Mei datang ke kota pemusatan pada akhir pekan kedua, resmi sebagai atlet binaan endurance yang baru bergabung, tapi Arka tahu—dan ia menduga Mei juga tahu—bahwa sebagian dari alasannya datang lebih awal dari jadwal adalah dirinya.
Mereka memberinya kamar tak jauh dari klinik tempat Arka menghabiskan minggu-minggu pemulihannya, dan di sore pertama, setelah sesi latihannya sendiri, Mei datang dengan tas berisi makanan yang ia masak di dapur asrama—bukan makanan diet pemusatan yang ditimbang gram demi gram, tapi makanan sungguhan, nasi dengan tempe orek dan sambal yang terlalu pedas, makanan rumah.
"Kamu kurus," katanya, menaruh kotak makan di meja samping ranjang Arka. "Cedera bikin orang lupa makan. Aku tidak akan membiarkanmu pulih jadi tulang."
Arka tertawa, suara yang sudah lama tidak ia keluarkan. "Kamu punya jadwal latihanmu sendiri sekarang. Kamu tidak perlu—"
"Aku tahu apa yang tidak perlu kulakukan," potong Mei, duduk di kursi di samping ranjang. "Aku melakukannya karena aku mau."
Dan itu, entah bagaimana, lebih sulit bagi Arka untuk diterima daripada jika Mei melakukannya karena kewajiban.
Seluruh hidup Arka diajari pelajaran yang sama berulang kali: jangan bersandar. Bersandar pada orang lain berarti memberi mereka kekuatan untuk meninggalkanmu, dan semua orang akhirnya meninggalkanmu—orang tua yang ia tidak ingat, kepastian, rumah. Bahkan di panti yang ia cintai, ia belajar mandiri lebih cepat dari anak-anak lain, karena kemandirian adalah satu hal yang tidak bisa diambil darimu. Itu sebabnya handsling—menyerahkan rodamu pada rekan, mempercayakan momentummu pada tangan orang lain—selalu mustahil baginya. Itu sebabnya tim selalu terasa seperti jebakan.
Dan sekarang, hari demi hari, Mei masuk ke kamarnya dengan makanan dan buku dan keheningan yang nyaman, dan perlahan-lahan, tanpa Arka benar-benar memutuskannya, ia mulai bersandar.
Mei membantunya dengan latihan rehabilitasi yang dokter berikan—gerakan-gerakan kecil yang menjengkelkan untuk menjaga otot di sekitar lutut tanpa membebani ligamen. Ia menahan kaki Arka saat ia mengangkatnya, menghitung pengulangan, memarahinya ketika ia mencoba melakukan lebih dari yang diizinkan. "Disiplin merata," katanya suatu sore, menahan pergelangan kaki Arka saat ia menggerakkannya pelan-pelan. "Sama seperti pursuit. Kamu tidak bisa menyembuhkan ini dengan ledakan. Hanya dengan sabar, sedikit demi sedikit, setiap hari."
"Kamu terdengar seperti Hasan," gumam Arka.
"Hasan terdengar sepertiku," balas Mei, dan keduanya tertawa.
Di malam-malam ketika rasa sakit membuatnya susah tidur, Mei kadang masih ada, duduk di kursi membaca, dan kehadirannya saja—napas tenangnya, suara halaman yang dibalik—membuat diam yang menyiksa itu jadi diam yang bisa ditahan. Suatu malam Arka berkata, tanpa benar-benar memutuskan untuk mengatakannya, "Aku tidak pernah punya ini."
Mei mengangkat pandangan dari bukunya. "Punya apa?"
"Seseorang yang tinggal," kata Arka. Kata-katanya keluar canggung, tidak terlatih, karena ia tidak punya kosakata untuk hal seperti ini. "Aku terbiasa orang datang dan pergi. Klien kurir. Anak-anak panti yang pindah. Bahkan di panti, aku selalu setengah menunggu hari aku harus pergi. Aku tidak pernah membiarkan diriku—" Ia berhenti, mencari kata. "Aku tidak pernah membiarkan diriku berharap seseorang akan tinggal."
Mei menutup bukunya pelan. Untuk waktu yang lama ia tidak bicara. Lalu ia memindahkan kursinya lebih dekat, dan meraih tangan Arka yang tergeletak di tepi ranjang—tangan yang sama yang dulu tidak pernah bisa melakukan handsling, yang selalu menarik diri pada saat terakhir, yang tidak pernah percaya cukup untuk menyerahkan apa pun pada siapa pun.
"Kamu tahu apa yang lucu?" katanya. "Pelajaran yang Hasan coba ajarkan padamu sejak awal—handsling, madison, menyerahkan rodamu—itu pelajaran yang sama yang sedang kamu pelajari sekarang. Percaya bukan tentang lintasan. Percaya tentang membiarkan satu tangan memegangmu dan yakin tangan itu tidak akan melepas." Ia mengeratkan genggamannya. "Aku tidak akan melepas, Ka. Kamu boleh bersandar."
Arka menatap tangan mereka yang bertaut. Seluruh hidupnya ia diajari bahwa kemandirian adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diambil. Tapi duduk di sini, di kamar klinik yang asing, dengan kaki yang tidak bisa membawanya ke mana-mana dan tangan Mei yang hangat di tangannya, ia mulai memahami sesuatu yang dulu mustahil ia mengerti: bahwa membiarkan seseorang menahanmu bukan kelemahan. Bahwa garis yang bercabang—garis yang terhubung dengan garis lain—lebih kuat daripada garis tunggal yang tak pernah bersentuhan dengan apa pun.
Ia membalas genggaman itu, dan tidak menariknya. Untuk pertama kalinya, tangan itu tidak ragu.
Di luar jendela, lintasan pemusatan gelap dan sunyi, menunggu pagi. Tapi di dalam, di kamar kecil itu, sesuatu yang sudah lama tumbuh diam-diam di antara dua orang dari velodrom yang sama akhirnya mekar penuh—pelan, canggung, dan jujur, seperti segala hal yang berharga yang pernah Arka dapatkan. Dan ia menyadari, dengan rasa takjub yang tenang, bahwa belajar percaya pada Mei dan belajar percaya di handsling adalah pelajaran yang persis sama. Ia hanya butuh kakinya patah untuk akhirnya mengerti.