"Sekarang," kata Hasan suatu pagi, "aku akan mengajarimu hal yang paling sulit untuk anak sepertimu. Lebih sulit dari banking, lebih sulit dari keirin. Aku akan mengajarimu menyerahkan rodamu pada orang lain."
Ia menjelaskan dua nomor beregu. Yang pertama, team sprint—tiga pembalap dalam satu regu, melaju beriringan, dan setiap putaran pembalap terdepan menepi keluar setelah menghabiskan tenaganya menembus angin untuk regunya, menyerahkan kepemimpinan pada yang di belakang. Kekuatan setiap orang dibakar demi regu, bukan demi diri sendiri. Yang kedua, lebih liar lagi: madison. Dua pembalap dalam satu regu, tapi hanya satu yang aktif balapan pada satu waktu sementara yang lain mengayuh pelan menunggu di atas. Mereka bergantian masuk balapan lewat sebuah gerakan yang membuat perut Arka melilit ketika Hasan menjelaskannya: handsling. Pembalap yang lelah, dengan kecepatan penuh, meraih tangan rekannya dan melemparnya ke depan, melontarkannya masuk ke balapan dengan tenaga lemparan itu, sementara dirinya melambat keluar. Genggaman tangan ke tangan, pada kecepatan lima puluh kilometer per jam, di papan kayu miring.
"Di nomor ini," kata Hasan, dan ia menatap Arka lurus, "kemenanganmu sepenuhnya ada di tangan rekanmu. Secara harfiah. Kalau kamu tidak meraih tangannya dengan benar, kalau kamu ragu sepersekian detik, kalau kamu tidak percaya bahwa dia ada di sana untuk menangkapmu—kalian berdua jatuh. Tak ada cara untuk melakukan ini sendirian. Tak ada cara untuk melakukan ini tanpa percaya."
Dan di situlah Arka membeku.
Mereka mencoba. Mei jadi pasangannya. Latihan pertama hanya pelan, di garis datar—mengayuh berdampingan, lalu meraih tangan, lalu satu melempar yang lain ke depan. Tapi setiap kali tangan Mei terulur, sesuatu di dalam Arka mengencang, dan tangannya ragu. Ia tak meraih cukup kuat. Ia melepas terlalu cepat. Tubuhnya, yang sepanjang hidup belajar bahwa bersandar pada orang lain adalah cara tercepat untuk jatuh, secara fisik menolak menyerahkan beratnya pada genggaman orang lain. Berkali-kali handsling itu gagal—canggung, lemah, kosong. Mei akhirnya menarik diri, frustrasi yang ia tahan sepanjang pagi akhirnya pecah.
"Kamu tidak meraihku," katanya, suaranya tajam untuk pertama kalinya sejak Arka mengenalnya. "Aku ada di sana. Tanganku ada di sana setiap kali. Dan kamu menariknya seolah aku besi panas. Apa kamu pikir aku akan melepaskanmu? Apa kamu pikir aku akan membiarkanmu jatuh?"
"Bukan begitu," Arka membentak balik, lebih keras dari yang ia mau.
"Lalu apa? Karena dari tempatku, kelihatannya kamu lebih memilih jatuh sendirian daripada ditangkap orang lain."
Kalimat itu menghantam Arka tepat di tempat yang ia jaga paling rapat, dan karena terkena tepat di sana, ia membalas dengan kasar. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku."
"Tidak," Mei berkata, dan suaranya turun, lebih sakit daripada marah. "Aku tidak tahu. Karena kamu tidak pernah membiarkan siapa pun tahu. Aku sudah berbulan-bulan di sini melatihmu, menahan emosi, jadi pelurumu, mengajarimu setiap hal yang aku tahu—dan kamu masih memperlakukanku seperti orang asing yang akan menusukmu begitu kamu berpaling. Aku capek, Arka. Aku capek menjadi tangan yang terus kamu tampik." Ia turun dari sepedanya, melepas sepatu dari pedal dengan gerakan kasar, dan pergi ke garasi tanpa menoleh.
Arka berdiri sendirian di tengah lintasan kayu, dan keheningan velodrom terasa lebih berat dari biasanya.
Hasan, yang menonton dari pinggir tanpa ikut campur, akhirnya menyeret kakinya mendekat. Ia tidak memarahi Arka kali ini. Ia berdiri di sampingnya, memandang pintu garasi tempat Mei menghilang, dan bicara dengan suara pelan seorang tua yang sudah lama memahami hal-hal pahit.
"Aku tahu apa yang ada di dalammu," katanya. "Aku sudah menebaknya sejak hari pertama, dan setelah kamu cerita soal panti, aku jadi yakin. Kamu hidup dengan satu aturan: jangan bersandar pada apa pun, karena semua yang kau sandari runtuh. Aku tidak akan bilang aturan itu salah. Untuk anak yang tumbuh sepertimu, aturan itu mungkin yang menjagamu tetap hidup." Ia menghela napas. "Tapi dengar, Arka. Aturan yang menyelamatkanmu di masa lalu adalah aturan yang sama yang akan membatasimu di sini—persis seperti insting jalananmu yang menyelamatkanmu di aspal tapi hampir membunuhmu di banking. Di papan ini, di nomor-nomor ini, kemenangan tidak bisa kamu rampas sendirian. Madison, team sprint—nomor-nomor inilah yang justru jadi kekuatan terbesar velodrom kecil seperti kita, karena di sini kita tidak pernah punya cukup banyak atlet bintang individu untuk bersaing dengan klub berduit. Kekuatan kita selalu ada pada beberapa orang yang saling percaya sampai mati. Itu satu-satunya senjata kita melawan klub-klub seperti Senna."
Arka memandang papan kayu, rahangnya mengeras. "Aku tidak tahu caranya percaya," akhirnya ia berkata, dan untuk pertama kalinya itu bukan penolakan, tapi pengakuan. "Aku tidak pernah belajar. Tidak ada yang pernah mengajariku."
Hasan menatapnya lama. "Tidak ada yang mengajariku menahan diri di banking sampai aku jatuh tiga puluh kali. Tidak ada yang mengajarimu sabar sampai keirin menamparmu. Percaya juga begitu, anak muda. Itu bukan sesuatu yang kamu tahu. Itu sesuatu yang kamu latih, sekali genggaman, sekali lemparan, sampai jadi tulang." Ia berbalik. "Tapi kamu harus mau. Dan kamu harus minta maaf pada Mei, karena dia benar dan kamu salah, dan dia satu-satunya rekan yang kamu punya."
Malam itu Arka tidak langsung pulang. Ia menemukan Mei di garasi, sedang mengelem sebuah ban tubular dengan gerakan tajam yang menandakan ia masih marah. Arka berdiri di pintu, canggung, mencari kata yang tak pernah ia simpan. Akhirnya, yang keluar sederhana: "Tanganku ragu bukan karena aku tidak percaya kamu akan menangkapku." Mei berhenti mengelem, tak menoleh. Arka menelan ludah. "Tapi karena aku tidak pernah punya siapa pun untuk ditangkap. Aku tidak tahu rasanya. Tanganku tidak tahu rasanya." Hening lama. Lalu Mei meletakkan ban itu, dan menjawab tanpa berbalik, suaranya lelah tapi tak lagi tajam: "Kalau begitu kita latih tanganmu. Pelan-pelan. Sampai dia belajar."