Tekanan di pemusatan mengeras seperti cuaca menjelang badai, dan tak seorang pun perlu mengumumkannya. Coach Darma menempel selembar kertas baru di papan: daftar atlet yang akan diajukan untuk slot sprint terbatas di kejuaraan kualifikasi mendatang. Ada lebih banyak nama daripada slot. Jauh lebih banyak. Dan dua nama yang semua orang tahu mengincar tempat yang sama berdiri bersebelahan dalam abjad yang kejam: Senna Rais. Arka Wijana.
Sejak hari itu, setiap sesi latihan terasa seperti adu pisau yang dibungkus sopan santun. Senna melatih dirinya dengan disiplin obsesif yang sudah Arka kenal dari berbagi kamar—bangun sebelum subuh, putaran-putaran kalibrasi, makan yang ditimbang. Tapi kini ada ujung yang lebih tajam di setiap gerakannya, dan Arka merasakannya tertuju padanya. Mereka tidak lagi sekadar berlatih di lintasan yang sama. Mereka saling mengukur.
Konflik itu meletup di sesi sprint berpasangan pada sore Kamis yang panas. Darma memasangkan mereka berdua dalam latihan match sprint—dua pembalap, tiga lap, permainan kucing-tikus di kecepatan rendah sebelum ledakan terakhir, tepat jenis balapan yang menuntut kesabaran dan kepala dingin. Sesuatu yang Mei baru saja mengajarinya untuk hargai.
Tapi sore itu kepala Arka tidak dingin. Ia memikirkan papan dengan terlalu banyak nama. Ia memikirkan ruang rapat federasi, Pak Wirya yang tersenyum, kuota yang nyaris hilang. Ia memikirkan bahwa Senna sudah pasti punya tempat karena namanya dan klubnya dan ayahnya, sementara Arka harus merebut sisanya dengan kuku. Dan ketika ketidakadilan itu menumpuk di dadanya, anak jalanan yang lama ia tahan kembali ke permukaan.
Mereka berputar pelan di lap pertama, ban hampir menyentuh, masing-masing memaksa yang lain memimpin agar bisa menempel dari belakang. Senna memainkan permainan itu sempurna, naik tinggi ke banking untuk memaksa Arka lewat di bawah, lalu turun menukik untuk menempel di rodanya. Klasik. Bersih. Dan menjengkelkan.
Di lap kedua, Senna menyerang lebih awal dari yang seharusnya—gertakan untuk memancing Arka membuang tenaga. Arka tahu itu gertakan. Mei sudah mengajarinya membaca gertakan. Tapi pengetahuan dan disiplin adalah dua hal yang berbeda, dan dalam panas dada itu, Arka tidak menahan diri. Ia mengejar. Dan ketika Senna kembali turun memotong garisnya untuk merebut posisi dalam, Arka—alih-alih mengalah seperti aturan keselamatan menuntut—mendorong masuk ke ruang yang tidak cukup untuk dua sepeda.
Waktu melambat. Roda depan Arka menyentuh roda belakang Senna, getaran ngeri yang merambat naik ke tangannya. Senna oleng. Arka oleng. Dua tubuh di kecepatan empat puluh kilometer per jam di atas papan kayu tanpa rem, sepersekian detik dari pagar dalam. Insting jalanan Arka yang menyelamatkan keduanya—refleks lama yang ratusan kali menariknya keluar dari celah maut di antara mobil—membuatnya membuka tangan, melepas tekanan, mengarahkan rodanya naik ke banking untuk membuang momentum alih-alih melawannya. Senna melakukan hal serupa di sisinya, dan keduanya tergelincir berpisah, sepeda meliuk, lalu—entah bagaimana—tetap tegak.
Mereka berhenti di tengah lintasan, dada naik turun, jarak antara roda mereka tadi setipis lapisan cat. Senna menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak Arka mengenalnya, wajah dingin itu bukan dingin. Itu marah, dan di bawahnya, sesuatu yang lebih buruk—ketakutan yang sudah mengeras jadi kebencian.
"Kamu gila," desis Senna. "Itu bukan balapan. Itu kamu mencoba membunuh kita berdua karena kamu tidak bisa menang dengan cara yang benar."
Arka membuka mulut untuk membalas, tapi tidak ada kata yang datang, karena di dalam ia tahu Senna benar. Bukan kakinya yang gagal. Egonya yang gagal.
Lalu suara Darma memotong seperti pecut. "Wijana. Turun. Sekarang."
Di ruang kaca itu, Coach Darma tidak berteriak. Itu yang membuatnya lebih menakutkan. Ia bicara dengan suara yang terkontrol seperti data laktat. "Kamu tahu kenapa lintasan ini tidak punya rem?" tanyanya. "Karena rem itu pengkhianatan. Saat kamu naik papan kayu, kamu mempercayakan hidupmu pada setiap pembalap di sekitarmu untuk memegang garisnya. Dan mereka mempercayakan hidup mereka padamu. Sore ini kamu mengkhianati kepercayaan itu. Kamu mengubah latihan jadi taruhan nyawa karena kamu marah."
Arka menatap lantai. "Maaf, Coach."
"Maaf tidak menyembuhkan tulang yang patah," kata Darma. "Kamu kuhukum. Tiga hari tidak naik lintasan—hanya gym dan roller. Dan kuberi tahu sesuatu, Wijana, karena aku menghormati kakimu terlalu tinggi untuk membohongimu: posisimu di pemusatan ini tidak permanen. Atlet bisa dipulangkan. Bakat mentah ada di mana-mana. Yang langka adalah kepala yang bisa mengendalikannya." Ia melepas kacamatanya. "Kamu punya kaki yang paling kuhormati di tempat ini. Jangan buat aku memulangkanmu sebelum aku sempat melihat apa yang bisa kakimu lakukan kalau kepalanya menyusul."
Arka keluar dari ruangan itu dengan telinga berdenging. Tiga hari larangan terasa seperti tiga tahun. Dan untuk pertama kalinya sejak surat federasi tiba, posisinya—segalanya yang ia perjuangkan, lisensi Rajawali, garis yang tak boleh putus—terasa benar-benar bisa lenyap, bukan karena buldoser atau politik, tapi karena kemarahannya sendiri. Di lorong, ia melewati Senna yang menatapnya tanpa kata. Tidak ada kemenangan di mata Senna. Hanya kelelahan dua orang yang sama-sama nyaris jatuh.