Pagi datang dengan cara yang sama seperti pagi mana pun—lampu sorot velodrom dinyalakan satu per satu oleh petugas, papan kayu memantulkan kilau pucat, dan udara di dalam arena terasa lebih dingin daripada di luar. Tapi bagi Arka, segalanya terasa berbeda. Tubuhnya tahu apa yang akan terjadi sebelum kepalanya sempat memikirkannya. Lututnya, yang sejak kemarin berdenyut tumpul setiap kali ia menapak, terasa seperti benda asing yang dipinjamkan padanya hanya untuk hari ini.
Hasan tidak banyak bicara. Ia menuntun roller ke posisi, memeriksa tekanan ban dengan ibu jari, lalu berlutut di samping sepeda dengan kaki kirinya yang pincang ditekuk susah payah. "Enam orang di final," katanya pelan, tidak menatap Arka, menatap rantai. "Senna, Bagas, Yusuf, Tio, Rendi, kamu. Empat dari mereka lebih cepat darimu di atas kertas. Itu kenyataannya. Aku tak akan bohong."
Arka menelan ludah. "Lalu kenapa kita di sini."
Hasan akhirnya menengadah. Matanya, yang tiga pekan ini selalu menilai, kini hanya lelah dan jernih. "Karena kamu tidak perlu menang. Kamu cuma perlu tidak finis terakhir. Ambang pembinaan ambil tiga teratas yang bukan dari klub mapan—itu artinya kamu butuh masuk separuh atas, mengalahkan dua orang. Dua. Bukan lima." Ia menepuk lutut Arka yang sakit, tepat di tempat yang berdenyut, dan Arka menahan diri agar tidak meringis. "Pilih duamu. Sisanya biarkan."
Mei datang membawa botol dan handuk. Ia tidak berkata banyak, hanya menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan Arka, menghitung diam-diam, lalu mengangguk. "Denyutmu tujuh puluh dua. Tenang. Jangan bakar apa pun sebelum bel."
Ketika namanya dipanggil ke garis, Arka berjalan ke lintasan dengan kaki yang terasa terlalu ringan. Senna sudah di sana, di posisi terdepan undian, handuk masih di leher seolah ini cuma latihan sore. Ia menoleh sekilas pada Arka, dan untuk sepersekian detik tidak ada seringai—hanya tatapan yang mengukur, lalu kembali ke depan. Bagas di sebelahnya, tubuh tegap, wajah sedingin nama yang sudah Arka pelajari dari rekaman. Yusuf veteran dengan punggung yang sudah Arka tahu cara membohonginya. Tio. Rendi. Dan Arka di posisi terburuk, paling belakang di belakang derny.
Motor derny merayap keluar, asapnya tipis, dan enam pembalap jatuh ke dalam formasi di belakangnya. Tiga lap penuntun. Kecepatan naik perlahan, naik lagi, dan Arka melakukan persis yang dilatihkan: ia tidak melawan posisinya yang buruk, ia membaca. Punggung Senna di depan sana tegak, tenang, tidak menyiratkan apa-apa—Senna terlalu pintar untuk bocor. Tapi Yusuf, dua posisi di depan Arka, bahunya mulai turun sedikit di lap kedua, mengendur, memancing. Arka tahu trik itu. Ia tidak menggigit.
Derny minggir di awal lap terakhir, dan velodrom meledak. Senna melepas seperti dilepaskan dari ketapel, garisnya bersih, tak terbantah. Bagas menempel di belakangnya, mencuri angin, lalu menyodok keluar di tikungan ketiga. Yusuf melontar dari posisi tengah, garis dalam, kotor, menutup ruang Tio sampai Tio harus mengayun melebar dan kehilangan momentum. Arka, di belakang semuanya, melakukan hitungan terakhir yang ia tahan tiga pekan: ia tidak mengejar Senna. Ia tidak bisa. Ia mengincar Rendi dan Tio.
Ia naik setengah ke banking, meminjam ketinggian, dan menukik di tikungan terakhir persis seperti yang ia curi dari Senna. Momentum melontarkannya turun melewati Tio yang sudah membakar habis kakinya di tikungan tadi. Satu orang dilewati. Rendi di depannya, sekuat tenaga, dan untuk seratus meter terakhir keduanya berdampingan, roda berjarak sejengkal, paru-paru terbakar. Lutut Arka menjerit di setiap kayuhan, panas yang tajam menjalar naik, tapi ia mendorong—satu kayuhan, satu lagi—dan menyeberangi garis setengah roda di depan Rendi.
Keempat. Bukan podium. Senna emas, Bagas perak, Yusuf perunggu. Tapi keempat, di atas dua orang, di dalam ambang. Arka memperlambat sepedanya dan tubuhnya langsung memberontak—ia terkulai di atas setang, lututnya berdenyut hebat, dadanya seperti diisi pasir panas. Ia tidak menang. Tapi ia tidak kalah dengan cara yang menyingkirkannya.
Ketika ia mendongak, mencari pinggir lintasan, ia menemukan Senna lebih dulu daripada Hasan. Sang juara berdiri di garis finis, napas masih memburu, dan ia menatap Arka. Tidak meremehkan. Tidak menyeringai. Senna menatap anak yang seharusnya tersingkir di babak pertama, yang baru tiga bulan menyentuh papan kayu, dan finis di ambang seleksi nasional dengan lutut yang nyaris tak sanggup. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap, lama, lalu memalingkan wajah dengan ekspresi yang Arka tak bisa baca sepenuhnya—sesuatu yang lebih dekat ke gangguan daripada kemenangan.
Di pagar, Hasan berdiri menahan tubuhnya di kaki kirinya yang pincang. Ia tidak menyuruh Arka mengulangi yang benar. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menutup matanya sejenak, seolah baru saja meletakkan sesuatu yang ia panggul terlalu lama, lalu mengangguk pelan. Mei di sampingnya menangis tanpa suara, tangan menutup mulut, dan tertawa pada saat yang sama.
Arka lolos. Bukan sebagai juara. Sebagai satu nama yang cukup. Dan untuk sekarang, satu nama yang cukup adalah segalanya.