Pada minggu kedua, Hasan memutuskan sudah waktunya berhenti berlatih dengan derny pelan dan mulai membuat keirin terasa nyata. Ia mengundang dua pembalap junior dari klub kota lain—anak-anak yang cukup terlatih untuk membuat lintasan terasa sesak, cukup muda untuk tidak menertawakan asal-usul Arka. Ditambah Mei, mereka berempat. Hasan sendiri yang akan mengendarai derny kali ini, kaki kirinya cukup untuk menahan motor pelan meski tak cukup untuk sepeda.
"Hari ini kamu pilih sendiri gear ratiomu," kata Hasan sebelum mereka mulai. "Aku tidak akan memilihkannya. Di seleksi nanti, tak ada yang akan memilihkannya untukmu. Itu keputusanmu sendiri di garasi, dan kamu akan menanggung akibatnya di lintasan."
Arka pergi ke meja kerja, ke kotak gir yang Mei pernah ajarkan padanya berminggu-minggu lalu. Ia memikirkan keirin—kecepatan yang sudah tinggi ketika derny minggir, lalu sprint penuh sampai garis. Kecepatan tinggi. Sprint. Pikirannya, yang masih kurir di dalam, menyederhanakan: kalau aku mau cepat, aku pakai gigi besar. Rasio berat, kecepatan puncak tinggi. Ia memasang gir depan terbesar dan belakang terkecil yang ada, perbandingan yang berat, yang menjanjikan kecepatan puncak menggila. Mei melihat pilihannya dari sudut mata tapi tak berkata apa-apa. Ia tahu ada pelajaran yang hanya bisa dipelajari lewat kegagalan.
Mereka mengambil posisi di belakang derny. Motor menderu, memimpin, kecepatan naik bertahap—dua puluh, tiga puluh, empat puluh. Sejauh ini Arka sabar, menjaga posisi kedua, menempel pada angin yang dicuri. Lalu derny mulai mempercepat untuk minggir, dan Hasan menariknya keluar lintasan tepat di tikungan yang tepat.
Ruang terbuka. Arka melepas.
Dan kakinya membentur dinding yang tak terlihat.
Gigi yang ia pilih terlalu berat. Untuk memutarnya dari kecepatan derny ke kecepatan sprint penuh, kakinya butuh dorongan raksasa, dan dorongan itu datang terlalu lambat. Dua junior di belakangnya, dengan rasio lebih ringan, berputar lebih cepat lebih dulu—kaki mereka berputar bagai kipas sementara Arka masih bertarung mengungkit gigi beratnya, satu kayuhan demi satu kayuhan yang berat seperti mengangkat batu. Begitu Arka akhirnya mencapai kecepatan puncak gigi beratnya, balapan sudah usai. Kedua junior melewatinya di tikungan terakhir, akselerasi mereka mengalahkan kecepatan puncaknya yang datang terlambat. Mei, di belakang, tak perlu repot menyusul; ia sudah di depan Arka sebelum garis.
Arka memperlambat sepedanya, marah dan bingung. Kakinya tidak kosong seperti waktu ia melepas terlalu cepat dulu. Justru sebaliknya—kakinya masih punya tenaga, tapi tenaga itu tak bisa keluar cukup cepat. Ia menang di kecepatan puncak dan kalah di setiap meter sebelum kecepatan puncak itu tercapai.
Mei menghampirinya di garasi, mengambil sepeda Arka, dan memutar pedalnya dengan tangan, mendengarkan rasio bergerak. "Kamu pasang gigi sprinter lintasan datar panjang," katanya. "Gigi untuk orang yang punya banyak waktu mencapai kecepatan puncaknya. Tapi keirin bukan itu. Di keirin, ketika derny minggir, kamu sudah di kecepatan tinggi tapi kamu cuma punya beberapa ratus meter untuk berebut. Yang menang bukan kecepatan puncak tertinggi. Yang menang akselerasi tercepat dari kecepatan derny ke garis. Kamu butuh rasio yang bisa kamu lempar cepat, bukan yang bisa kamu seret jauh."
Ia membentangkan tabel gir di meja, sama seperti hari pertama, tapi kali ini Arka mendengarkan dengan telinga yang berbeda—telinga yang baru saja dihukum oleh angka. Mei menunjuk baris demi baris. "Rasio terlalu ringan, kamu cepat berakselerasi tapi kakimu kehabisan putaran di kecepatan tinggi—kamu seperti mengayuh di udara, tak ada lagi yang bisa ditekan. Rasio terlalu berat, seperti tadi, kamu punya puncak tinggi tapi tak pernah sempat sampai ke sana sebelum garis. Yang kamu cari ada di tengah—kompromi. Cukup ringan untuk melempar cepat saat derny minggir, cukup berat untuk tidak kehabisan putaran di dua ratus meter terakhir. Untuk kaki sekuatmu, sedikit lebih berat dari rata-rata. Tapi cuma sedikit."
Mereka menghitung bersama, gigi demi gigi, di atas kertas. Arka, yang dulu menganggap urusan gir membosankan, kini mencondongkan tubuh ke tabel itu seperti orang membaca peta menuju kemenangan. Setiap perbandingan punya konsekuensi yang bisa ia rasakan di kakinya sekarang, bukan lagi angka abstrak. Mereka memilih satu rasio, memasangnya, dan Arka kembali ke lintasan.
Kali ini, ketika derny minggir dan ruang terbuka, lemparannya keluar bersih—kakinya menemukan gigi yang bisa ia putar cepat, akselerasinya menghentak, dan ia melesat di depan kedua junior sebelum mereka sempat menyamai. Ia memimpin tikungan terakhir. Bukan kemenangan sempurna—di seratus meter terakhir salah satu junior hampir menyamainya—tapi ia menyeberangi garis lebih dulu, dan kali ini kakinya bekerja sebagaimana mestinya, tenaganya keluar pada waktu yang benar lewat gigi yang benar.
Ia turun, terengah, dan untuk pertama kalinya menatap kotak gir di garasi dengan rasa hormat yang baru. Hasan, mematikan derny dan menyeret kakinya mendekat, melihat tatapan itu dan mengangguk pelan.
"Sekarang kamu mengerti," katanya. "Setengah dari balapan ini dimenangkan di sini—Mei pernah bilang itu di hari pertama, dan kamu pikir dia melebih-lebihkan. Kakimu bisa jadi yang terkuat di lintasan, tapi kalau kamu memasang gigi yang salah, kamu menyerahkan kemenangan sebelum bel pertama. Di seleksi nanti, ketika kamu memilih rasio di garasi, kamu sedang membuat keputusan sama pentingnya dengan setiap kayuhan. Kaki bisa berbohong padamu. Angka tidak."
Arka mengangguk, mengusap keringat, dan untuk pertama kalinya, sebelum balapan ulang berikutnya, ia tak langsung naik. Ia kembali ke tabel, menghitung sekali lagi, dan baru memasang sepatu ketika angka itu terasa benar di kepalanya.