Surat itu datang sembilan hari kemudian, dan Arka hampir tidak mengenalinya sebagai sesuatu yang penting. Ia sedang mengepel lintasan—pekerjaan yang ia bayar sebagai ganti tidur di kamar belakang garasi—ketika tukang pos berhenti di gerbang Rajawali dengan motor butut dan amplop cokelat berkop federasi. Tangan Arka basah dan bau pembersih lantai. Ia mengelapnya ke celana sebelum menerima amplop itu, dan untuk beberapa detik ia hanya memegangnya, tidak berani membukanya.
Hasan keluar dari ruang peralatan, melihat amplop, dan wajahnya mengeras. Tiga pekan terakhir telah mengajarkan keduanya bahwa amplop berkop federasi tidak pernah membawa kabar netral. Mei datang dari arah bengkel, lap minyak masih di tangan, dan bertiga mereka berkumpul di tengah lintasan kayu di bawah lampu yang baru setengah dinyalakan.
"Buka," kata Hasan.
Arka merobeknya dengan ibu jari. Kertas di dalamnya resmi, dingin, penuh nomor pasal dan istilah yang tidak ia mengerti. Tapi satu baris menonjol, dicetak tebal di tengah halaman, dan ia membacanya dua kali untuk memastikan matanya tidak bohong. Nama Arka Wijana tercatat lolos sebagai atlet binaan jalur Velodrom Rajawali. Di bawahnya, paragraf yang lebih panjang menjelaskan konsekuensinya dengan bahasa hukum yang berbelit: lisensi operasional lintasan diperpanjang dua belas bulan, dan alokasi dana pembinaan daerah—yang sempat dibekukan menunggu hasil seleksi—dinyatakan cair.
Mei membaca dari balik bahunya, dan ia yang pertama bersuara, suaranya pecah di tengah. "Cair. Dananya cair."
Arka tidak merasakan ledakan sukacita yang ia bayangkan akan datang. Ia merasakan sesuatu yang lebih aneh—seperti menahan napas terlalu lama lalu diizinkan menghembuskannya, tapi paru-paru sudah lupa cara melakukannya. Ia menyerahkan surat itu pada Hasan, yang membacanya pelan, jari menyusuri setiap baris seolah takut salah satu kata akan berubah jika ia mengedip.
Ketika pria tua itu selesai, ia tidak tersenyum lebar. Ia melipat surat itu kembali dengan hati-hati, sesuai lipatan aslinya, lalu duduk di bibir banking dengan kaki kiri diluruskan. Ia menatap papan kayu di hadapannya—cat yang mengelupas, garis-garis yang catnya pudar, tribun berdebu yang sudah tiga dekade tak penuh. "Dua belas bulan," katanya. "Itu yang kita beli. Bukan keselamatan. Penangguhan."
Arka duduk di sampingnya. Lututnya masih membungkus es yang Mei tempelkan tadi pagi. "Tapi velodrom tidak jadi dibongkar."
"Tidak sekarang." Hasan menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam tiga pekan ada kelelahan tua di matanya yang ia biarkan terlihat. "Mereka tidak menyerah, Arka. Pengembang itu, federasi yang memihak klub berduit—mereka tidak pergi karena satu anak finis keempat di seleksi. Mereka cuma menunggu. Dana ini cair untuk dua belas bulan, dan dalam dua belas bulan mereka akan mencari celah lain. Selalu ada celah lain."
Mei duduk di sisi lain Arka, melingkarkan lengannya di lutut sendiri. "Tapi malam ini kita menang."
Hasan diam lama. Lalu sudut bibirnya bergerak, sedikit, lebih dekat ke senyum daripada apa pun yang pernah Arka lihat di wajahnya. "Malam ini kita menang," ia mengakui.
Mereka tidak merayakannya dengan gegap gempita. Tidak ada uang untuk itu, dan tidak ada di antara mereka yang terbiasa dengan kegembiraan yang terlalu keras. Mei pergi membeli tiga bungkus nasi goreng dari gerobak di ujung jalan, dan mereka memakannya duduk melingkar di tengah lintasan, di papan kayu yang malam ini terasa kurang seperti makam dan lebih seperti rumah. Hasan menceritakan—setengah hati, dipancing Mei—tentang malam ia pertama kali menang di velodrom ini puluhan tahun lalu, dan bagaimana tribun penuh, dan bagaimana bau lem ban bercampur keringat dan rokok penonton. Arka mendengarkan, mencoba membayangkan tribun berdebu di belakangnya penuh wajah, dan gagal, dan tetap mencoba.
Malam itu, sebelum tidur di kamar belakang garasi yang sekarang resmi jadi rumahnya, Arka membaca ulang surat itu sekali lagi di bawah lampu pijar yang temaram. Namanya, dicetak tebal. Arka Wijana. Tiga bulan lalu nama itu cuma tertera di tas kurir yang lecek. Sekarang ada di kertas berkop federasi sebagai atlet binaan. Ia tidak tahu apakah ia merasa bangga atau takut. Mungkin keduanya, mungkin itu memang selalu hal yang sama.
Di paragraf terakhir surat, ada satu baris yang tadi tidak ia perhatikan. Atlet binaan diwajibkan mengikuti pemusatan latihan regional yang akan dijadwalkan dalam waktu dekat. Arka membacanya, dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa ini bukan akhir dari apa pun. Pintu yang baru saja ia buka dengan lutut yang nyaris hancur hanya mengarah ke ruangan yang jauh lebih besar—dan ia bahkan belum tahu seberapa besar.