Hari kedua puluh. Latihan terakhir sebelum seleksi besok. Hasan menyebutnya bukan latihan, tapi pelumasan—gerakan ringan, kaki dijaga segar, pikiran yang ditenangkan. Tak ada lagi yang bisa ditambahkan dalam satu hari; yang ada hanya merusak dengan latihan berlebih. Maka sore itu velodrom terasa lebih lambat, lebih lembut, cahaya senja masuk lewat lubang-lubang atap dan jatuh keemasan ke papan kayu.
Arka baru selesai sesi roller ketika ia mendengar suara-suara di pintu velodrom—suara yang sama sekali tak cocok dengan tempat ini. Suara anak-anak. Banyak. Dan satu suara perempuan tua yang ia kenal sampai ke tulangnya.
Ia berputar, dan di ambang pintu berdiri Bu Ningsih, punggungnya membungkuk, tangannya menjinjing kantong plastik berisi bungkusan, dan di belakangnya, berdesakan dengan mata terbelalak, sekitar selusin anak panti dari Tunas Mekar. Anak-anak itu memandang papan kayu raksasa yang melingkar di hadapan mereka dengan mulut terbuka, persis seperti Arka di hari pertamanya, dan dua dunia yang selama ini ia jaga terpisah—rumahnya dan papan kayunya—tiba-tiba berdiri di ruang yang sama.
"Bu," kata Arka, terkejut, hampir tergagap. "Bagaimana Ibu..."
"Kamu cerita tempat ini waktu itu," kata Bu Ningsih, melangkah masuk pelan-pelan, matanya berkeliling ke seluruh velodrom dengan kekaguman tenang. "Velodrom Rajawali. Tidak susah dicari. Anak-anak terus bertanya tempat apa yang membuat Kak Arka tidak pulang-pulang ke panti." Ia tersenyum, lelah tapi hangat. "Ibu pikir, daripada mereka membayangkan yang aneh-aneh, lebih baik mereka lihat sendiri. Dan besok kamu lomba, kan? Tidak baik kalau tidak ada keluarga yang menonton latihan terakhirmu."
Keluarga. Kata itu menghantam Arka dengan cara yang tak ia duga.
Anak-anak panti berhamburan ke pinggir lintasan, menyentuh kayu, bertanya kenapa tikungannya miring, kenapa tidak jatuh, di mana remnya. Mei, yang awalnya canggung dengan kerumunan tiba-tiba ini, mendapati dirinya menjawab pertanyaan mereka satu per satu, menunjukkan ban tubular, membunyikan bel lap yang membuat anak-anak melonjak senang setiap kali. Hasan keluar dari kantornya, dan untuk sesaat Arka takut pria tua itu akan terganggu oleh keriuhan. Tapi Hasan hanya berdiri di pintu kantor, memandang anak-anak yang berlarian di pinggir lintasan, dan di wajah tuanya ada sesuatu yang Arka belum pernah lihat—velodrom yang sudah bertahun-tahun sunyi seperti makam, untuk sesaat, hidup oleh suara anak-anak. Mata Hasan basah, dan ia tak mencoba menyembunyikannya.
Bu Ningsih membuka kantong plastiknya dan membagikan nasi bungkus—nasi sederhana dengan tempe dan sambal, dimasak di dapur panti yang catnya kusam. Mereka makan bersama di bangku kayu tribun yang berdebu, Arka dan Mei dan Hasan dan dua belas anak dan perempuan tua yang membesarkan mereka semua. Anak-anak bertanya pada Arka apakah ia akan menang besok, dan Arka tak tahu harus menjawab apa, karena ia tahu kemungkinannya, dan ia tak ingin berbohong pada anak-anak yang sama posisinya dengan dirinya dulu.
Lalu salah satu anak—seorang bocah laki-laki kurus berusia sekitar empat belas, yang sejak tadi paling lama memandangi lintasan, yang matanya mengikuti setiap putaran roda dengan kelaparan yang Arka kenali karena pernah ada di matanya sendiri—bertanya pelan, "Kak, kalau aku mau belajar ini, boleh?"
Arka memandang anak itu, dan untuk satu saat ia tak bisa bicara.
Malam itu, setelah Bu Ningsih dan anak-anak pulang dengan angkot yang ia sewa, setelah velodrom kembali sunyi tapi sunyi yang berbeda dari biasanya—sunyi yang masih menyimpan gema tawa anak-anak—Hasan memanggil Arka ke pinggir lintasan. Mereka duduk berdua di papan kayu, memandang tikungan 42 derajat yang gelap, dan untuk waktu yang lama tak ada yang bicara.
"Besok," akhirnya Hasan berkata, "kamu akan berdiri di garis start di antara dua puluh tubuh yang lebih cepat darimu, lebih matang, lebih pantas. Dan sebagian dari kepalamu akan bilang kamu harus menang untuk membuktikan sesuatu. Untuk menghapus senyum Senna. Untuk semua anak yang makan nasi bungkus di tribun tadi." Ia menatap Arka dengan mata tua yang sudah melihat terlalu banyak. "Dengar baik-baik, karena ini nasihat paling penting yang kuberikan dalam tiga pekan ini. Besok, menang bukan tujuanmu. Lolos adalah."
Arka mengernyit. "Apa bedanya?"
"Bedanya segalanya. Kalau kamu turun ke lintasan besok dengan kepala penuh keinginan menang—mengalahkan Senna, finis pertama—kamu akan melepas terlalu cepat, memaksa di saat yang salah, membakar pelurumu untuk ego. Persis seperti dulu. Tapi kamu tidak perlu menang untuk lolos. Kamu cuma perlu cukup tinggi dalam daftar untuk masuk ambang kualifikasi pembinaan. Itu mungkin. Menang melawan Senna mungkin tidak, tidak hari ini, dan kalau kamu mengejar yang mustahil kamu akan kehilangan yang mungkin." Ia meletakkan tangannya yang keriput di bahu Arka, gerakan yang jarang sekali ia lakukan. "Balapan dengan kepala dingin. Jaga posisi. Lepas di waktu yang benar. Jangan mengejar kemenangan yang tidak kamu butuhkan. Lolos. Itu saja. Lolos, dan garis ini tidak putus."
Arka memandang papan kayu yang gelap, dan memikirkan anak kurus yang bertanya boleh tidak ia belajar, dan Bu Ningsih yang membungkuk membawa nasi bungkus, dan kunci gembok yang menggantung di leher Hasan, dan foto podium dua anak muda dengan tangan terangkat. Beban yang ia pikul tiba-tiba terasa nyata di tubuhnya, berat dan jelas, tapi anehnya bukan beban yang menghancurkan. Beban yang memberi arah.
"Lolos," ulangnya pelan, seperti berjanji pada papan kayu itu sendiri. "Bukan menang. Lolos."
Hasan mengangguk, dan untuk pertama kalinya dalam tiga pekan, ada sesuatu yang nyaris seperti damai di wajah tuanya. "Sekarang tidur. Besok kakimu butuh seluruh yang kamu punya, dan kepalamu butuh lebih banyak lagi."