Mereka tahu di mana letak titik terlemah Larasati, karena titik terlemah setiap orang sama: bukan dirinya, melainkan orang-orang yang ia cintai.
Kabar pertama datang lewat Bu Surti, yang menerima telepon dari ibu Larasati di Sumberalas. Sebuah mobil bagus—jenis mobil yang tak pernah masuk kampung kecuali membawa orang penting—berhenti di depan rumah ibu Larasati tiga hari lalu. Dua orang turun: seorang lelaki berkemeja rapi dan seorang perempuan yang membawa map. Mereka sopan. Mereka membawa oleh-oleh, kue dan gula. Mereka duduk lama, dan mereka bicara tentang masa depan.
Larasati mendengarkan cerita itu dengan tangan terkepal. Ia bisa membayangkan adegannya persis: ibunya yang tua dan lelah, di rumah yang sumurnya kering, disuguhi tawaran yang dirancang untuk terdengar seperti penyelamatan.
Tawaran itu, kata Bu Surti, adalah 'kompensasi'. Wanagraha, lewat dua orang itu, menawarkan membeli tanah ibu Larasati dengan harga yang—untuk ukuran kampung kering—terdengar fantastis. Dua kali lipat harga pasar. Tunai. Dan lebih dari itu: mereka menawarkan 'membantu menyelesaikan masalah hukum yang menimpa keluarga'. Mereka tahu Bayu, adik Larasati, sedang mengurus beasiswa untuk melanjutkan sekolah di kota. Mereka menyebutnya secara halus—bahwa 'sayang sekali kalau masa depan adik yang cerdas itu terganggu oleh urusan kakaknya', dan bahwa 'tentu ada cara agar beasiswa itu tetap aman'.
"Itu bukan tawaran," kata Larasati pelan. "Itu pesan. Mereka bilang ke ibu saya: kami bisa menyelamatkan Bayu, atau kami bisa menghancurkannya. Tergantung kau."
Ia segera tahu, dari potongan-potongan kabar berikutnya, bahwa ancaman terhadap Bayu bukan gertakan. Beasiswa yang sudah hampir pasti diterima Bayu—dari sebuah yayasan yang, Larasati telusuri dengan dingin, ternyata punya kaitan dana dengan grup yang sama yang menaungi Wanagraha—mendadak 'ditinjau ulang'. Sebuah surat datang ke sekolah Bayu, menyebut adanya 'pertimbangan tambahan terkait latar belakang keluarga'. Bahasa birokrasi yang sopan untuk satu hal: masa depan adikmu kami pegang.
Malam itu Larasati tidak bisa diam di tempat persembunyiannya. Ia berjalan keluar ke ladang gelap, menatap langit yang seperti biasa terlalu jernih, dan untuk pertama kali sejak pelariannya dimulai, ia merasakan godaan untuk menyerah menggerogoti pertahanannya.
Ia membayangkannya dengan jelas, dengan kejam: kalau ia menyerahkan diri, kalau ia mengembalikan kartu memori, kalau ia diam. Ibunya mendapat uang yang cukup untuk hidup tenang sisa umurnya. Bayu mendapat sekolahnya, masa depannya, jalan keluar dari lembah kering ini. Dua orang yang paling ia cintai akan selamat. Dan ia—ia mungkin dipenjara, atau mungkin diberi 'amnesti' seperti yang dulu dijanjikan Wirasena di ruang terkunci. Tapi mereka selamat.
Bukankah itu yang seharusnya dilakukan seorang anak, seorang kakak? Bukankah melindungi keluarga lebih nyata, lebih benar, lebih bisa dipertanggungjawabkan daripada melindungi gagasan abstrak tentang keadilan untuk empat desa?
Ia berdiri lama di kegelapan, dan godaan itu nyata, sangat nyata, lebih nyata dari semua keberanian yang ia tunjukkan di depan jaringan. Karena di balai desa ia bicara tentang hujan untuk semua orang. Tapi di ladang gelap ini, sendirian, yang ia pikirkan hanya wajah ibunya dan wajah adiknya.
Ia duduk di tanah retak, dan ia menangis—diam-diam, tanpa suara, untuk pertama kali sejak menjadi buronan. Bukan menangis lemah. Menangis seorang yang menyadari bahwa musuh telah menemukan cara untuk membuatnya kalah tanpa menangkapnya: cukup dengan memaksa dirinya memilih antara orang-orang yang ia cintai dan orang-orang yang mempercayainya.
Ketika ia berhenti menangis, ia tidak punya jawaban. Itu yang paling jujur. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Untuk pertama kali sepanjang perlawanan, ia merasa benar-benar terpojok—bukan oleh polisi, bukan oleh tuduhan, tapi oleh cinta itu sendiri, yang mereka ubah jadi tali.
Ia hanya tahu satu hal: ia harus menemui ibunya. Bukan untuk menyerah, bukan untuk melawan—ia belum tahu yang mana. Ia harus menemui ibunya karena keputusan sebesar ini tidak boleh ia ambil sendiri, di ladang gelap, atas nama orang yang bahkan belum ia tanya.
Ia bangkit, mengusap wajahnya yang kotor oleh debu dan air mata, dan mulai menyusun rencana untuk pulang ke Sumberalas—diam-diam, lewat jalan tikus, ke rumah yang sumurnya kering, untuk bertanya pada perempuan tua yang melahirkannya: Ibu, saya harus bagaimana?