Libur pemusatan datang sepuluh hari kemudian, jeda tiga hari yang diberikan federasi sebelum fase berikutnya, dan Arka tidak menghabiskannya untuk istirahat. Ia naik bus pertama ke Bandung, sepeda dibungkus terpal di bagasi, dan tiba di panti Tunas Mekar sebelum matahari benar-benar tinggi.
Bu Ningsih menyambutnya di pintu dengan pelukan yang membuat seluruh ketertinggalan dan keasingan pemusatan luruh sesaat dari pundaknya. Bangunan panti itu sama seperti yang selalu ia ingat—dinding bercat kapur yang sudah belang, halaman tanah yang dipadatkan kaki-kaki kecil bertahun-tahun, jemuran melintang penuh seragam sekolah yang kekecilan diwariskan dari anak ke anak. Ini rumah pertamanya, dan masih terancam proyek yang sama yang mengincar velodrom, dan Arka membawa sesuatu yang ia harap, suatu hari, bisa mengubah itu.
Ia mengumpulkan anak-anak yang lebih besar di ruang depan—enam dari mereka, usia dua belas sampai lima belas—dan menjelaskan apa yang ingin ia tawarkan. Tidak ada janji muluk. Tidak ada cerita tentang medali dan kejayaan. Ia hanya berkata: ada tempat, papan kayu, dan ia akan mengajari siapa pun yang mau belajar cara mengayuh di atasnya. Gratis. Setiap mereka bisa datang.
Kebanyakan anak menatapnya bingung, atau sopan-tertarik, atau ragu. Tapi satu anak di sudut ruangan—jangkung untuk usianya, kurus, dengan mata yang gelisah—mencondongkan tubuh ke depan sejak Arka mulai bicara, dan tidak melepaskan pandangan dari wajahnya. Doni, Bu Ningsih membisikkan nama itu pada Arka. Empat belas tahun. Sudah lima tahun di panti. Tidak banyak bicara, sering dimarahi guru karena melamun, tapi Bu Ningsih bilang anak itu bisa berjalan ke pasar dan pulang lewat jalan yang berbeda setiap kali, seolah selalu mencari garis baru.
Mereka pergi ke Rajawali siang itu, berjalan kaki dan naik angkot, enam anak dan Arka, dan ketika pintu velodrom dibuka dan papan kayu terbentang di hadapan mereka—miring, melengkung, berdebu, dengan cat mengelupas dan banking 42 derajat yang menjulang seperti dinding—anak-anak itu terdiam. Beberapa takjub. Beberapa takut. Tapi Doni, Arka memperhatikan, tidak melakukan keduanya. Doni menatap lintasan itu dengan mata yang menghitung, kepala miring, mengikuti lengkung banking dengan pandangan seolah sedang membaca peta.
Hasan menunggu di tengah lintasan. Pria tua itu berdiri dengan kaki kirinya yang pincang, dan ketika ia melihat enam anak masuk ke velodromnya, sesuatu terjadi di wajahnya yang Arka tidak pernah lihat sebelumnya—bukan tangis seperti malam panti datang bawa nasi bungkus, tapi sesuatu yang lebih tenang, lebih dalam. Seperti seseorang yang menjaga makam selama tiga puluh tahun dan tiba-tiba mendengar suara hidup di tempat yang ia kira sudah mati selamanya.
Mereka mulai dengan dasar. Arka membawa sepeda-sepeda latihan tua dari gudang, menurunkan bannya ke tekanan rendah, dan mengajari anak-anak cara menaiki fixed gear di lantai datar dulu, jauh dari banking. Tidak ada rem. Kaki tidak boleh berhenti mengayuh. Beberapa anak ketakutan, beberapa jatuh pelan dan tertawa, beberapa menyerah setelah satu putaran dan duduk di tepi menonton. Itu wajar. Arka tidak terkejut.
Tapi Doni tidak menyerah. Anak itu jatuh tiga kali di sepuluh menit pertama, lutut tergores, dan setiap kali ia bangun dengan wajah keras dan naik lagi. Dan di percobaan keempat, sesuatu terjadi—Doni menemukan keseimbangannya, kaki berputar tanpa henti, dan ia mengelilingi lantai datar sekali, dua kali, tubuhnya menyesuaikan diri dengan ritme yang aneh dari sepeda tanpa rem. Lalu, sebelum Arka sempat mencegahnya, Doni mengarahkan sepedanya ke bibir bawah banking—bukan naik tinggi, hanya menyentuh kemiringannya—dan membaca garisnya, merasakan bagaimana banking ingin melontarkannya, lalu turun lagi dengan kontrol yang seharusnya butuh berminggu-minggu untuk dipelajari.
Arka berdiri membeku. Ia kenal itu. Ia kenal persis apa yang baru saja ia lihat. Bukan keberanian. Bukan keberuntungan. Mata. Anak itu membaca garis seperti membaca jalan pulang yang berbeda setiap hari, seperti Arka dulu membaca macet di antara mobil-mobil sebagai kurir tanpa pernah ada yang mengajarinya. Bakat mentah yang sama, insting yang sama, tatapan yang sama yang dulu membuat Hasan berhenti di trotoar Jalan Riau dan menatap kurir yang menyalip tiga pembalap klub.
Di sampingnya, Hasan bicara pelan, hampir pada dirinya sendiri. "Kamu lihat itu."
"Aku lihat," jawab Arka.
Pria tua itu menatap Doni mengelilingi bibir banking sekali lagi, dan suaranya serak. "Tiga puluh tahun aku menunggu satu anak seperti kamu datang. Dan begitu kamu datang, kamu membawa satu lagi." Ia menggeleng, mata berkilau di bawah lampu sorot. "Mungkin ini yang seharusnya. Mungkin garis ini memang dibuat untuk bercabang."
Sore itu velodrom Rajawali penuh suara untuk pertama kalinya dalam tiga dekade—teriakan anak yang jatuh, tawa, dentang pelek menabrak papan, dan Arka berdiri di tengahnya, mengajari kaki-kaki kecil yang lapar cara mengayuh tanpa henti. Ia tidak lagi merasa seperti satu garis tunggal yang bisa putus. Ia merasa seperti simpul pertama dari banyak simpul, awal dari sesuatu yang tidak akan mati ketika ia jatuh. Dan ketika ia menatap Doni—kurus, jangkung, mata gelisah yang selalu mencari garis baru—ia melihat dirinya sendiri, dan untuk pertama kalinya sejak surat federasi tiba, ia mengerti bahwa yang sedang ia perjuangkan jauh lebih besar daripada satu nama di kertas berkop. Ia memperjuangkan agar garisnya tak pernah putus.