Coach Darma memanggil Mei ke ruangannya keesokan paginya, dan Arka tahu itu karena ia melihat Mei keluar dari ruangan kaca itu dengan wajah yang tidak bisa ia baca—pucat dan berkilau sekaligus, seperti orang yang baru saja dikabari sesuatu yang terlalu besar untuk langsung dipercaya.
Mereka bertemu di kantin pemusatan, di meja sudut tempat Arka biasa duduk sendirian sebelum ada Mei. Perempuan itu meletakkan nampannya tanpa menyentuh makanannya.
"Darma menawariku ikut pemusatan," katanya akhirnya. "Bukan sebagai sparring. Sebagai atlet binaan endurance. Dia bilang catatan susulanku kemarin lebih baik dari dua perempuan yang sudah ada di daftar."
Arka meletakkan sendoknya. Sesuatu melonjak di dadanya, murni dan terang, dan ia hampir berdiri untuk memeluknya di tengah kantin. "Mei. Itu—" Ia kehilangan kata. "Itu yang seharusnya. Kamu lebih bagus dari setengah orang di tempat ini dan tidak ada yang pernah melihatnya karena kamu dari velodrom kecil."
"Itu masalahnya," kata Mei, dan suaranya bergetar sedikit. "Tidak ada yang pernah melihatnya. Selama ini aku cuma 'perempuan dari Rajawali yang mengajari Arka membaca lap board'. Pendamping. Pelengkap." Ia menunduk ke nampannya. "Aku tidak pernah membiarkan diriku berpikir aku bisa lebih dari itu, karena kalau aku berharap dan tidak kesampaian, sakitnya terlalu—" Ia berhenti.
Arka mengerti sakit itu lebih dari siapa pun. Ia menghabiskan seluruh hidupnya tidak membiarkan dirinya berharap, karena berharap adalah hal yang dimiliki anak-anak yang punya orang tua, anak-anak yang punya rumah yang tidak bisa digusur. Tapi ia juga tahu apa rasanya ketika seseorang—Hasan, dengan tatapan menilai di trotoar Jalan Riau—tiba-tiba melihat sesuatu dalam dirimu yang kamu sendiri tak pernah berani namai.
"Kamu harus terima," katanya.
"Aku tahu." Mei tersenyum, basah di sudut mata. "Aku akan terima."
Tapi Arka memperhatikan ada sesuatu yang lain di balik kegembiraan itu, dan butuh beberapa hari baginya untuk memahaminya. Itu datang pada sore ketika ia melihat Mei berlatih sendiri di lintasan setelah jam resmi selesai—bukan untuk mengajari siapa pun, bukan untuk menjadi sparring, tapi untuk dirinya sendiri. Ia mengayuh putaran demi putaran dalam ritme yang tenang dan sengaja, matanya jauh, dan Arka menyadari ia tidak pernah benar-benar melihat Mei seperti itu sebelumnya. Selama ini Mei selalu hadir dalam hubungannya dengan dirinya—mengajarinya, menemaninya, menjaga velodrom untuknya. Mei adalah bagian dari cerita Arka.
Untuk pertama kalinya, Arka melihat Mei punya cerita sendiri.
Ia duduk di tribun berdebu dan menontonnya, dan sesuatu yang rumit bergerak di dadanya. Ada kebanggaan, besar dan jujur. Tapi ada juga yang lain, sesuatu yang membuatnya malu ketika ia menamainya: rasa kehilangan kecil. Selama ini Mei selalu ada di Rajawali, menjaga garasi, menunggu kabar darinya, jadi titik tetap yang ke arahnya Arka selalu bisa kembali. Kalau Mei punya pemusatannya sendiri, mimpinya sendiri, jadwal dan tekanan dan masa depannya sendiri—maka Mei tidak lagi hanya menunggu. Mei melaju ke arahnya sendiri.
Arka membenci dirinya karena memikirkan itu. Mei sudah menanggung terlalu banyak untuknya—menjaga lintasan, menyembunyikan kelelahan, membiarkan Hasan menguras uang pensiunnya tanpa membebani Arka dengan kabar buruk. Sekarang giliran perempuan itu untuk mendapatkan sesuatu yang murni miliknya, dan satu-satunya hal yang patut Arka rasakan adalah senang.
Mei berhenti mengayuh dan melihatnya di tribun. "Sudah lama di situ?"
"Cukup lama," kata Arka. Ia turun ke tepi lintasan. "Kamu bagus. Bukan bagus untuk perempuan dari velodrom kecil. Bagus, titik."
Mei menatapnya, dan ada sesuatu di antara mereka yang belum punya nama—sesuatu yang sudah lama tumbuh diam-diam di antara sore-sore garasi dan telepon malam dan kelelahan yang dibagi berdua. "Kamu tahu apa yang lucu?" katanya. "Aku takut. Kalau aku ikut pemusatan, aku tidak akan ada di Rajawali setiap hari. Siapa yang menjaga velodrom? Siapa yang membantu Hasan dengan anak-anak panti?"
"Bukan kamu," kata Arka tegas. "Untuk sekali ini, bukan kamu. Hasan punya anak-anak panti sekarang. Doni belajar cepat. Velodrom tidak akan mati cuma karena kamu mengejar sesuatu untuk dirimu sendiri." Ia menelan sesuatu di tenggorokannya. "Kamu sudah terlalu lama menjaga garis orang lain, Mei. Sekarang tarik garismu sendiri."
Mei tertawa, pendek dan tersedak, dan menyeka matanya dengan punggung tangan yang masih bersarung. Di lintasan kosong itu, dengan lampu sorot yang mulai redup ke arah sore, mereka berdiri berdekatan tanpa bicara, dan Arka merasakan untuk pertama kalinya bahwa apa pun yang akan terjadi di antara mereka, itu akan menjadi sesuatu antara dua orang yang sama-sama melaju—bukan satu yang melaju dan satu yang menunggu. Pikiran itu menakutkan dan membebaskan dalam takaran yang sama.