"Hari ini kamu belajar mencuri," kata Hasan keesokan paginya, dan untuk pertama kalinya ada bayangan senyum di wajahnya. "Mencuri angin."
Ia menyuruh Arka mengayuh persis di belakangnya—Hasan tak bisa balapan lagi dengan kakinya, tapi ia bisa naik sepeda pelan untuk demonstrasi. "Tempel," perintahnya. "Dekat. Lebih dekat. Roda depanmu hampir menyentuh roda belakangku. Jaraknya jangan lebih dari satu jengkal."
Arka merapat, gugup. Pada kecepatan ini menempel sedekat itu terasa gila—satu kesalahan kecil dan roda mereka bersentuhan dan keduanya jatuh. Tapi ia menurut, mendekat, sampai ia berada di bayangan tubuh Hasan.
Dan ia merasakannya. Tiba-tiba mengayuh jadi lebih ringan. Jauh lebih ringan. Beban angin yang biasanya menekan dadanya hilang, diserap oleh tubuh di depannya, dan untuk kecepatan yang sama Arka mengeluarkan tenaga jauh lebih sedikit.
"Kamu merasakannya," kata Hasan tanpa menoleh. "Itu draft. Pembalap di depan menembus angin dan menciptakan ruang kosong di belakangnya, dan kamu bersembunyi di ruang itu. Pada kecepatan lomba, menempel di belakang lawan menghemat sampai sepertiga tenagamu. Sepertiga. Itu artinya, sementara lawanmu membakar tenaganya menjadi pemimpin yang gagah, kamu duduk di belakangnya, menunggu, segar, mengumpulkan ledakanmu untuk satu momen. Inilah yang dilakukan Senna padamu kemarin. Dia membuatmu memimpin. Dia mencuri anginmu seharian, dan kamu bahkan tak sadar dirampok."
Arka mengingat sprint itu, dan rasa malunya berubah jadi pemahaman dingin. "Jadi semua permainan lambat itu..."
"Adalah pertarungan tentang siapa yang dipaksa memimpin. Yang memimpin kalah, kecuali ia cukup kuat dan cukup pintar untuk melepaskan diri sebelum yang di belakang sempat memanfaatkannya. Dan di situlah seninya: tahu kapan menempel, dan tahu kapan melepas."
Maka dimulailah minggu-minggu tersulit. Hasan dan Mei bergantian memimpin di depan, dan tugas Arka adalah menempel sempurna, lalu—pada aba-aba yang tak diberitahukan, pada saat yang harus ia baca sendiri—melepaskan diri dan melontarkan kecepatannya untuk menyusul. Masalahnya selalu sama, masalah yang sama yang menghancurkannya melawan Senna: timing. Arka melepas terlalu cepat. Setiap kali. Tubuhnya, yang dilatih bertahun-tahun untuk menyerang celah begitu celah itu muncul, tak bisa menahan diri. Begitu ia melihat ruang, ia menerkam—dan ia menerkam terlalu dini, membakar tenaganya seratus meter sebelum ia harus, dan di garis akhir kakinya kosong, paru-parunya terbakar, dan Mei melaju santai melewatinya.
"Lagi," kata Hasan. Lalu, "Lagi." Lalu, "Lagi."
Arka gagal puluhan kali. Ia melepas di lap dua. Ia melepas di tikungan yang salah. Ia melepas karena Mei sedikit melambat dan instingnya berteriak sekarang—dan setiap kali, Mei, yang lebih sabar, lebih dingin di kepala, menyimpan tenaganya dan melewatinya di akhir. Frustrasi Arka tumbuh sampai suatu sore ia menggebrak setang dan berteriak bahwa ini bodoh, bahwa kakinya lebih kuat dari kaki Mei, kenapa ia harus menunggu, kenapa ia tak boleh saja ngebut dari awal seperti yang selalu ia lakukan.
Mei berhenti, menoleh, dan menjawab dengan tenang yang membuat Arka diam. "Karena tenagamu terbatas. Sekuat apa pun kakimu, kamu cuma punya satu peluru besar di setiap balapan. Satu. Kalau kamu menembakkannya terlalu cepat, kamu menghabiskannya ke udara kosong dan tak ada peluru kedua. Sabar bukan kelemahan. Sabar adalah cara kamu menjaga peluru itu tetap di laras sampai jaraknya pas. Senna mengalahkanmu bukan karena dia lebih kuat. Karena dia menyimpan pelurunya dan kamu menghamburkan punyamu."
Kalimat itu—satu peluru—menempel di kepala Arka. Malam itu ia memikirkannya di gudang sewaannya, dan keesokan paginya, dan keesokan paginya lagi. Pelan-pelan, lebih lambat dari yang ia mau tapi lebih cepat dari yang Hasan duga, tubuhnya mulai belajar menahan diri. Hasan menyuruhnya berlatih satu hal saja: menempel di belakang Mei, dan tidak melepas—apa pun yang terjadi—sampai bel lap terakhir berbunyi. Bukan sedetik lebih awal. Berkali-kali Arka gemetar menahan dorongan untuk menyerang lebih dulu, kakinya gatal, instingnya menjerit, tapi ia menahannya, menatap punggung Mei, menunggu bel.
Dan suatu sore, semuanya menyatu.
Mereka tiga lap. Arka menempel sempurna di belakang Mei sepanjang dua lap, hemat, segar, peluru tersimpan di laras. Mei mencoba memancingnya, melambat lalu menyentak, tapi Arka tak terpancing—ia menempel, sabar, membaca, menunggu. Lalu bel lap terakhir berdentang, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya Arka melepaskan ledakannya tepat di waktu yang benar. Ia naik ke banking, mencuri momentum dari ketinggian seperti yang dilakukan Senna padanya, lalu menukik turun dengan seluruh kekuatan kaki sprinternya yang kini, untuk pertama kalinya, dilepaskan pada saat yang tepat. Ia melewati Mei di dua ratus meter terakhir, melesat ke garis, dan untuk sekali ini kakinya masih punya tenaga ketika ia membutuhkannya.
Ia menang. Cuma latihan, cuma melawan Mei yang seorang pembalap jarak jauh, bukan sprinter. Tapi ia menang dengan cara yang benar, untuk pertama kalinya, dan ketika ia memperlambat sepedanya dan menoleh ke belakang, ia melihat Mei tersenyum—senyum tipis, hampir bangga.
Di pinggir lintasan, Hasan tidak bertepuk tangan. Pria tua itu hanya berdiri di sana, kaki kirinya yang pincang menopang setengah tubuhnya, memandang anak yang baru saja menahan instingnya sendiri lebih lama dari yang pernah ia kira mampu. Dan untuk pertama kalinya sejak ia melihat kaki itu di lampu merah Jalan Riau, Hasan membiarkan dirinya berpikir, hati-hati, hampir takut: mungkin. Mungkin ada secercah kemungkinan di anak ini.
Ia tak mengatakannya. Ia hanya berkata, "Sekali itu benar. Sekarang lakukan seribu kali lagi sampai jadi tulang." Tapi Arka melihat ke matanya, dan tahu.