Telepon itu datang di sela makan malam, dan Arka tahu ada yang salah dari cara Mei mengucapkan namanya. Tidak ada sapaan ceria, tidak ada "sudah kubilang dari dulu." Hanya "Arka" yang pelan, dan jeda, dan suara latar yang sunyi seperti Mei sedang berdiri di tengah lintasan velodrom yang kosong sambil menelepon.
"Ada apa," tanya Arka, langsung berdiri dari meja makan asrama dan berjalan ke koridor agar bisa bicara sendirian.
Mei menarik napas. "Sponsor yang dijanjikan—yang katanya mau bantu biaya perawatan lintasan—mereka mundur. Datang surat kemarin. Mereka bilang situasi keuangan mereka berubah, padahal kita semua tahu mereka cuma menunggu lihat apakah Rajawali bakal bertahan, dan begitu lihat ini cuma penangguhan dua belas bulan, mereka tidak mau ambil risiko."
Arka bersandar ke dinding koridor. "Lalu biaya perawatannya?"
Keheningan di seberang. Lalu, lebih pelan, "Hasan yang menanggung. Dari uang pensiunnya. Dia tidak cerita ke aku, aku tahu sendiri waktu lihat kuitansi di laci. Lampu lintasan, perbaikan kayu yang lapuk di banking bagian utara, sewa listrik yang naik—semuanya dari kantongnya sendiri. Dan dana pembinaan dari federasi itu cair, iya, tapi terikat aturan. Cuma boleh dipakai untuk program latihan atlet binaan, bukan untuk perbaikan gedung. Jadi velodromnya sendiri—papan kayunya—tidak dapat sepeser pun dari dana itu. Hasan menambalnya sendiri."
Arka menutup matanya. Ia membayangkan Hasan, lima puluh delapan tahun, kaki kiri pincang, mengeluarkan lembar demi lembar dari uang pensiunnya yang tipis untuk mengganti kayu lapuk di banking yang nyaris tak pernah lagi diinjak orang selain Arka dan Mei. Ia membayangkan pria tua itu duduk di malam hari menghitung kuitansi di bawah lampu pijar temaram, dan tidak menelepon Arka untuk menceritakannya, karena Hasan tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun.
"Kenapa dia tidak bilang," kata Arka, meski ia sudah tahu jawabannya.
"Karena dia tidak mau kamu pulang," jawab Mei. "Dia bilang—aku tanya kenapa dia tidak cerita ke kamu—dia bilang, 'Anak itu sedang di tempat yang tidak pernah kubayangkan bisa ia capai. Aku tidak akan menariknya kembali untuk mengkhawatirkan kayu lapuk dan tagihan listrik. Biarkan dia di sana. Biarkan dia jadi lebih besar dari velodrom ini.'"
Arka berdiri di koridor asrama yang bersih dan terang dan mahal, dengan lantai keramik yang dingin di bawah sandalnya, dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di pemusatan, ia merasa malu. Bukan malu seperti anak jalanan di antara seragam rapi. Malu yang lebih dalam. Ia di sini, makan tiga kali sehari dengan menu yang diatur ahli gizi, tidur di ranjang empuk, berlatih di lintasan birch impor di bawah dua puluh lampu sorot—dan di Bandung, pria yang mengeluarkannya dari lampu merah Jalan Riau mengeluarkan uang pensiunnya untuk menjaga papan kayu sekarat tetap hidup, sendirian, tanpa mengeluh, agar Arka tidak perlu pulang.
"Aku akan pulang," kata Arka.
"Jangan." Suara Mei tegas. "Kalau kamu pulang, Hasan akan tahu aku yang cerita, dan dia akan marah, dan kamu akan kehilangan tempatmu di pemusatan. Itu bukan yang dia mau. Itu bukan yang aku mau." Jeda. "Aku cuma cerita karena kamu berhak tahu. Karena aku capek menanggungnya sendiri di sini."
Kalimat terakhir itu menusuk Arka dengan cara yang tidak ia duga. Mei, yang selalu jadi yang kuat, yang mengajarinya ritme dan ketenangan, yang tidak pernah mengeluh—Mei juga menanggung ini sendirian di Bandung sementara Arka mengejar mimpinya di kota lain. Velodrom itu bukan cuma rumah Arka. Itu rumah Mei juga, dan Mei tinggal di sana menjaganya menua sementara Arka pergi.
"Mei," kata Arka. "Maaf."
"Untuk apa."
"Karena aku di sini menikmati semua ini, dan kalian di sana—" ia tidak bisa menyelesaikannya.
Mei diam lama. Lalu suaranya melembut. "Kamu di sana bukan untuk menikmati. Kamu di sana karena itu satu-satunya cara garis ini tetap hidup. Hasan benar soal itu. Tapi—" suaranya menggantung, "—aku mulai berpikir, Arka. Kalau kamu menang besar, kalau kamu jadi bintang, apa itu menyelamatkan velodrom? Kayunya tetap lapuk. Tagihannya tetap datang. Satu atlet, sebesar apa pun, tidak bisa menambal gedung selamanya dengan medali."
Arka menatap koridor yang panjang dan kosong di depannya. Untuk pertama kalinya, pikiran yang akan mengubah segalanya merayap masuk: bahwa kemenangan personal—mimpi yang ia kejar, podium yang ia bayangkan—mungkin tidak cukup menyelamatkan apa pun. Bahwa ada yang lebih besar dari satu nama, satu kaki, satu medali. Ia belum tahu bentuknya. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidur dengan pertanyaan yang lebih besar daripada balapan berikutnya.