Velodrom seleksi adalah dunia yang lain. Indoor, papan kayunya pucat baru dan licin, lampu sorot terang merata tanpa satu pun yang berkedip, tribun yang—meski tak penuh—berisi cukup orang untuk membuat dengung suara yang asing di telinga Arka yang terbiasa pada sunyi Rajawali. Di area pemanasan, deretan pembalap memutar kaki di atas roller, tubuh-tubuh terlatih dalam jersey klub yang bersih, dan di antara mereka Arka dengan jersey lungsuran dan sepatu pinjaman terasa seperti burung gereja yang tersesat ke kandang elang.
Hasan tidak membiarkannya menatap lawan terlalu lama. "Mata di rollermu," katanya pelan, memegangi sepeda Arka. "Jangan mengukur mereka sekarang. Kamu sudah mengukur mereka di rekaman. Sekarang panaskan kaki dan kosongkan kepala."
Mei memeriksa ban dan gir untuk terakhir kali, tangannya tenang dan teliti, dan kepercayaan dirinya yang diam menular sedikit ke Arka. Rasio yang mereka hitung bersama, kompromi antara akselerasi dan puncak, terpasang sempurna. Tubular yang Arka lem sendiri di bawah pengawasan Mei, mulus tanpa gelombang sebesar uang logam pun.
Di seberang area, Arka melihat Senna sekilas, sudah selesai pemanasan, duduk tenang dengan handuk di leher, matanya tertutup. Tak gugup sama sekali. Bagi Senna ini hari kerja biasa. Bagi Arka, ini tiga pekan dari hidupnya, sebuah velodrom, sebuah panti, dan sebuah garis yang tak boleh putus, semua dipadatkan jadi beberapa lap di papan kayu asing.
Babak penyisihan keirin. Pembalap dibagi ke beberapa heat; yang teratas di tiap heat langsung lolos ke babak berikut, sisanya turun ke repechage—kesempatan kedua. Arka di heat ketiga, bersama lima pembalap lain, tak satu pun yang ia kenal wajahnya secara dekat, tapi semuanya bertubuh terlatih dengan cara yang membuat perutnya melilit.
Mereka dipanggil ke garis. Arka mengunci sepatu ke pedal—klik—dan menempel di belakang derny bersama yang lain. Motor menderu, memimpin, dan kecepatan mulai naik. Dua puluh. Tiga puluh. Empat puluh. Arka di posisi keempat, mencoba mengingat segala yang Hasan ajarkan—jaga posisi, baca punggung, jangan panik ketika ruang terbuka—tapi jantungnya berdebar terlalu keras dan tribun mendengung terlalu asing dan tubuh-tubuh di sekitarnya terlalu dekat, terlalu nyata, terlalu cepat.
Dan ketika derny mulai mempercepat untuk minggir, sesuatu yang lama dan liar di dalam Arka bangkit. Gugup mengubah semua perhitungannya jadi insting mentah. Begitu motor itu menarik diri dan ruang di depan terbuka, kakinya bergerak lebih dulu dari kepalanya—ia melepas. Bukan satu setengah lap terlalu cepat seperti dulu. Tapi cukup cepat. Setengah lap. Ia melonjak ke depan dengan ledakan kakinya, memimpin, dan untuk dua detik ada euforia lama itu—aku di depan—
—lalu garis masih jauh, dan ia mengingat, terlambat, semua yang Hasan ajarkan. Pelan-pelan kakinya mulai terbakar. Dua pembalap yang menahan pelurunya lebih lama melewatinya di tikungan terakhir, satu, lalu dua, dan Arka menyeberangi garis di posisi ketiga di heatnya—tidak cukup. Hanya yang teratas yang langsung lolos. Ia turun ke repechage.
Ia memperlambat sepedanya, dada terbakar, dan rasa malu yang ia kira sudah ia tinggalkan tiga pekan lalu kembali menghantamnya. Ia mengulangi kesalahan yang sama. Setelah segala latihan, segala disiplin, di momen yang paling penting, tubuh gugupnya kembali ke insting kurir yang lama.
Hasan menemuinya di pinggir, dan Arka bersiap untuk kemarahan. Tapi pria tua itu tidak marah. Wajahnya tenang, hampir terlalu tenang. "Kamu melepas terlalu cepat," katanya datar. "Setengah lap. Gugup mengambil alih. Itu manusiawi." Ia menatap Arka dengan mata yang keras tapi tak menghukum. "Tapi dengar. Repechage adalah kesempatan kedua. Itulah gunanya. Kamu tidak tersingkir. Kamu masih hidup. Dan sekarang kamu sudah merasakan lintasan ini, dengung tribun ini, kecepatan derny ini—tubuhmu tidak akan sekaget tadi. Pertanyaannya cuma satu: apakah kamu bisa melakukan hal yang sama yang kamu latih ratusan kali di Rajawali, sekarang, ketika itu benar-benar penting?"
Repechage dipanggil tak lama kemudian. Arka kembali ke garis, dan kali ini ia memaksa dirinya melakukan satu hal yang Mei ajarkan jauh di awal—empat hitungan tarik, empat hitungan buang, mengunci napas ke kayuhan, menenangkan jantung yang berpacu. Lolos, bukan menang. Lolos. Ia mengulang kata Hasan di kepalanya seperti doa.
Derny memimpin. Kecepatan naik. Arka di posisi ketiga kali ini, dan ia menahan—menahan dengan seluruh kehendaknya, menatap punggung pembalap di depannya, membaca bahu mereka. Salah satu menegang di lap kedua dan menyerang dini; Arka tidak terpancing, membiarkannya membakar tenaga di depan. Lalu derny mempercepat, minggir, ruang terbuka—dan kali ini, untuk pertama kalinya di hari itu, Arka menahan instingnya. Ia menunggu setengah detik. Setengah detik yang membuat Bagas menang. Setengah detik yang dulu tak bisa ia tahan barang sekejap. Lalu ia melepas, di tikungan terakhir, di tempat yang benar.
Kakinya, yang ia simpan, masih penuh. Ia melesat melewati pembalap yang menyerang dini tadi, naik ke posisi kedua, lalu menyamai yang pertama di dua ratus meter terakhir. Mereka berdua menyeberangi garis hampir bersamaan—dan Arka, dengan dorongan terakhir yang membakar segala yang tersisa, mencuri posisi kedua dengan margin setipis ban. Cukup. Repechage meloloskan dua teratas. Ia lolos. Tipis, payah, dengan kaki gemetar—tapi lolos, ke babak berikut.
Ia memperlambat sepedanya, dadanya naik turun, dan ketika ia menoleh ke pinggir, ia mencari Hasan, mengharapkan—apa? Sorak? Senyum?
Hasan tidak bersorak. Ia berdiri di pagar, kaki kirinya menahan tubuhnya, dan ketika matanya bertemu mata Arka, ia hanya berkata, cukup keras untuk didengar di atas dengung tribun, dengan suara datar seorang tua yang sudah melihat terlalu banyak kemenangan kecil yang membuat orang lengah: "Bagus. Sekarang lupakan yang tadi, dan ulangi yang benar. Sekali itu kebetulan. Dua kali baru jadi kemampuan."
Dan Arka, terengah dan basah keringat, tersenyum lebar untuk pertama kalinya hari itu—karena ia tahu, di balik kata-kata keras itu, pria tua itu baru saja menyuruhnya melakukan persis hal yang ia paling takut: melakukannya lagi, dan lagi, sampai jadi tulang.