Selama beberapa minggu, Arka menjaga dua dunianya tetap terpisah. Pagi di velodrom, sore mengantar paket, malam tidur di gudang. Hasan dan Mei tahu ia tumbuh di panti, tapi tak lebih dari itu. Arka tak suka membicarakannya. Bukan karena malu—ia tak pernah malu dengan asal-usulnya—tapi karena tempat itu adalah satu-satunya hal di dunia yang benar-benar miliknya, dan ia menjaganya seperti orang menjaga luka lama: dengan tidak menunjukkannya pada siapa pun.
Lalu suatu sore, ketika ia mengantar paket di kawasan yang kebetulan dekat panti, ia melihat sesuatu yang membuatnya mengerem—secara naluri menahan pedal, lupa sejenak bahwa ia di sepeda kurirnya, bukan sepeda lintasan—dan turun.
Di pagar Panti Asuhan Tunas Mekar, tempat ia tumbuh sejak masih balita yang ditemukan di emperan stasiun, tergantung sebuah spanduk yang belum pernah ada sebelumnya. Logo perusahaan. Gambar bangunan kaca berkilau. Dan tulisan besar: TANAH INI AKAN SEGERA DIKEMBANGKAN. Di bawahnya, nama pengembang yang sama persis dengan nama yang pernah Hasan sebutkan tentang velodrom.
Arka berdiri di sana lama sekali.
Ia masuk lewat pintu samping. Bu Ningsih, pengasuh yang sudah merawatnya sejak kecil, kini sudah tua dan punggungnya membungkuk, sedang duduk di teras dengan setumpuk surat di pangkuannya. Wajahnya menua sepuluh tahun sejak terakhir Arka melihatnya. Ketika ia mengangkat kepala dan melihat Arka, ia mencoba tersenyum, tapi senyum itu rapuh.
"Spanduk itu," kata Arka, suaranya rendah. "Apa itu, Bu?"
Bu Ningsih menghela napas panjang. Ia tak pandai berbohong, tak pernah, dan ia terlalu lelah untuk mencoba. "Tanah ini sebenarnya bukan milik panti, Arka. Kita cuma menyewa, sudah puluhan tahun, dengan harga murah karena pemiliknya orang baik. Tapi orang baik itu sudah meninggal, dan ahli warisnya menjual ke pengembang. Mereka mau membangun—entah apa, mal katanya, atau apartemen. Kita diberi waktu untuk mencari tempat baru." Ia meremas surat di tangannya. "Tapi mencari tempat untuk dua puluh tiga anak, dengan biaya seperti yang kita punya... Ibu sudah keliling ke mana-mana. Tidak ada yang sanggup kita sewa. Ibu belum bilang ke anak-anak. Ibu belum tahu harus bilang apa."
Arka duduk di lantai teras, di sebelah kaki perempuan yang membesarkannya, dan untuk sesaat ia kembali jadi bocah delapan tahun yang berlutut di sini menangis karena dipukul anak lebih besar. Panti ini bukan bangunan bagus. Atapnya bocor, catnya kusam, kamar mandinya cuma tiga untuk dua puluh tiga anak. Tapi ini rumah. Satu-satunya rumah yang pernah ia punya. Tempat ia belajar bahwa keluarga bukan soal darah. Tempat ia belajar—dan ini yang paling dalam—bahwa segala sesuatu yang ia cintai pada akhirnya bisa diambil darinya, dan karena itu lebih aman untuk tidak terlalu mencintai apa pun, tidak bersandar pada apa pun, tidak mempercayai bahwa sesuatu akan bertahan.
Di situlah ia akhirnya mengerti dari mana datangnya dinding di dalam dirinya. Mei pernah menyentilnya soal percaya, dan Arka membentengi diri tanpa tahu kenapa. Sekarang ia tahu. Ia membenteng karena setiap kali ia membiarkan dirinya bersandar, lantainya runtuh.
"Ada satu hal," ujar Arka pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Pengembang yang sama mau menggusur tempat lain juga. Tempat aku latihan."
Bu Ningsih mengernyit. "Latihan apa?"
Dan Arka, yang tak pernah menceritakan apa pun pada siapa pun, mendapati dirinya bercerita. Tentang Hasan dan kaki pincangnya. Tentang papan kayu 42 derajat. Tentang sepeda tanpa rem yang melemparnya dan tentang ban tubular yang dilem tangan dan tentang Mei dan tentang satu peluru yang harus disimpan di laras. Tentang seleksi nasional delapan bulan lagi, dan tentang satu nama yang harus lolos agar jalur balap lintasan kota ini tak punah. Bu Ningsih mendengarkan, dan ketika Arka selesai, ia memegang tangan anak itu dengan tangannya yang keriput.
"Kamu kelihatan hidup waktu cerita itu," katanya. "Ibu belum pernah lihat kamu begitu."
Arka mengayuh pulang malam itu dengan dada penuh sesuatu yang berbahaya. Sebelumnya, velodrom adalah tantangan—cara membuktikan dirinya, cara menghapus senyum dingin Senna. Sekarang ia sudah jadi sesuatu yang lebih. Kedua tempat itu, velodrom dan panti, sekarat oleh tangan yang sama. Dan meski Arka cukup waras untuk tahu bahwa memenangkan satu lomba sepeda tidak akan menyelamatkan panti—tanah adalah tanah, hukum adalah hukum, dan tak ada medali yang bisa membatalkan jual beli sebidang tanah—ada sesuatu yang lebih dalam dari logika yang menyala di dadanya. Kalau ia tak bisa menyelamatkan rumahnya, setidaknya ia bisa menolak menyerah pada satu hal lagi. Setidaknya ia bisa membuat satu garis tak putus. Satu warisan tak hilang.
Masalahnya, dada yang penuh seperti itu membuat orang ceroboh.
Keesokan paginya Arka datang ke velodrom dengan energi yang salah—terlalu panas, terlalu nekat. Ia memaksakan kecepatan di tikungan sebelum tubuhnya siap, mengabaikan aba-aba Hasan untuk pelan, mengejar waktu yang belum bisa ia kejar. Di lap kedelapan ia mengambil garis yang terlalu tinggi di banking dengan kecepatan yang sedikit kurang, dan untuk satu detik mengerikan rodanya kembali meluncur seperti hari pertama. Ia menyelamatkan diri di saat terakhir, turun ke datar dengan napas tersengal dan jantung berdebar, tapi Hasan sudah berdiri di pinggir lintasan dengan wajah yang lebih marah dari yang pernah Arka lihat.
"Apa yang barusan kamu lakukan," kata Hasan, suaranya pelan dan tajam, lebih menakutkan daripada teriakan. "Kamu pikir kamu siap untuk garis setinggi itu? Kamu pikir karena kamu mengalahkan Mei sekali, kamu jagoan? Aku melihat apa yang barusan terjadi di kepalamu. Kamu sedang lari dari sesuatu. Dengar baik-baik—papan ini tidak peduli apa yang sedang kamu larikan. Papan ini akan membunuhmu sama saja. Kamu boleh nekat dengan hidupmu di luar sana, tapi di lintasanku, kalau kamu membawa kemarahan ke banking, aku coret namamu dan kamu tidak akan pernah naik lagi. Kamu mengerti?"
Arka berdiri di sana, dada masih naik turun. Ia ingin membentak balik. Lalu ia melihat di mata Hasan bukan kemarahan, tapi ketakutan—ketakutan tua seorang pria yang pernah melihat kaki bagus dihancurkan oleh kepala yang panas, mungkin kakinya sendiri. Dan amarah Arka mengempis jadi malu.
"Maaf," katanya, kata yang jarang sekali keluar dari mulutnya.
Hasan menatapnya lama. "Ceritakan apa yang terjadi," katanya akhirnya, lebih lembut. "Sebelum sesuatu itu membunuhmu di papanku."