Pada hari keempat, Arka menyadari masalah yang tak bisa diselesaikan oleh kaki mana pun.
Latihan yang dirancang Hasan untuk tiga pekan menuntut tubuh penuh—pagi roller dan keirin, siang istirahat dan makan, sore membaca rekaman, malam tidur cukup agar otot membangun kembali. Tak ada ruang untuk mengantar paket dari pukul sebelas sampai senja seperti biasa. Tubuh tak bisa dipecah jadi dua. Maka Arka melakukan hitungan yang sederhana dan mengerikan: berhenti jadi kurir selama tiga pekan, dan latih penuh.
Ia baru menyadari konsekuensinya pada malam keempat, ketika ia membuka dompet di gudang sewaannya dan menghitung lembaran yang tersisa. Sewa gudang jatuh tempo dalam sepuluh hari. Tanpa order kurir, tak ada pemasukan. Dan tanpa pemasukan, dalam sepuluh hari ia akan kehilangan satu-satunya tempat yang ia punya untuk tidur. Ia bisa terus jadi kurir dan melatih setengah-setengah—dan pasti gagal di seleksi. Atau ia bisa latihan penuh, lolos atau kalah, tapi kehilangan tempat tidurnya di tengah jalan.
Ia tak menceritakannya pada siapa pun. Itu kebiasaan lama. Masalah adalah miliknya sendiri, ditanggung sendiri, seperti semua hal lain dalam hidupnya. Maka ia berlatih dengan beban diam itu di pundaknya, dan pada hari keenam, kelelahan dan kekhawatiran membuat kayuhannya kacau di keirin, dan ia keluar posisi tepat saat derny minggir.
Mei melihatnya. Mei selalu melihat. Bukan pada kakinya—pada matanya. Sore itu, ketika Hasan sudah pulang dan velodrom kosong, ia mendapati Arka duduk di pinggir lintasan, memandang papan kayu dengan tatapan jauh seseorang yang sedang menghitung uang di kepalanya.
"Kamu tidak fokus hari ini," kata Mei, duduk di sampingnya dengan jarak satu lengan. "Bukan kakimu. Kepalamu ada di tempat lain."
"Aku baik-baik saja."
"Kamu pembohong yang buruk untuk orang yang banyak menyimpan rahasia." Mei tidak menatapnya; ia menatap papan kayu, sama seperti Arka, memberi anak itu ruang untuk tidak harus saling pandang. "Aku tidak akan memaksamu cerita. Tapi kalau ada sesuatu yang membuat kakimu kosong di lap ketiga, itu bukan lagi cuma urusanmu. Itu urusan kita. Karena kalau kamu gagal di seleksi gara-gara sesuatu yang sebenarnya bisa kita pecahkan, kita semua kalah."
Arka diam lama. Kebiasaan lamanya berteriak untuk menutup pintu, mengangkat bahu, bilang tidak ada apa-apa. Tapi ada sesuatu di cara Mei tidak menatapnya, tidak menuntut, hanya menunggu, yang melonggarkan sesuatu di dadanya.
"Aku berhenti jadi kurir buat latihan," katanya akhirnya. "Tanpa kurir, tak ada gaji. Tanpa gaji, sepuluh hari lagi aku tak bisa bayar sewa gudang tempat aku tidur. Jadi pilihannya: latihan penuh dan kehilangan tempat tidur, atau jaga tempat tidur dan kalah di seleksi." Ia tertawa pendek, getir. "Lucu, kan. Tiga pekan terakhir velodrom, dan aku malah pusing mikirin atap di kepalaku sendiri."
Mei tidak menjawab langsung. Ia memungut serpih cat kayu yang mengelupas dari lintasan, memutarnya di jari. Lalu ia berkata, hati-hati, seperti orang menawarkan sesuatu yang rapuh: "Ada kamar belakang di garasi. Dulu tempat tidur penjaga malam, waktu velodrom ini masih hidup. Kasurnya tua tapi masih ada. Hasan kadang tidur di sana kalau terlalu lelah pulang. Tak ada yang memakainya sekarang." Ia mengangkat bahu, pura-pura ringan. "Kalau kamu tidur di sini selama tiga pekan, kamu tak perlu bayar sewa. Dan kamu bisa latihan jam empat pagi tanpa harus mengayuh dari seberang kota. Itu... masuk akal. Secara latihan."
Arka menoleh padanya. "Kamu menawariku tidur di tempat ini."
"Aku menawarkan solusi yang masuk akal," Mei mengoreksi, tapi telinganya memerah sedikit. "Jangan dibesar-besarkan."
Arka hampir menolak. Naluri lama. Menerima berarti berutang, berutang berarti bersandar, bersandar berarti suatu hari lantainya runtuh. Tapi ia memandang papan kayu yang melingkar di sekitar mereka—papan yang ia perjuangkan, yang ia bilang pada Bu Ningsih ingin ia jaga agar garisnya tak putus—dan ia menyadari ada sesuatu yang ganjil dan benar tentang tidur di dalam hal yang ia perjuangkan. Bukan menumpang. Lebih seperti menjaga.
"Aku bayar dengan kerja," katanya akhirnya, canggung. "Aku bersihkan lintasan. Aku rawat sepeda. Aku tidak tidur gratis."
Mei tersenyum tipis, tahu itu adalah cara Arka berkata ya tanpa harus berkata ya. "Setuju. Mulai besok kamu yang mengepel garis datar setiap pagi."
Malam itu Arka mengangkut barangnya yang sedikit—tas, dua potong baju, kasur tipis yang ia gulung—dengan sepeda kurirnya, dari gudang seberang kota ke kamar belakang garasi velodrom. Kamar itu kecil, berdebu, dengan satu jendela tinggi yang menghadap ke dalam gedung sehingga, kalau ia berdiri di kasur, ia bisa melihat sepotong lintasan kayu yang melengkung dalam gelap.
Ia berbaring di kasur tua itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tertidur di dalam tempat yang ia perjuangkan untuk diselamatkan. Bau kayu tua dan lem ban dan minyak rantai menggantikan bau seng dan jalan dari gudang lamanya.
Ketika ia bangun keesokan paginya, sebelum subuh, hal pertama yang ia lihat lewat jendela tinggi itu adalah papan kayu Rajawali, kelabu dalam cahaya pertama, diam dan menunggu. Bukan sesuatu yang jauh yang ia datangi tiap hari. Sesuatu yang ada di sisi lain dindingnya ketika ia membuka mata. Untuk pertama kalinya ia bangun di rumah yang ia perjuangkan, dan rasa itu—asing, hangat, sedikit menakutkan—mengikutinya turun ke lintasan ketika ia mengambil pel dan mulai membersihkan garis datar dalam keheningan pagi.