebar. Mereka tidak menahan orang yang tak berbahaya bagi mereka. Penangkapan ini bukan tanda kita kalah. Ini tanda kita mulai menyakiti."
Ia membuka karung beras yang ia ambil diam-diam dari warung sebelum fajar—karung tempat Joko menyembunyikan kartu memori siaran terakhir. "Radio mereka ambil. Tapi suara tidak ada di kotak besi. Suara ada di mulut kita. Mereka bisa menahan pemancar. Mereka tidak bisa menahan empat desa yang sudah tahu cara bertanya."
Seseorang perempuan dari Sumberejo, yang anaknya termasuk yang ditangkap, berdiri. Wajahnya basah air mata, tapi rahangnya keras. "Kalau begitu kita tuntut mereka dibebaskan. Terang-terangan. Kita datangi kantor polisi ramai-ramai. Biar semua orang lihat kita tidak takut."
Larasati menatapnya, dan untuk pertama kali sejak subuh, sesuatu yang hangat menyala di dadanya. Ketakutan yang mereka tanam tidak tumbuh jadi diam. Ia tumbuh jadi marah. Dan marah, Larasati telah belajar, jauh lebih sulit dipadamkan daripada satu pemancar radio.