Ruang rapat federasi provinsi itu dingin oleh pendingin udara yang terlalu kencang, dan Arka menggigit pipi bagian dalamnya agar tidak menggigil di kursi paling belakang. Ia datang sebagai pelengkap, bukan undangan resmi—Hasan yang memintanya ikut, berdalih pada panitia bahwa atlet binaan perlu memahami struktur yang menaunginya. Tapi Arka tahu alasan sebenarnya. Hasan ingin dia melihat sendiri di mana balapan yang tak kalah penting itu berlangsung.
Meja panjang berbentuk U dipenuhi pria-pria berkemeja batik dengan map plastik dan ponsel yang terus berdering. Di ujung yang berseberangan dengan Hasan duduk Pak Wirya, ketua klub Garuda Sakti—klub Senna—dengan jam tangan yang memantulkan lampu dan suara yang tenang seperti orang yang tahu suaranya akan didengar. Hasan duduk dengan punggung tegak meski kaki kirinya yang pincang ia luruskan ke samping kursi. Ia mengenakan kemeja yang sama yang Arka selalu lihat di hari penting, kerahnya sedikit pudar.
Agenda ketiga dibacakan sekretaris dengan suara datar: alokasi dana pembinaan tahun anggaran berjalan. Arka tidak mengerti separuh istilahnya—pos, mata anggaran, realokasi—tapi ia mengerti angka, dan ia mengerti nada. Dan nada Pak Wirya, ketika ia mengangkat tangan dan minta bicara, adalah nada orang yang sudah menyiapkan kesimpulan jauh sebelum rapat dimulai.
"Saya hanya ingin kita realistis," kata Pak Wirya. Ia tersenyum ke seluruh ruangan, ramah, masuk akal. "Dana pembinaan kita terbatas. Kalau disebar tipis ke setiap jalur kecil yang tidak produktif, kita justru menghambat atlet yang punya peluang medali nyata. Velodrom Rajawali, dengan segala hormat pada Pak Hasan, sudah tiga puluh tahun tidak menghasilkan satu pun nama nasional. Mungkin lebih bijak kuota pembinaannya kita alihkan ke kota dengan fasilitas yang sudah jalan."
Beberapa kepala mengangguk. Arka merasakan panas naik ke wajahnya, dan ia mencengkeram lututnya sendiri agar tidak berdiri dan berteriak. Tiga dekade Hasan menjaga papan kayu itu disebut tidak produktif dalam satu kalimat yang halus dan membunuh.
Hasan tidak buru-buru. Ia membiarkan keheningan menggantung, lalu membuka map tipis di hadapannya. "Boleh saya bertanya, Pak Wirya. Berapa atlet binaan baru yang lolos seleksi nasional dari jalur provinsi ini tahun ini?"
Pak Wirya berkedip. "Beberapa. Saya tidak hafal angkanya."
"Tiga," kata Hasan pelan. "Tiga nama baru. Dan satu dari tiga itu"—ia menarik selembar kertas, lembar hasil seleksi keirin resmi, distempel federasi pusat—"adalah Arka Wijana. Dari Velodrom Rajawali. Yang katanya tidak produktif."
Ruangan menjadi sunyi. Arka merasakan tatapan berpaling ke arahnya, dan untuk sesaat ia ingin menghilang ke dalam kursi. Tapi Hasan tidak berhenti.
"Klub-klub besar mengirim atlet yang sudah dibina lima, enam tahun, dengan dana yang sudah mengalir bertahun-tahun. Itu wajar mereka lolos. Tapi velodrom yang katanya makam ini mengirim satu anak yang baru berlatih beberapa bulan, dan anak itu finis di ambang pembinaan, di atas atlet-atlet yang sudah Bapak danai lebih lama. Kalau itu tidak produktif, saya tidak tahu apa definisi produktif menurut Bapak."
Pak Wirya membuka mulut, lalu menutupnya. Salah satu pengurus yang lebih muda, yang sedari tadi diam, mencondongkan tubuh. "Pak Hasan benar. Secara rasio investasi, Rajawali justru paling efisien. Kita menariknya sekarang malah membuang satu jalur yang baru terbukti bisa menghasilkan."
Arka memperhatikan bagaimana percakapan itu berubah—bukan karena emosi, bukan karena teriakan, tapi karena satu angka yang tidak bisa dibantah, diletakkan di meja pada saat yang tepat. Hasan tidak melawan dengan amarah seperti yang Arka kira akan ia lakukan. Ia melawan seperti membaca punggung lawan di lintasan: menunggu, menahan, lalu melepas satu serangan pada detik yang persis benar.
Kuota pembinaan Rajawali tidak dialihkan. Tidak hari itu. Tapi Arka melihat wajah Pak Wirya saat rapat ditutup, dan ia tahu ini bukan kemenangan, hanya penundaan—seperti surat federasi dulu. Pria itu tersenyum lagi ketika melewati Hasan di pintu, sopan, dan berkata pelan, "Anak Bapak menarik. Sayang kalau bakat sebesar itu terjebak di lintasan yang sebentar lagi tutup."
Di mobil pinjaman saat pulang, Arka diam lama. Lalu ia berkata, "Aku pikir balapan cuma di lintasan."
Hasan menyetir dengan satu tangan, kaki pincangnya bekerja kaku di pedal. "Lintasan yang di atas papan kayu itu yang paling jujur," katanya. "Yang di ruang rapat tadi jauh lebih kotor. Tapi sama-sama harus kamu menangkan, kalau kamu mau garis ini tetap ada." Ia melirik Arka sebentar. "Kakimu yang menyelamatkan kita tadi, Ka. Bukan suaraku. Catatan waktumu yang bicara. Jadi pastikan kaki itu terus produktif, karena itu satu-satunya bahasa yang mereka dengar."
Arka menatap jalanan Bandung yang macet di luar jendela, jalanan yang dulu jadi lintasannya, dan untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa setiap putaran yang ia tempuh di velodrom punya gema di ruangan dingin penuh map plastik itu. Setiap detik yang ia pangkas adalah amunisi untuk Hasan. Beban itu, anehnya, tidak membuatnya gentar. Ia membuatnya ingin lebih cepat.