Untuk mengajari Arka mengendalikan ledakannya, Hasan memperkenalkan satu nomor yang ia sebut paling jujur dari semua nomor sprint: keirin. "Di nomor ini," katanya, "kamu tak bisa bersembunyi di balik taktik lambat. Keirin memaksamu menunjukkan apakah kamu bisa menahan diri ketika dipancing untuk lepas."
Hasan menjelaskan aturannya sambil Mei mengeluarkan sebuah motor kecil—bukan motor balap, tapi motor tua yang dimodifikasi, dengan dudukan tinggi di belakangnya. "Itu derny. Motor pengarah. Dalam keirin, beberapa pembalap berbaris di belakang derny ini, dan derny memimpin di depan, menembus angin untuk semua, mulai dari kecepatan rendah lalu dipercepat bertahap. Kalian wajib tetap di belakangnya, tidak boleh menyalip, sementara dia menaikkan kecepatan putaran demi putaran. Lalu, beberapa lap sebelum akhir, derny minggir keluar lintasan—dan saat itu juga balapan jadi liar. Dari kecepatan yang sudah tinggi itu, semua pembalap berebut, sprint penuh sampai garis. Yang menentukan adalah: ketika derny minggir, apakah kamu di posisi yang benar, dan apakah kamu melepas pada saat yang tepat. Lepas sedetik terlalu cepat dari kecepatan setinggi itu, dan kamu meledak sebelum garis—kakimu habis, dan semua melewatimu di meter-meter terakhir."
Arka mengangguk. Ia mengerti aturannya. Yang ia belum mengerti adalah tubuhnya sendiri.
Mereka berlatih dengan tiga orang: Arka, Mei, dan seorang pembalap junior dari klub lain yang Hasan undang untuk membuat latihan ini nyata. Mei mengendarai derny. Motor itu menderu pelan, memimpin mereka berbaris rapat, dan kecepatan naik bertahap—dua puluh, tiga puluh, empat puluh kilometer per jam—sementara ketiga pembalap menempel di belakangnya, menunggu, paru-paru mulai terbakar, kaki berputar makin cepat. Arka di posisi kedua, tepat di belakang junior itu, menempel pada angin yang dicuri. Sejauh ini ia sabar. Sejauh ini benar.
Lalu derny mulai mempercepat untuk minggir, dan di sinilah segalanya runtuh.
Ketika Arka merasakan motor itu menarik diri, ketika ruang di depan tiba-tiba terbuka dan angin menghantam wajahnya, seluruh insting lamanya meledak sekaligus. Ruang. Celah. Serang. Tubuhnya, yang dilatih bertahun-tahun di lampu merah untuk menerkam celah begitu muncul, tak bisa menunggu satu detik lagi. Arka melepaskan seluruh kekuatannya, melontarkan dirinya ke depan dengan ledakan kaki sprinter yang dahsyat. Untuk dua detik ia memimpin, jauh memimpin, dan ada gelombang euforia liar—aku di depan, aku menang—
—tapi garis masih jauh. Terlalu jauh. Ia melepas satu setengah lap terlalu cepat.
Kekuatan kaki bukanlah sumur tak berdasar. Mei pernah mengatakannya: satu peluru. Dan Arka baru saja menembakkannya ke udara kosong. Di tiga ratus meter terakhir, kakinya mulai mengkhianatinya—tenaga itu menguap, paru-parunya seperti diisi pasir panas, dan kayuhannya yang tadi ganas kini melambat tak terkendali. Ia mendengar dengung roda di belakangnya. Junior itu menyusulnya di dua ratus meter. Lalu Mei—yang sudah selesai memarkir derny dan ikut dari belakang dengan sepeda cadangan untuk menguji Arka—Mei melaju santai, peluru masih di larasnya, dan melewati Arka di seratus meter terakhir tanpa terlihat tergesa. Arka menyeberangi garis terakhir, terhuyung, dengan kaki yang sudah jadi karet dan kepala yang berputar.
Ia nyaris terjatuh ketika memperlambat sepedanya. Ia turun, melepas sepatu dari pedal dengan tangan gemetar, dan duduk di pinggir lintasan dengan dada terbakar, marah pada dirinya sendiri lebih dari yang bisa ia ungkapkan.
Hasan datang menyeret kakinya. Untuk sesaat Arka mengira pria tua itu akan meledak lagi. Tapi Hasan tidak. Ia berdiri di sana, memandang anak yang tersengal di papan kayu, dan ketika ia bicara, suaranya bercampur antara kesal dan—anehnya—sesuatu yang nyaris seperti kekaguman.
"Kamu melepas satu setengah lap terlalu cepat," katanya. "Itu kesalahan paling bodoh dan paling sering dibuat pemula, dan kamu membuatnya dengan sempurna." Ia berjongkok dengan susah payah karena kaki kirinya. "Tapi kamu tahu apa yang kulihat? Aku melihat seberapa jauh kamu memimpin ketika kamu lepas. Dua detik itu, kecepatan puncakmu—aku belum pernah melihat kaki semuda itu menghasilkan ledakan seperti itu. Kalau kamu melepaskan ledakan yang sama itu di tempat yang benar, di waktu yang benar, tak ada satu pun anak di kota ini yang bisa menyentuhmu. Bukan kakimu yang salah, Arka. Kakimu adalah karunia yang membuatku tak bisa tidur. Yang salah cuma waktumu. Dan waktu bisa dilatih. Kaki tak bisa diajarkan, tapi kesabaran bisa."
Mei datang, masih bernapas tenang dari latihannya. Ia duduk di sebelah Arka di pinggir lintasan, menyeka keringat, dan menatap ke papan kayu di seberang. "Kamu tahu kenapa aku selalu mengalahkanmu, padahal kakiku setengah kakimu?" tanyanya, tanpa menunggu jawaban. "Karena aku tidak takut menunggu. Kamu takut menunggu. Buat kamu, menunggu rasanya seperti kehilangan—seolah kalau kamu tidak menyerang sekarang, kesempatannya hilang selamanya. Tapi di papan ini, menunggu adalah cara kamu menjaga kesempatan, bukan kehilangannya. Pembalap yang sabar tidak pasif. Dia sedang mengisi. Setiap detik dia menempel di belakang lawan, dia mencuri tenaga, dan lawannya membakar tenaga. Sampai tiba saat yang tak bisa dibatalkan—bel lap terakhir, derny minggir—dan saat itu, pembalap yang sabar punya sesuatu yang tidak dimiliki pembalap yang panik: dia masih punya pelurunya."
Arka menatap papan kayu itu, napasnya mulai tenang, dan untuk pertama kalinya ia tidak membantah. Ia menyerap kalimat itu sampai ke dasar. Sabar bukan menunggu kosong. Sabar adalah mengisi.
"Aku takut menunggu," akhirnya ia mengakui, pelan, lebih pada papan kayu daripada pada Mei. "Sepanjang hidupku, kalau aku tidak ambil sekarang, biasanya tidak ada nanti."
Mei memandangnya, dan kali ini ia tidak menjawab dengan pelajaran. Ia hanya membiarkan kalimat itu tergantung di antara mereka, mengerti bahwa Arka baru saja membuka pintu yang jarang ia buka. Lalu ia berdiri, mengulurkan tangan, dan menarik Arka berdiri.
"Naik lagi," katanya. "Kali ini, jangan lepas sampai aku yang lepas duluan. Aku akan jadi peluru pertamamu. Belajar tunggu aku."
Dan Arka, untuk pertama kalinya, menempel di belakang punggung Mei dan menunggu—menunggu dengan susah payah, melawan setiap saraf di tubuhnya—sampai gadis itu memberinya tanda.