Pertanyaan itu tidak meninggalkannya. Selama beberapa hari Arka berlatih seperti biasa—individual pursuit di pagi hari, sesi keirin di sore, analisis di malam—tapi di sela-selanya, di kepalanya, sesuatu terus berputar. Kalau kamu menang besar, apa itu menyelamatkan velodrom? Kayunya tetap lapuk. Tagihannya tetap datang.
Ia mulai memperhatikan hal-hal yang dulu lewat begitu saja. Cara dana pembinaan terikat aturan—hanya untuk program atlet, bukan gedung. Cara federasi bicara tentang Rajawali bukan sebagai tempat tapi sebagai jalur. Cara surat resmi itu menyebutkan perpanjangan lisensi terkait dengan atlet binaan, bukan dengan kondisi bangunan. Dan suatu malam, duduk di perpustakaan kecil pemusatan dengan dokumen-dokumen yang ia pinjam dari kantor administrasi, ia akhirnya menyusun potongannya jadi satu gambaran utuh.
Velodrom Rajawali tidak bertahan karena ia menang seleksi. Velodrom Rajawali bertahan karena ia, Arka Wijana, terdaftar sebagai atlet binaan yang aktif—dan selama jalur itu menghasilkan atlet, lisensinya hidup dan dananya cair. Tapi lisensi itu, Arka membaca pasal demi pasal dengan jari yang melambat, diperpanjang dengan syarat. Jalur pembinaan harus terus produktif. Jika dalam periode evaluasi tidak ada atlet binaan baru yang masuk pipeline, jika jalur itu hanya bergantung pada satu nama, maka pada perpanjangan berikutnya federasi punya alasan kuat untuk menyatakannya tidak layak dipertahankan—dan saat itulah pengembang yang menunggu di belakang layar akan mendapatkan celah hukum yang mereka cari.
Arka menyandarkan punggung ke kursi perpustakaan, dan kebenaran itu menetap di dadanya dengan berat yang dingin. Ia selama ini berpikir ia menyelamatkan velodrom dengan menjadi atletnya. Tapi ia salah. Ia hanya menundanya. Satu atlet, sehebat apa pun, adalah garis tunggal—dan garis tunggal bisa putus. Ia bisa cedera. Ia bisa pensiun. Ia bisa, suatu hari, kalah dan disingkirkan. Dan ketika garis tunggal itu putus, tidak ada apa pun di belakangnya, dan velodrom akan mati bersamanya.
Yang dibutuhkan velodrom bukan satu atlet. Yang dibutuhkan velodrom adalah jalur yang tidak pernah kosong—generasi demi generasi anak yang masuk, dilatih, lolos, dan menggantikan yang sebelumnya. Garis yang tidak boleh putus karena selalu ada simpul baru di belakangnya. Hasan menjaga velodrom seperti menjaga makam selama tiga puluh tahun karena tidak ada yang datang. Arka datang, dan untuk pertama kalinya papan kayu itu hidup—tapi hanya oleh satu orang. Dan satu orang tidak cukup.
Ia menelepon Hasan malam itu, dan kali ini ia tidak menyembunyikan apa pun.
"Aku tahu soal uang pensiunmu," kata Arka, langsung.
Keheningan di seberang. Lalu Hasan menghela napas, lelah. "Mei."
"Jangan marah ke dia. Dia tidak bisa menanggungnya sendirian. Dan aku berhak tahu." Arka menarik napas. "Tapi aku tidak menelepon untuk itu. Aku menelepon karena aku menyadari sesuatu, dan aku butuh kamu mendengarnya."
Ia menceritakan apa yang ia baca. Pasal-pasal lisensi. Syarat produktivitas jalur. Bagaimana satu atlet tidak cukup, bagaimana garis tunggal bisa putus, bagaimana yang velodrom butuhkan bukan pahlawan tapi pipeline. Hasan mendengarkan tanpa memotong, dan ketika Arka selesai, ada keheningan panjang yang Arka tidak bisa baca.
"Aku tahu itu," kata Hasan akhirnya, pelan. "Aku selalu tahu itu, Arka. Itu sebabnya aku tidak pernah benar-benar berharap. Tiga puluh tahun aku menjaga tempat itu, dan aku tahu satu anak berbakat sekali pun tidak akan menyelamatkannya. Yang menyelamatkannya cuma kehidupan—suara, kaki-kaki kecil, generasi. Dan tidak ada yang datang. Selama tiga puluh tahun tidak ada yang datang."
"Sekarang ada yang datang," kata Arka. "Aku."
"Satu orang."
"Kalau begitu kita buat lebih dari satu." Arka mencengkeram ponselnya lebih erat, dan kata-kata yang sudah berhari-hari terbentuk di kepalanya akhirnya keluar. "Hasan. Dengar. Aku tidak bisa menyelamatkan velodrom dengan menang sendirian. Tapi kita bisa menyelamatkannya dengan membuat jalurnya tidak pernah kosong. Rekrut anak-anak baru. Latih mereka. Anak-anak yang tidak punya tempat lain, yang cepat tapi tidak ada yang melihat—seperti aku dulu di lampu merah." Ia berhenti. "Seperti anak-anak panti."
Keheningan di seberang berubah teksturnya. Arka bisa merasakannya, sesuatu yang bergeser di sisi sana.
"Bu Ningsih punya dua belas anak," lanjut Arka. "Beberapa dari mereka masih kecil, tapi ada yang sudah remaja. Ada satu—anak laki-laki, empat belas tahun—aku lihat dia waktu mereka datang bawa nasi bungkus malam sebelum seleksi. Cara dia memperhatikan lintasan. Cara matanya mengikuti sepeda. Aku kenal tatapan itu, Hasan. Itu tatapanku dulu."
Hasan tidak menjawab segera. Ketika ia bicara, suaranya serak. "Kamu mengubah taruhannya, Arka."
"Apa maksudmu."
"Selama ini taruhannya adalah kamu. Apakah kamu menang, apakah kamu lolos, apakah kamu cukup. Itu beban yang kupasang di pundakmu, dan aku menyesalinya setiap hari." Pria tua itu menarik napas dalam. "Tapi yang baru saja kamu katakan—itu bukan tentang menyelamatkan dirimu lagi. Itu tentang membangun sesuatu yang lebih besar dari satu nama. Sesuatu yang tetap berdiri meski kamu jatuh." Jeda panjang. "Itu yang seharusnya aku pikirkan tiga puluh tahun lalu, dan tidak pernah aku pikirkan."
Arka tersenyum di kegelapan kamar asramanya. "Jadi kita lakukan?"
"Pulanglah saat libur pemusatan," kata Hasan. "Bawa mereka. Bawa anak-anak itu ke papan kayu. Biar velodrom mendengar suara anak-anak lagi." Suaranya pecah sedikit di kata terakhir, dan ia menutup telepon sebelum Arka bisa mendengar sisanya.