Kabar dari Bandung datang lewat telepon Hasan pada suatu malam ketika Arka sudah bisa berjalan dengan tongkat, dua minggu setelah jatuh, lutut masih dibalut tapi rasa sakit yang menyengat sudah berubah jadi pegal tumpul.
"Doni," kata Hasan, dan dari nada itu saja Arka tahu ada yang tidak beres. "Anak itu tidak datang latihan tiga hari. Bu Ningsih bilang dia diejek di sekolah—anak-anak lain bilang anak panti seperti dia tidak punya masa depan, buang-buang waktu main sepeda di velodrom tua yang sebentar lagi dibongkar. Kamu tahu bagaimana anak seusia itu. Satu kalimat yang tepat bisa mematikan sesuatu yang baru tumbuh."
Arka menutup mata. Ia kenal ejekan itu. Ia kenal kalimatnya kata demi kata, karena ia mendengarnya seumur hidupnya: anak panti, tidak punya masa depan, buang-buang waktu. Ia tahu bagaimana kalimat itu masuk ke bawah kulit dan tinggal di sana, berbisik di setiap momen ragu.
"Aku pulang," katanya.
"Kamu sedang pulih," Hasan memperingatkan. "Perjalanan sembilan jam—"
"Aku pulang, Pak," ulang Arka. "Kakiku boleh rusak. Tapi ini bukan soal kaki."
Ia naik bus keesokan paginya, lutut diluruskan secanggung mungkin di antara kursi sempit, dan tiba di Bandung saat senja. Velodrom Rajawali menyambutnya seperti selalu—dinding bercat kapur yang belang, bau lem ban dan kayu tua, dan sore yang berdebu emas masuk lewat jendela tinggi. Tapi kali ini ada keheningan yang salah di dalamnya, jenis keheningan yang Arka kenal dari tiga puluh tahun yang dijaga Hasan sebelum anak-anak datang.
Doni tidak ada di velodrom. Arka menemukannya, akhirnya, di panti—di sudut halaman belakang, duduk di atas tembok rendah, menendang-nendang kerikil dengan kaki yang dulu begitu cepat membaca garis. Anak itu tidak menoleh ketika Arka mendekat dengan tongkatnya, langkah pincang yang ironisnya membuatnya terlihat seperti Hasan.
"Aku dengar kamu berhenti," kata Arka, duduk di tembok di sebelahnya dengan susah payah.
Doni mengangkat bahu, mata tetap di tanah. "Buat apa. Mereka benar. Aku anak panti. Velodrom mau dibongkar. Aku tidak akan pernah jadi apa-apa. Lebih baik berhenti sekarang sebelum aku kelihatan lebih bodoh."
Arka diam beberapa saat. Lalu ia mengulurkan kakinya yang dibalut. "Kamu tahu kenapa kakiku begini?"
Doni melirik, lalu cepat memalingkan muka. "Bu Ningsih bilang kamu jatuh."
"Aku jatuh karena aku bodoh," kata Arka. "Aku marah, aku terburu-buru, aku tidak menunggu, dan aku menghancurkan lututku sendiri di pemusatan paling penting dalam hidupku. Aku, yang katanya berbakat. Aku, yang lolos seleksi nasional. Aku jatuh." Ia membiarkan kata-katanya menggantung. "Kamu tahu berapa kali aku jatuh sebelum ini? Aku tidak bisa menghitungnya. Hari pertama di velodrom aku hampir terlempar ke pagar. Minggu pertama aku jatuh dari banking berkali-kali sampai lebam seluruh badan. Aku ikut keirin pertamaku dan meledak sebelum garis seperti orang bodoh. Aku gagal handsling sampai retak hubunganku dengan Mei. Aku finis keempat di final seleksi—keempat, bukan menang. Dan sekarang aku duduk di sini dengan kaki yang mungkin tidak akan pernah sama lagi."
Doni menatapnya sekarang, kebingungan di matanya. "Kenapa kamu cerita itu? Itu bukan cerita yang harusnya membuatku mau lanjut."
"Karena itu satu-satunya cerita yang jujur," kata Arka. "Semua orang ingin cerita anak panti yang menang dan jadi juara dan membuktikan semua orang salah. Tapi itu bohong. Aku belum menang apa-apa. Aku belum membuktikan apa-apa. Yang aku punya cuma ini: setiap kali aku jatuh, aku bangun lagi. Bukan karena aku yakin akan jadi juara. Karena tidak bangun berarti membiarkan orang yang bilang aku tidak punya masa depan jadi benar. Dan aku terlalu keras kepala untuk membiarkan mereka benar."
Ia menatap Doni, anak jangkung kurus dengan mata yang dulu menghitung lengkung banking seperti membaca peta. "Mereka bilang kamu tidak punya masa depan karena kamu anak panti. Aku berdiri di sini—pincang, gagal, jatuh berkali-kali—sebagai bukti bahwa mereka salah. Bukan karena aku menang. Karena aku masih di sini. Aku masih melaju. Dan suatu hari, kalau kamu tidak berhenti, kamu akan jadi bukti untuk anak panti berikutnya. Itu yang sebenarnya kita lakukan di velodrom itu, Don. Kita bukan mengejar medali. Kita membuat garis yang tidak putus—supaya anak setelah kamu punya seseorang untuk ditunjuk dan berkata, dia bisa, jadi aku juga bisa."
Doni menunduk lagi, tapi kali ini bukan untuk menendang kerikil. Bahunya bergetar sedikit. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berkata, "Kalau kamu sembuh. Kamu akan ajari aku lagi?"
"Aku akan ajari kamu," kata Arka, "sampai kamu lebih cepat dariku. Sampai kamu yang membaca punggungku di lintasan dan aku yang tidak bisa mengejar. Itu yang seharusnya. Garis dibuat untuk bercabang."
Mereka kembali ke velodrom bersama saat malam turun—seorang pemuda dengan tongkat dan lutut terbalut, dan seorang anak jangkung yang hampir berhenti. Hasan menunggu di tengah lintasan, dan ketika ia melihat keduanya masuk, ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, dan menyalakan lampu sorot, dan untuk sesaat papan kayu tua itu bersinar seperti sesuatu yang masih layak diperjuangkan. Arka, menatap Doni yang berlari ke arah sepeda latihannya, menyadari bahwa ia tidak lagi hanya garis yang diperjuangkan orang lain. Ia kini garis yang memperjuangkan orang lain. Cederanya tidak mengubah itu. Mungkin justru memperkuatnya.