Tiga bulan berlalu sejak hari pertama Arka jatuh di banking, dan sesuatu telah berubah dalam dirinya—tak besar, tak ajaib, tapi nyata. Ia tak lagi melepas terlalu cepat, setidaknya tidak selalu. Tangannya mulai belajar meraih tangan Mei tanpa ragu, meski masih kaku, masih jauh dari sempurna. Pagi itu mereka berlatih handsling lambat untuk kesekian ratus kali, dan untuk pertama kalinya lemparan itu mulus—Mei melontarnya ke depan dan Arka melesat masuk dengan tenaga lemparan itu, dan keduanya tertawa, lelah dan basah keringat, di tengah papan kayu yang catnya mengelupas. Untuk sesaat, velodrom sekarat itu terasa hidup.
Lalu Hasan datang dari kantor kecilnya, dan wajahnya menghapus tawa mereka seketika.
Ia memegang selembar surat. Kop resmi, stempel federasi. Tangannya yang biasanya mantap sedikit gemetar. Ia tak banyak bicara. Ia hanya meletakkan surat itu di meja garasi dan membiarkan Arka serta Mei membacanya sendiri.
Isinya mengubah segalanya.
Seleksi nasional, yang sedianya delapan bulan lagi—yang menjadi seluruh dasar perhitungan latihan Arka, seluruh kurva yang Hasan rancang dengan hati-hati agar anak itu matang tepat waktu—dimajukan. Bukan satu atau dua minggu. Lima bulan. Tinggal tersisa tiga pekan. Alasan resminya berbelit: penyesuaian jadwal pembinaan menuju ajang multicabang nasional. Tapi di balik bahasa birokrasi itu, semua orang di ruangan itu memahami yang sebenarnya. Klub-klub besar, klub berduit seperti milik Senna, sudah punya atlet matang yang siap kapan saja; memajukan jadwal hanya menguntungkan mereka, dan menghancurkan jalur-jalur kecil yang masih membangun atletnya pelan-pelan.
Dan ada satu paragraf lagi, lebih dingin dari sisanya. Kuota dari jalur pembinaan Velodrom Rajawali—jalur yang menentukan apakah dana pembinaan olahraga daerah cair dan apakah lisensi balap lintasan kota ini tetap diakui—dipangkas. Yang tahun sebelumnya masih memberi ruang untuk beberapa nama, kini diperketat: hanya satu nama yang boleh diajukan dari Rajawali ke seleksi. Satu. Dan jika nama itu gagal lolos di seleksi, status pembinaan lintasan kota ini—yang sudah nihil tahun lalu—akan dinyatakan mati untuk kedua kalinya berturut-turut. Lisensinya dicabut. Dananya hangus. Dan tanpa status dan dana itu, tak ada lagi satu pun alasan formal yang menahan velodrom; izin penggunaannya gugur, dan buldoser pengembang—yang sudah menunggu di gerbang panti dan di gerbang gedung telur tua ini—masuk lebih cepat dari rencana mana pun.
Arka membaca surat itu dua kali. Lalu ia mengangkat kepala, dan ada perhitungan pelan yang merayap di wajahnya saat ia menyadari apa artinya bagi dirinya secara pribadi.
"Satu nama," katanya pelan. "Siapa yang diajukan?"
Hasan tidak menjawab langsung. Ia tak perlu. Ia menatap Arka, dan dalam tatapan itu ada seluruh jawaban dan seluruh kepedihannya. Mei adalah pembalap jarak jauh yang baik, tapi nomornya bukan nomor yang dibuka untuk seleksi ini, dan jam terbangnya untuk panggung nasional belum cukup. Tak ada atlet lain. Rajawali sudah kosong. Yang tersisa di papan kayu ini, satu-satunya tubuh dengan kaki yang—meski mentah, meski baru tiga bulan—punya kemungkinan, sekecil apa pun, untuk diajukan, hanyalah Arka.
"Kamu," kata Hasan akhirnya, dan suaranya berat seperti orang yang terpaksa menaruh seluruh taruhannya di atas anak yang baru belajar berjalan. "Kamu satu-satunya nama yang punya kaki untuk diajukan."
Keheningan di garasi itu terasa seperti tekanan di telinga. Arka tahu persis apa artinya. Tiga bulan. Ia baru tiga bulan di papan ini. Ia masih jatuh. Ia masih ragu di handsling. Ia baru sekali, sekali, melepas pelurunya di waktu yang benar. Dan sekarang seluruh garis—velodrom, lisensi, jalur olahraga ini, dan jauh di belakang semua itu, sesuatu di dadanya yang menolak menyerah pada hal yang satu lagi—semuanya bertumpu pada dirinya yang belum jadi apa-apa, dalam tiga pekan, melawan pembalap-pembalap yang sudah matang bertahun-tahun.
Hasan menatapnya. "Aku tidak akan membohongimu. Diajukan bukan berarti lolos. Mereka tahu kamu mentah. Mereka memajukan jadwal justru supaya orang seperti kamu tak punya waktu. Lolos seleksi nasional dalam kondisimu sekarang..." Ia tak menyelesaikan kalimat itu. Ia tak perlu. Mustahil tergantung di udara, tak terucap.
Sore itu, Hasan membawa Arka ke velodrom semen yang lebih besar untuk satu sesi latihan terakhir bersama klub-klub lain sebelum seleksi—ia ingin Arka melihat siapa yang akan dilawannya, ingin anak itu tahu persis ukuran tembok yang harus dipanjatnya. Di seberang lintasan, sedang melepas helmnya setelah sprint yang sempurna, berdiri Senna Rais. Tubuhnya yang dipahat, jerseynya yang bersih, ketenangannya yang dingin. Namanya sudah pasti ada di daftar seleksi sejak lama; klubnya tak pernah meragukannya.
Senna melihat Arka berdiri di seberang, melihat jersey lungsuran dan sepatu pinjaman, dan melihat ke surat yang masih tergulung di tangan Hasan. Ia tahu persis apa yang baru terjadi. Ia tahu jadwal dimajukan. Ia tahu kuota dipangkas. Ia tahu bahwa satu-satunya nama yang bisa diajukan velodrom kayu sekarat itu adalah anak jalanan beruntung yang pernah ia hancurkan di sprint berbulan-bulan lalu—anak yang baru tiga bulan menyentuh papan, yang harus lolos seleksi nasional dalam tiga pekan, atau seluruh jalur cycling kotanya padam.
Senna tidak menghampiri. Ia tidak mengejek. Ia hanya menatap Arka dari seberang papan kayu, dan dengan sangat pelan, dengan keyakinan dingin seseorang yang tahu persis betapa mustahilnya hal itu, ia tersenyum.