Tiga hari larangan itu meracuni Arka dari dalam. Ia menghabiskannya di gym dan di atas roller, mengayuh tanpa pergi ke mana-mana, menonton dari jendela kaca atlet-atlet lain naik turun banking sementara ia terkurung dalam diam yang ia benci. Dan ketika hari ketiga berakhir dan Darma mencabut larangannya tanpa komentar, ada sesuatu di dalam Arka yang sudah terlanjur menegang seperti tali busur—kebutuhan untuk membuktikan, untuk menebus, untuk menunjukkan pada Darma dan Senna dan dirinya sendiri bahwa kakinya layak untuk tempat ini.
Ia seharusnya menunggu sampai pagi. Sesi resmi sudah selesai, lampu sorot setengah dipadamkan, sebagian besar atlet sudah kembali ke asrama. Tapi Arka tidak bisa menunggu. Ia turun ke lintasan sendirian di bawah lampu yang remang, membawa sepeda sprintnya, dan mulai mengayuh.
Mula-mula terasa baik. Lebih dari baik—terasa seperti pembebasan, kaki yang lapar akhirnya diberi makan setelah tiga hari kelaparan. Ia naik ke banking, merasakan papan kayu menarik tubuhnya, dan ia mendorong lebih keras dari yang seharusnya untuk latihan malam tanpa pemanasan penuh. Ia ingin merasakan kecepatan. Ia ingin merasakan dirinya kembali jadi pembalap, bukan tahanan.
Lututnya berdenyut. Denyut tipis itu—yang sudah ada sejak final seleksi, yang muncul setiap kali ia memberi tekanan menyamping di tikungan tajam—berbisik peringatan yang ia abaikan. Ia sudah mengabaikannya berbulan-bulan. Itu hanya benih, ia selalu berkata pada dirinya. Hanya rasa pegal yang akan hilang dengan istirahat.
Ia masuk ke banking di kecepatan penuh, tubuh miring melawan gaya sentrifugal, dan ia memberi tekanan menyamping yang keras untuk menahan garisnya tinggi di papan—tepat jenis beban yang selama ini lututnya peringatkan untuk dihindari. Dan kali ini lutut itu tidak berbisik. Kali ini ia menjerit.
Sesuatu di dalam sendinya memberi—bukan suara, tapi rasa, seperti tali yang ditarik terlalu jauh akhirnya tergelincir dari simpulnya. Rasa sakit menyambar naik ke pinggulnya begitu cepat dan begitu total sehingga selama sepersekian detik Arka tidak bisa memikirkan apa pun, tidak bisa bernapas, tidak bisa memerintahkan kakinya. Dan di atas papan kayu tanpa rem, sepersekian detik tanpa kendali adalah segalanya.
Sepedanya kehilangan garis. Roda meluncur turun dari banking yang curam, tubuh Arka terlempar ke sisi dalam, dan dunia berubah jadi pusaran kayu dan lampu dan rasa sakit. Ia menabrak papan dengan bahu lebih dulu, lalu pinggul, lalu lutut yang sudah cedera menghantam permukaan keras itu dengan bunyi yang ia rasakan lebih daripada ia dengar. Sepedanya terseret beberapa meter, pelek berdentang, lalu berhenti. Dan Arka terbaring di lintasan dalam keheningan velodrom yang setengah gelap, sendirian, dengan kaki yang tidak mau menjawab perintahnya untuk bergerak.
Seseorang—penjaga malam, ternyata, yang mendengar suara jatuh dari ruang kontrol—berlari turun. Lalu ada lebih banyak suara, lampu yang dinyalakan penuh, wajah-wajah, dan kemudian sirine. Arka mengingatnya dalam potongan-potongan: lantai ambulans yang dingin, langit-langit klinik yang putih, suara mesin, dan rasa sakit yang berdenyut konstan dari lutut kanannya seperti detak jantung kedua.
Dokter olahraga pemusatan datang menjelang tengah malam, memeriksa, menekan, menyuruhnya mencoba menggerakkan kaki ke arah-arah tertentu yang membuat Arka mengerang. Lalu ada pemindaian, mesin yang berputar, dan akhirnya kabar yang disampaikan dengan nada datar yang justru membuatnya lebih menakutkan.
"Bukan patah," kata dokter itu. "Tulangnya utuh. Tapi ligamen di lutut kananmu tertarik—cedera yang sebenarnya sudah lama tumbuh, dari pembebanan berulang. Jatuhan tadi memperburuknya. Kabar baiknya, ini bukan robekan total yang butuh operasi. Kabar buruknya, ini butuh pemulihan berminggu-minggu. Mungkin lebih. Dan selama itu, kamu tidak boleh naik sepeda sama sekali."
Arka berbaring menatap langit-langit. Berminggu-minggu. Mungkin lebih. Kejuaraan kualifikasi tidak menunggu. Slot sprint terbatas tidak menunggu. Garis yang tak boleh putus tidak menunggu.
"Berapa minggu," suaranya keluar serak.
"Tergantung tubuhmu. Tergantung seberapa disiplin kamu pulih. Kalau kamu memaksa terlalu cepat, kamu bisa mengubah cedera ini jadi sesuatu yang permanen—yang menamatkan karier." Dokter itu menatapnya dengan sesuatu yang mirip kelembutan. "Kamu masih sangat muda. Sembuh dengan benar, dan kamu punya bertahun-tahun di depan. Buru-buru, dan kamu mungkin tidak akan pernah balapan lagi."
Mereka meninggalkannya sendirian dengan lampu klinik yang diredupkan. Di luar jendela, langit Bandung—bukan, ini bukan Bandung, ini kota pemusatan yang asing—gelap dan tanpa bintang. Arka menatap lututnya yang dibalut, kaki yang seluruh hidupnya adalah satu-satunya hal yang ia punya, satu-satunya hal yang membuat Hasan berhenti di trotoar, satu-satunya hal yang menyelamatkan velodrom dari buldoser, satu-satunya hal yang ia tawarkan pada Doni dan anak-anak panti sebagai bukti bahwa garis bisa bercabang.
Dan untuk pertama kalinya seumur hidupnya, kaki itu tidak bisa membawanya ke mana-mana.
Ia memikirkan ruang rapat federasi, Pak Wirya yang berkata bakat sebesar itu sayang terjebak di lintasan yang sebentar lagi tutup. Ia memikirkan Hasan yang mengeluarkan uang pensiunnya diam-diam. Ia memikirkan Mei yang baru saja menarik garisnya sendiri. Semua itu, seluruh menara yang dibangun di atas kakinya, dan menara itu bisa runtuh dalam satu detik ceroboh karena ia terlalu marah dan terlalu lapar dan terlalu takut untuk menunggu sampai pagi.
Di keheningan klinik itu, Arka Wijana—yang tidak pernah menangis sejak malam panti datang membawa nasi bungkus bertahun lalu—menutup matanya dan membiarkan satu hal yang selama ini ia tahan mengalir keluar. Bukan karena sakit di lututnya. Karena untuk pertama kalinya, seluruh mimpinya terasa bisa lenyap, dan ia sendiri yang menyebabkannya.