Senyum Senna mengikuti Arka pulang. Sepanjang perjalanan dari velodrom semen ke gudang sewaannya, senyum itu menempel di belakang matanya seperti bayangan yang tak bisa ia kayuh lepas. Anak jalanan beruntung. Tiga pekan. Mustahil. Setiap kata yang tak diucapkan Senna terdengar lebih keras justru karena tak diucapkan.
Malam itu Arka tidak tidur. Ia berbaring di kasur tipisnya, memandang langit-langit seng gudang yang ditetesi cahaya jalan, dan untuk pertama kalinya ia membiarkan dirinya menghitung. Tiga pekan. Dua puluh satu hari. Lawan-lawan yang sudah berlatih bertahun-tahun. Sebuah kaki yang baru tiga bulan belajar tidak membunuh pemiliknya. Angka-angka itu seharusnya membuatnya menyerah. Tapi ada sesuatu yang aneh terjadi di dadanya. Bukan takut. Bukan juga keberanian bodoh. Lebih seperti ketika dulu, di lampu merah Jalan Riau, ia memandang tiga jersey mengkilap dan tahu mereka mengira ia bukan apa-apa. Senyum Senna adalah lampu merah yang lain. Dan Arka tak pernah bisa membiarkan dirinya kalah dari orang yang sudah memutuskan ia akan kalah.
Pukul lima pagi ia sudah di gerbang Rajawali, menunggu Hasan datang membuka gembok. Pria tua itu tiba dengan motornya, melihat Arka berdiri di sana dalam gelap, dan tahu tanpa bertanya bahwa anak itu telah memutuskan sesuatu.
"Aku terima," kata Arka, sebelum Hasan sempat turun. "Ajukan namaku. Aku mau coba."
Hasan tidak menyambutnya dengan kelegaan. Ia menatap Arka lama, kaki kirinya menahan berat tubuhnya di atas sandal jepit. "Kamu tahu kemungkinannya," katanya. "Aku sudah bilang. Diajukan bukan lolos."
"Aku tahu. Tapi tidak diajukan berarti pasti kalah. Aku lebih suka kalah karena dilawan daripada karena menyerah."
Sesuatu bergerak di wajah tua Hasan, sebentar, lalu hilang. Ia membuka gembok. "Masuk. Kita punya pekerjaan."
Di dalam, Hasan menyalakan lampu sorot satu per satu, lalu pergi ke kantor kecilnya dan kembali membawa setumpuk kertas—lembaran-lembaran berisi tabel, grafik, garis-garis melengkung yang ditulis tangan dengan pensil. Arka mengenalinya. Itu kurva latihan yang Hasan rancang untuknya, program delapan bulan yang menanjak pelan dan hati-hati, menumbuhkan kakinya, kepalanya, kepercayaannya, lapis demi lapis, agar matang tepat pada hari seleksi.
Hasan meletakkannya di meja garasi. Lalu, di depan mata Arka, ia merobeknya jadi dua. Lalu jadi empat.
"Apa yang kamu lakukan?" Arka tersentak.
"Program ini sudah mati," kata Hasan, melempar potongan kertas itu ke tong sampah. "Program ini untuk anak yang punya delapan bulan. Kamu tidak punya delapan bulan. Kamu punya dua puluh satu hari. Kalau aku terus mengikuti kurva ini, aku akan menyiapkanmu untuk seleksi yang sudah lewat lima bulan sebelum kamu siap. Itu bunuh diri." Ia menarik kertas kosong dan mulai menulis dengan cepat. "Lupakan mematangkanmu. Tidak ada waktu untuk matang. Yang bisa kita lakukan cuma menambalmu. Kita ambil satu hal yang sudah jadi kekuatanmu, kita asah sampai tajam, dan kita sembunyikan segala yang masih lemah. Kita tidak bertaruh pada Arka yang lengkap. Kita bertaruh pada satu pukulan tunggal."
"Satu nomor," kata Arka pelan, mulai mengerti.
"Satu nomor." Hasan menggambar lintasan kasar di kertas. "Pikirkan apa yang kamu punya. Kaki yang meledak seperti tak ada anak lain di kota ini—itu fakta, aku sudah lihat. Yang kamu tak punya: kesabaran taktik bertingkat seperti di sprint murni, jam terbang, ketenangan beregu seperti madison. Sekarang, di nomor apa ledakan mentah jadi senjata paling besar, dan kelemahanmu paling sedikit menghukum?"
Mei, yang baru masuk dengan dua gelas teh dari termos, menjawab dari pintu garasi. "Keirin."
Hasan mengangguk tanpa menoleh. "Keirin," ulangnya. "Derny memimpin di depan, semua menempel, kecepatan dinaikkan bertahap—itu menyederhanakan taktik. Tidak ada permainan lambat berjam-jam seperti sprint dua orang yang membuatmu hancur melawan Senna. Kamu cuma perlu menjaga posisi di belakang derny, lalu, ketika ia minggir, melepas pelurumu di tempat yang benar. Itu satu keputusan besar, bukan dua puluh keputusan kecil. Satu keputusan yang bisa kita latih sampai jadi tulang dalam dua puluh satu hari, kalau kita gila dan kalau kamu kuat."
Arka menatap gambar lintasan itu. Keirin. Nomor yang dulu menamparnya, yang membuatnya melepas satu setengah lap terlalu cepat dan meledak sebelum garis. Justru nomor itu yang dipilih Hasan sebagai satu-satunya harapan mereka. Bukan karena Arka sudah menguasainya, tapi karena di sanalah jarak antara kekuatannya dan kelemahannya paling pendek.
"Aku pernah hancur di keirin," kata Arka.
"Kamu hancur karena melepas terlalu cepat," jawab Hasan. "Itu satu kesalahan. Satu. Kita punya tiga pekan untuk membunuh satu kesalahan itu, bukan seratus. Itu sebabnya kita bertaruh di sini. Bukan karena ini mudah. Karena ini satu-satunya tempat di mana mustahil berubah jadi cuma sangat-sangat sulit."
Mei menyodorkan gelas teh ke tangan Arka. Uapnya naik di udara dingin pagi velodrom. "Aku akan mengendarai derny tiap pagi," katanya. "Setiap hari. Sampai tubuhmu hafal kapan motor itu minggir bahkan sebelum aku menggerakkan setang. Kita akan ulangi gerakan minggir itu ratusan kali sampai kakimu berhenti panik tiap kali ruang di depan terbuka."
Arka memegang gelas teh hangat itu dengan dua tangan dan memandang papan kayu yang melingkar di hadapannya, tikungan 42 derajat yang dulu melemparnya kini diam dalam cahaya sorot yang berkedip. Dua puluh satu hari. Satu nomor. Satu kesalahan untuk dibunuh. Untuk pertama kalinya angka itu tidak terasa seperti vonis. Terasa seperti pintu yang sangat sempit, hampir terlalu sempit untuk dilewati, tapi pintu.
"Mulai sekarang," kata Hasan, menyeret kaki kirinya menuju ruang penyimpanan untuk mengeluarkan sepeda. "Tiga pekan dimulai pagi ini. Pemanasan. Roller dulu. Lalu kita kenalkan kakimu pada penderitaan yang belum pernah ia kenal."
Dan Arka, yang sepanjang hidupnya tak pernah punya tombol untuk berhenti, meletakkan gelas tehnya, mengikat tali sepatu, dan naik.