Hari-hari pertama setelah cedera adalah jenis siksaan yang tidak pernah Arka bayangkan ada. Bukan rasa sakit di lutut—itu mereda perlahan dengan obat dan es dan kaki yang ditinggikan. Yang menyiksa adalah diam.
Seluruh hidup Arka adalah gerak. Sebagai kurir, ia tidak pernah berhenti—dari subuh sampai larut, kakinya berputar di antara mobil, menembus macet, mengantar paket dari satu ujung kota ke ujung lain. Lalu di velodrom, gerak itu jadi lebih murni, lebih cepat, lebih hidup. Ia mendefinisikan dirinya lewat gerak. Dan sekarang ia duduk di kursi roda pinjaman di tepi lintasan pemusatan, kaki kanannya dibalut dan diluruskan ke depan, menonton orang lain melakukan satu-satunya hal yang membuatnya merasa nyata.
Ia menonton Senna naik turun banking dengan presisi yang dingin. Ia menonton atlet-atlet lain melakukan interval, sprint, latihan pursuit. Setiap putaran yang mereka tempuh terasa seperti jarak yang melebar antara dirinya dan mimpinya. Setiap jam ia duduk diam adalah satu jam mereka semakin maju dan ia semakin tertinggal. Pikiran itu menggerogotinya seperti rayap.
Darma datang sekali, berdiri di sampingnya, menonton lintasan bersama dalam diam. "Kamu sudah dengar prognosisnya," katanya akhirnya, bukan pertanyaan.
"Berminggu-minggu," kata Arka. "Mungkin lebih."
"Kejuaraan kualifikasi tidak akan menunggumu," kata Darma, dan ada kejujuran kejam dalam suaranya yang Arka hargai meski itu menyakitkan. "Slot sprint akan diisi orang lain. Mungkin Senna. Itu kenyataan, dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya." Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti. "Tapi kejuaraan ini bukan satu-satunya. Ada yang berikutnya, dan yang setelahnya. Karier itu panjang—kalau kamu tidak membakarnya habis dalam satu malam bodoh." Ia melirik kaki Arka yang terbalut. "Yang kamu rusak bukan cuma lutut. Yang kamu rusak adalah kepercayaanku bahwa kamu bisa mengendalikan dirimu. Itu yang harus kamu sembuhkan lebih dulu."
Kata-kata itu menempel di Arka berhari-hari, dan ia tidak tahu cara mengeluarkannya.
Lalu Hasan datang.
Pria tua itu naik bus pertama dari Bandung begitu mendengar kabar, sembilan jam perjalanan, dan tiba dengan tas kecil dan wajah yang Arka tidak bisa baca. Ia tidak memeluk Arka. Ia tidak juga memarahinya, yang setengah Arka harapkan, karena hukuman akan terasa lebih ringan daripada apa pun yang Hasan bawa di matanya.
Hasan menarik kursi plastik dan duduk di samping kursi roda, kaki pincangnya diluruskan persis seperti kaki Arka yang cedera, dan untuk beberapa saat keduanya hanya duduk berdampingan menonton lintasan kosong di sore yang mulai senyap.
"Kamu tahu," kata Hasan akhirnya, "kaki ini"—ia menepuk paha kirinya yang lumpuh sebagian—"sudah tiga puluh tahun begini. Aku jatuh di banking yang lebih curam dari ini, di kecepatan yang lebih tinggi, dan aku tidak pernah balapan lagi setelahnya. Tidak sekali pun."
Arka menelan ludah. "Aku tahu."
"Yang tidak kamu tahu," lanjut Hasan, "adalah bahwa kaki bukan yang patah waktu itu. Yang patah adalah ini." Ia mengetuk pelipisnya sendiri. "Selama bertahun-tahun setelah jatuh, kakiku sembuh sebisanya, tapi kepalaku tidak. Aku marah pada lintasan. Aku marah pada diriku. Aku menjaga velodrom itu bukan karena cinta, awalnya—aku menjaganya karena aku tidak bisa pergi dari tempat yang menghancurkanku. Aku terkurung di sana selama hampir tiga puluh tahun, terjebak dalam diam yang sama yang sekarang menyiksamu, sampai kamu datang dan mengingatkanku kenapa papan kayu itu pernah berarti."
Arka menatapnya. Ia belum pernah mendengar Hasan bicara sejauh ini tentang masa lalunya.
"Cedera adalah bagian dari olahraga ini," kata Hasan. "Bukan pengecualian. Bukan kutukan. Bagian. Setiap pembalap lintasan yang pernah ada pernah jatuh, pernah cedera, pernah duduk di pinggir menonton orang lain. Yang membedakan mereka yang kembali dan mereka yang tidak bukan kakinya." Ia menatap Arka tepat di mata. "Yang membedakan adalah apakah kepalanya ikut cedera atau tidak. Kakimu akan sembuh, Ka. Dokter sudah bilang. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi di sini"—ia mengetuk pelipis Arka kali ini, lembut—"selama kakimu sembuh. Kamu mau menghabiskan minggu-minggu ini membenci diri sendiri dan iri pada lintasan, seperti aku selama tiga puluh tahun? Atau kamu mau menggunakannya untuk jadi pembalap yang lebih baik daripada yang bisa kamu jadi dengan kaki yang sehat?"
"Bagaimana caranya jadi pembalap lebih baik kalau aku tidak bisa naik sepeda," kata Arka, dan kepahitan dalam suaranya mengejutkan dirinya sendiri.
Hasan tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan tiga dekade yang ia sesali. "Aku akan tunjukkan," katanya. "Tapi pertama, kamu harus berhenti berpikir kakimu adalah satu-satunya hal berharga tentang dirimu. Karena selama kamu percaya itu, setiap hari kakimu tidak bisa membawamu, kamu akan merasa tidak berharga. Dan itu, Ka—itu cedera yang jauh lebih sulit disembuhkan daripada ligamen mana pun."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak jatuh, Arka tidur tanpa menatap langit-langit sampai subuh. Ia tidak tahu cara menggunakan minggu-minggu di depannya. Tapi untuk pertama kalinya, ia mulai percaya bahwa minggu-minggu itu mungkin bukan kekosongan yang harus ia tahan, melainkan sesuatu yang bisa ia isi. Hasan tidur di kursi di samping ranjangnya, dan dengkur tua pria itu, anehnya, terasa seperti suara rumah.